Bidadari Mencari Sayap Malah Mempertajam Perbedaan (Writing’s Discussion)

Waktu Baca: 4 menit

Sebelum memulai artikel ini, saya akan membuat disclaimer terlebih dahulu. Sebagai penulis, saya akan berbicara mengenai story telling saja. Saya tidak akan melebar ke mana-mana seperti membicarakan sinematografi dan akting misalnya. Mengapa saya tidak membicarakan hal itu? Sederhana jawabannya, karena saya bukan dan belum ahli di bidang itu. Karena itulah, saya menghindari topik di mana saya bukan ahlinya. Jika pun saya membicarakan kedua hal itu misalnya, semua masih berhubungan dengan pembahasan mengenai story telling.

Ketika mendengar ide premis Bidadari Mencari Sayap (selanjutnya kita sebut sebagai Bidadari), saya langsung tertarik. Idenya cukup menarik. Namun, jujur saja, ada keraguan dalam diri saya.

Benar saja, ketika selesai menyaksikan film ini, kekhawatiran saya terbukti. Menurut saya, latar dalam film ini terlalu artifisial dengan tema yang terlalu ‘megah’. Baiklah, saya akan menjelaskan apa yang saya maksud dengan artifisial dan ‘terlalu megah’ pada paragraf berikutnya.

Artifisial bisa dikatakan sebagai imitasi atau palsu. Meski bersifat imitasi, artifisial dibuat semirip mungkin dengan aslinya hingga kita tidak sadar ini imitasi. Latar film tentu saja artifisial alias “dibuat-buat”. Sekali lagi, meski dibuat-buat, artifisial harus seperti asli. Kenyataannya, artifisial dalam Bidadari tidak bisa meyakinkan kita sebagai penonton.

Rasanya sulit percaya dua kelompok ras dan budaya paling eksklusif di Indonesia bisa sampai terlibat dalam mahligai pernikahan. Secara pribadi, sebagai orang Tionghoa (yang sebenarnya berakar Jawa dan tidak lagi asli), sulit mempercayai akan terjadi pernikahan antara orang Tionghoa dan Arab. Orang Tionghoa sangat menjaga kultur dan tradisi mereka. Jangankan menikah dengan orang Arab, menikah dengan orang Jawa atau Sunda saja yang misalnya memiliki kedekatan budaya masih sulit. Setelah rapat keluarga yang cukup seru, baru biasanya perkawinan lintas budaya itu terjadi dengan berbagai syarat dan pertimbangan. Bukan karena orang Tionghoa rasis, tapi karena mereka memang terbiasa berhati-hati dengan ‘orang luar’ akibat warisan sejarah dan sosial yang cukup pelik.

Demikian juga dengan orang Arab. Berdasar pengetahuan sempit saya dan hasil ngobrol sana-sini bersama teman teman keturunan, saya berpersepsi bahwa mereka juga sangat menjaga tradisi. Sebagai contoh, Sakdiyah Ma’ruf, komika keturunan Arab pernah mengatakan bahwa keluarganya sangat konservatif; tidak berbeda dengan keluarga Arab lainnya. Mereka sangat menjaga tradisi dan cukup waspada dengan ‘orang luar’. Dalam artikelnya di Huffington Post (2014), Sakdiyah Ma’ruf bahkan mengatakan orang tuanya masih sepupu jauh. Hal ini terjadi karena menurutnya keturunan Arab di Indonesia sangat menjaga tradisi. Saya sendiri tak mau bicara terlalu jauh mengenai tradisi keluarga Arab karena saya tidak paham betul. Hanya dari pengalaman pribadi yang kemudian saya crosscheck dengan bahan bahan bacaan saya. Kesimpulan yang ingin saya tarik cuma satu, dari pengetahuan umum saja kita tahu bahwa masyarakat Tionghoa dan Arab adalah dua komunitas dengan tradisi kuat dan ‘berbeda’, rasa-rasanya melihat mereka dalam satu pernikahan tidak realistis. Mungkin memang ada pasangan ini. Tapi berapa jumlahnya? Apakah cukup banyak untuk mewakili masalah yang umum dialami orang Indonesia?

Karena latar ceritanya terasa dibuat-buat, maka konflik dari Bidadaripun terasa bak buatan. Menurut saya, cerita bisa disebut baik karena realistis dan ‘dekat’ dengan penikmatnya. Artinya, seharusnya masalah dalam film itu juga seharusnya menjadi pengalaman dari penikmat suatu cerita meski tak persis sama. Lagi-lagi, bagaimana bisa merasa relate kalau latarnya sudah terasa tidak realistis? Aria Kusumadewa terkenal dengan keahliannya meramu satire. Dalam film Bidadari, sayangnya, ia membuat latar yang tidak efektif. Mau komikal, tapi dia menggarapnya secara serius. Mau dianggap serius, kok rasanya wagu. Ia mau membicarakan perbedaan yang dalam realitasnya perbedaan itu tidak nyata meski ‘agak dekat’ dengan realitas.

