KENAPA WARKOP DKI REBORN TIGA DAN EMPAT GAK LUCU? (WRITING’S DISSCUSSION)

Waktu Baca: 3 menit 

courtesey : Falcon Pictures

Pertama tama, harus dijelaskan bahwa kolom ini bukanlah kolom kritik. Sebaliknya, kolom ini berfungsi untuk memantik diskusi mengenai creative writing. Saya berharap, para pembacaa kolom ini belajar hal baru mengenai creative writing. Tentu saja, harapan lebih besar saya harapkan pada pembaca kolom ini, yang saya harap aktif berkomentar di kolom ini. Pro kontra saya dukung semua. Tujuannya supaya kita semua semakin mengasah skill dalam creative writing.

Pada kolom ini, saya akan membahas Warkop Reborn 3 dan 4. Sebuah film ‘mewah’ dengan taburan bintang. Akting pemainnya sangat bagus. Dono, Kasino dan Indro seolah hidup kembali. Indro..tentu saja..masih hidup. But anyway, Randy Danistha boleh dibilang berhasil membuat Indro terlihat muda kembali. Aktingnya di luar ekspetasi. Bagus banget.

Tapi jumlah penonton Reborn 3 tak sebanyak Jangkrik Boss Part. 1. Sebagai perbandingan jumlah penonton Reborn 3 ‘hanya’ di angka 800 ribuan berdasar database filmindonesia.or.id Sementara itu, Jangkrik Boss Part.1 bisa menembus angka 6,8 juta orang. Artinya, ada gap besar antara Reborn 3 dan prekuelnya. Pertanyaannya, kenapa orang tak lagi antusias untuk menonton Reborn 3?

Beberapa rekan mengatakan bahwa Reborn 3 ‘tidak lucu’. Benarkah begitu? Saya juga tidak tahu. Sebab, saya menyukai Jangkrik Boss Part. 1 dan Part. 2. Di tengah hujan film komedi cerdas, saya butuh film komedi ekspresif yang tak terpaku pada logika. Jangkrik Boss menjawab kebutuhan saya. Reborn 3 juga sebenarnya mengikuti formula Jangkrik Boss. Tapi kenapa saya merasa efeknya tidak selucu Jangkrik Boss? Apa ada yang salah dengan Reborn 3?

Sebelum saya lanjut membahas Reborn 3. Saya ingin berbagi pengalaman. Saya memutuskan untuk memberi kesempatan pada Reborn 4. Saya pikir, tidak ada salahnya memberi kesempatan kedua bagi trio Warkop DKI baru. Nyatanya, Reborn 3 dan 4 adalah film yang sejenis. Keduanya gagal mengundang tawa. Apa yang salah?

Saya ingat salah satu teori yang diucapkan oleh Ernest Prakasa dalam podcastnya. Dalam podcastnya, ia mengatakan bahwa humor adalah seni pembelokkan ekspetasi. Misalnya saja Ernest mengambil contoh.

 

Set Up satu     : Saya bersyukur menikah dengan istri saya..

Ekspetasi         : Dia adalah wanita yang sangat supportif dan pengertian…

Humor             : Tanpa istri saya…hidup saya pasti lebih bahagia!

 

Nah, di sinilah masalah muncul. Reborn 3 dan 4 tidak memiliki set up. Ada Set Up, tapi kita semua sudah tahu kemana arah set up itu. Kita tidak lagi tertawa. Kita sudah tahu kalau Kasino akan selalu bersikap ‘kampungan’ tiap melihat cewek cantik. Kita sudah tahu Indro akan menimpali dan mengatai Kasino. Kesegaran hadir justru dari karakter Dono yang tingkahnya agak unpredictable.

Meski begitu, jujur saja, humor yang dibawakan di Reborn 3 dan 4 sudah usang. Kita sudah pernah melihat semua humor itu sebelumnya. Kita tidak diberi sesuatu yang baru. Mengutip artikel dari Tirto.Id yang ditulis oleh Faisal Irfani, humor Warkop di masa lalu memang masuk standar humor bapak bapak di masa sekarang. Garing..saking garingnya..jadinya gak lucu. Sialnya, Reborn 3 dan 4 meng-copy mentah mentah humor itu dan menaruhnya di film modern. Hasilnya, kita merasa bosan dan film terasa tak lucu lagi.

Kenapa Jangkrik Boss berhasil? Menurut saya, kuncinya adalah keputusan Anggy Umbara untuk bersenang senang dengan materi yang ada. Anggy itu penulis edan. Humornya absurd. Ia keluarkan ke-absurd-annya di Jangkrik Boss. Banyak hal hal gila dan absurd dari Jangkrik Boss. Humornya tidak untuk semua orang..tapi humor itu bekerja untuk banyak orang termasuk saya.

Reborn 3 dan 4 ingin meniru sentuhan Umbara, tapi ia gagal mendapatkan ‘jiwa’nya. Absurditas bukan karakter seorang Rako Prijanto. Ia mencoba membuat semuanya lebih rapi. Tapi jujur saja, ‘berantakan’ adalah hal yang paling kita inginkan ada di Reborn 3 dan 4. Yah, setidaknya saya mengharapkan hal itu.

Lalu bagaimana treatment yang tepat untuk Reborn 3 dan 4, apa yang harus diperbaiki?

Jika saya menjadi produser Reborn selanjutnya, saya akan mencari sutradara yang tahu betul trend ‘80an. Tahun 80an adalah era dimana Warkop DKI berjaya, kenapa kita tidak mengembalikan mereka ke masa itu? Saya kira akan menarik melihat Dono, Kasino dan Indro kembali ke era ‘80an.

Lalu, saya ingin karakter karakter itu menjadi lebih kompleks. Misalnya saja begini, Kasino. Mengapa Kasino sok pintar, sombong dan terlalu lebay dengan perempuan? Hal ini bisa digali lebih dalam; untuk memberikan efek lucu dan memancing simpati ke penonton. Sudah saatnya kita berhenti melihat Kasino sebagai badut. Kita harus melihatnya sebagai manusia.

Saya juga tidak setuju jika kisah Reborn harus berakhir di luar negeri dengan landscape mewah yang terlihat indah di sektor sinematografi. Lets back to the root! Kisah Warkop seringkali hanya berputar di kota Jakarta saja. Bahkan ada seri Warkop saat bersama Nanu yang settingnya cuma di sebuah rumah kos. Film berjudul Mana Tahaaan… itu belakangan mendapatkan 400 ribu penonton! Angka yang luar biasa di zaman itu.

Dono, Kasino dan Indro tak perlu digarap ‘berlebihan’ dan kelewat rapi, kembali ke awal menurut saya jauh lebih apik ketimbang mencoba membuat mereka tampil bak steak mahal di rumah makan mewah. Saya juga merekomendasikan agar Warkop mulai meninggalkan guyonan seksis dan lebih baik menjadi sebuah film satire dan absurd yang bergizi. Nah, bagaimana menurut kalian?

 

Ardi
Jurnalis, Penulis dan Foodiez. Menulis dua novel di Storial, "Santiran" dan "Di Rawa Peteng". Suka berdiskusi asal tidak emosi

Similar Articles

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertisment

Instagram

Most Popular