Kita beralih ke kritik saya berikutnya, film ini ‘terlalu megah’. Ibarat mahasiswa menulis skripsi, tema yang diambil terlalu luas dan sebenarnya si mahasiswa belum punya metodologi yang pas. Aria sebenarnya tak perlu malu untuk mengambil tema kecil dulu. Pernikahan beda ras (dalam film ‘katanya’ agamanya sama) terlalu besar dan terlalu kompleks untuk sebuah film, apalagi tidak dibarengi dengan riset yang kuat. Ke’megah’an tema yang dibawa Aria membuat film ini terasa ambisius namun berakhir wagu, bahkan yang terparah malah membuat film ini makin menyuburkan perbedaan dan memancing perselisihan.

Kok bisa?

Saya bahas satu hal dulu, karakterisasi. Sebagai orang Tionghoa Jawa, saya menilai tokoh paling menyebalkan dalam film ini adalah Reza. Saya menilai Reza sebagai orang gak jelas. Ia dengan santainya mencuci piring dengan tanah dan ketika ditanya oleh istrinya mengapa ia melakukan hal itu, Reza tidak bisa menjelaskan dan malah ngotot merasa diintimidasi istrinya. Ia juga dengan sewot tanpa ba-bi-bu langsung memaki-maki istrinya hanya karena ada sosok anjing misterius di depan rumah. Reza lalu melarang istrinya bekerja, padahal dia sendiri kerja dengan serampangan. Ketika ia marah-marah bahkan sampai membanting laptop dan PS4, saya langsung bergumam: ‘orang kayak gini kok dinikahi’.

Apakah Reza tokoh komikal? Menurut saya tidak, orang seperti Reza pernah saya lihat dalam kehidupan nyata. Saya seringkali sebal dengan mereka. Bukan karena benci. Sebaliknya, karena mereka berbeda dengan saya dan saya tidak bisa memahaminya, maka dari itulah saya jadi sebal. Maka dari itulah, setelah saya menonton film Bidadari, saya berharap bisa memahami mereka dengan segala tingkah lakunya. Sampai akhir film, saya tidak diberi jawaban mengapa mereka berlaku begitu. Padahal jika saja Aria bisa mengajak saya berdiskusi mengapa mereka berlaku seperti itu, bisa jadi itu membantu saya dan banyak orang lainnya untuk mengurangi kecurigaan serta rasa permusuhan antarkelompok berbeda di Indonesia. Namun, Aria hanya mengakhiri filmnya dengan seolah berkata bahwa ‘emang mereka begitu’. Bagi penonton awam, film ini malah seolah melegitimasi kebencian pada kelompok berbeda.

Sampai di sini, baru dua aspek kritik saya yang saya bahas: terlalu artifisal dan terlalu megah. Sebenarnya, masih banyak hal lain yang bisa digali (baca: dikritik) dari film ini terutama dari segi cerita. Kalau dilanjutkan, mungkin bisa sampai sepuluh ribu kata. Oleh karena itulah, saya berhenti di dua hal untuk didiskusikan teman-teman dulu.

Penutup…

Film ini terlalu artifisial, artinya, saya melihat banyak latar menarik yang bisa digunakan Aria Kusumadewa untuk membahas perbedaan, tak perlulah lewat pernikahan. Misalnya saja, Aria bisa membahas dari sudut pandang orang ‘pacaran’. Bagi saya, ‘pacaran’ beda ras seekstrim Arab dan Tionghoa masih mungkin terjadi. Kalau pernikahan? Butuh banyak usaha bagi Aria untuk meyakinkan kita bahwa pernikahan itu ada. Karena latarnya sudah keliatan ‘palsu’, maka konflik yang terjadi selanjutnya pun terasa tidak nyata. Rasa-rasanya, pasangan Reza dan Angela hanya menikah agar konflik terjadi sehingga film bisa eksis. Dari awal pun terlihat kalau dua orang ini terlalu tidak kompatibel.

Kedua, ibarat skripsi, Aria ingin bicara banyak hal dan malah jadi salah kaprah. Skripsi yang baik adalah skripsi yang fokus. Begitu pun juga film yang baik memiliki satu tema terfokus dan mudah ditangkap oleh penikmat tanpa harus bersifat menggurui. Aria ibarat mendamaikan dua orang bermusuhan dan mereka berdua dipaksa langsung menikah. Aria terlalu sombong jika menganggap masyarakat kita yang sudah sangat terpecah bisa langsung menyatu bak saudara sekandung setelah menonton film ini. Menurut saya, untuk momen ini, Aria seharusnya cukup berfokus untuk membantu kelompok masyarakat memahami sedikit kelompok yang berbeda dengan mereka dan mengurangi kesalahpahaman. Itu saja cukup. Ketika Aria mencoba berbicara terlalu banyak pada topik yang tidak ia pahami, ia malah berakhir memperuncing perbedaan itu.

Lalu, adakah sisi positif dari cerita film ini? Bagi saya, setidaknya kita harus menghargai usaha Aria, Deddy Mizwar dan anaknya, Senandung Nacita dalam membahas masalah perbedaan berbasis SARA di Indonesia.

Ardi
Jurnalis, Penulis dan Foodiez. Menulis dua novel di Storial, "Santiran" dan "Di Rawa Peteng". Suka berdiskusi asal tidak emosi

Similar Articles

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertisment

Instagram

Most Popular