Berkenalan dengan Boby Lamanepa, penjaga Gunung Lewotobi

Waktu Baca: 5 menitPada akhir bulan November 2020 lalu, ketika publik Indonesia sedang membahas erupsi Gunung Merapi dan Gunung Semeru,  ternyata Gunung Lewotolok juga erupsi. Lokasi gunung yang berketinggian 1.423 mdpl ini ada di utara Pulau Lembata, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur.

Redaksi Pakbob.ID mendapat kesempatan wawancara daring dengan Kak Boby, salah satu petugas Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) yang bertugas di Lewotolok saat erupsi.
FYI, nama PakBob.ID tidak ada kaitannya dengan Kak Boby si penjaga gunung, lho. Hanya kebetulan namanya sama.

Pria berusia 28 tahun yang memiliki nama lengkap Anselmus Bobyson Lamanepa, adalah satu dari dua petugas yang berjaga di PGA Lewotolok saat erupsi besar antara 27-29 November 2020. Pria berusia 32 tahun ini merupakan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang bertugas di lingkungan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Manusia.

Berkenalan dengan Boby Lamanepa, penjaga Gunung Lewotolok
Berkenalan dengan Boby Lamanepa, penjaga Gunung Lewotolok

Berikut cuplikan wawancara redaksi PakBob.ID dengan kak Boby.

Kapan Kak Boby mulai bertugas di pos Pengamatan Gunung Api ? 

Sejak bulan April 2018. Pertama kali tugas saya di Pos PGA Gunung Lewotobi Laki-laki. Lokasi di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur.

Bagaimana ceritanya Kak Boby bisa bertugas di situ ? Apakah karena pilihan, atau penugasan dari kementerian ? 

Jadi awalnya memang saya mendaftar pada formasi Pengamat Gunung Api di KESDM, Badan Geologi, PVMBG. Kebetulan saat itu yang dibutuhkan memang untuk gunung api di Sumatera, NTT, Sulawesi dan Maluku Utara. Saya memilih Lewotobi, NTT, sebagai salah satu formasi yang dibuka saat itu. Kebetulan kampung halaman saya di Adonara berjarak kurang lebih 80KM. Itu pun harus nyebrang laut dari Larantuka ke Adonara. Tetapi masih kabupaten sih dengan Lewotobi, Kabupaten Flores Timur, NTT.

Apa dulu waktu kecil punya memori / perasaan tertentu dengan gunung api, kok mau jadi petugas pengamat gunung api ? 

Kalo waktu kecil sih nggak ada, karena saya lahir dan besar di Kupang, Pulau Timor yang tidak ada gunung apinya. Ketertarikan dengan gunungapi malah datang saat saya ada di Jogja. Gunung Merapi tentunya. Sejak awal 2007 di Jogja, saya mulai tertarik dengan Merapi. Lalu saya mengalami langsung erupsi Merapi tahun 2010 dan menjadi relawan saat itu. Sejak erupsi Merapi 2010 saya jadi tahu kalo ada instansi yang namanya PVMBG dan petugas pengamat gunung api. Bisa dibilang Merapi itu cinta pertama saya kepada gunung api. (halah.😃)

Menurut kak Boby, apa sih yang asyik / menantang dari kegiatan mengamati aktivitas gunung api ?

Asiknya yaitu saya jadi tau, ternyata di Indonesia ini banyak banget gunung api. Meskipun saya PGA Lewotobi, tapi saya sering mengikuti perkembangan gunung api lain yang ada di Indonesia. Itu sangat mengasyikan buat saya. Yang menantang tentunya saat kita ke lapangan untuk memperbaiki atau mengoptimalkan alat pemantauan kita. Apalagi pada saat gunung sedang krisis,  itu sangat menantang. Memacu adrenalin.

Apa sih jobdesk / tugas harian kak Boby selama ada di pos PGA?

Keseharian PGA adalah mengamati aktivitas gunung api baik secara visual dan instrumentatif, lalu membuat laporan harian ke atasan di Bandung dan aplikasi Magma Indonesia, aplikasi kebencanaan geologi produk dari PVMBG sendiri.

Terus kalo kak Boby naik ke puncak gunung buat cek kondisi alat pemantauan begitu ada jadwalnya nggak?

Ohh iya, kalo itu ada jadwal rutin setiap tahun. Jadi di lewotobi ada 4 stasiun seismik. Setiap tahunnya kita jadwalkan untuk pengecekan peralatan. Karena medan yg berat minimal setiap tahunnya 1 kali pengecekan untuk 1 stasiun.

Wow… Emangnya jalur terberat dari pos PGA ke stasiun seismik itu perjalanan brp jam, kak ? Apa nggak seperti Gunung Merapi yang beberapa jam pendakian nyampe ya ?

Jalur terberat dari pos PGA Lewotobi Laki-laki ke stasiun seismik puncak, sekitar 6 jam perjalanan sudah sama istirahat-istirahat.  Yang memberatkan itu karena sudah menanjak sejak awal dan tidak ada jalur pendakian permanen. Tiap kali kita naik pasti ditemani warga lokal sebagai pemandu jalan dan juga porter. Saya sih belum pernah mendaki Gunung Merapi, tapi mungkin yang lebih memberatkan itu karena tidak ada jalur pendakian permanen di Lewotobi. Jadi tiap kali kita mendaki harus babat ilalang buka jalan lagi.

Selama di pos PGA, ada aktivitas yg dirasa membosankan, nggak?

Aktivitas yang membosankan? Untuk saya pribadi sebagai manusia biasa yang baru bertugas 2 tahun lebih ini, tentunya rutinitas sehari-hari di pos pantau apalagi gunung normal ini menjenuhkan dan membosankan. Apalagi kita jauh dari keramaian atau tempat hiburan untuk refreshing. Tapi ya kembali lagi saya menyadari bahwa tugas dan tanggung jawab sebagai PGA ini merupakan sebuah misi kemanusiaan tidak hanya sebuah profesi yg saya jalani untuk mendapatkan penghasilan. Dan yang pasti saya selalu mengambil waktu untuk refreshing jika mulai terasa jenuh dengan rutinitas.

Nah, di tempat pos yang sepi nan sunyi begitu, refreshing apa yang kak Boby lakukan?

Kalo ada uang ya, saya main ke kota. Kalo ga ada uang saya lebih memilih main ke pantai-pantai yang indah di kaki gunung Lewotobi atau ya di kos aja me time. Jadi memang betul-betul lepas dari kerjaan saat bisa ambil libur atau off piket. Di pos PGA tidak ada mess petugas. Hanya ada kamar untuk istirahat. Tapi setahu saya sekarang setiap pos dalam perencanaan renovasi dan ada messnya. Beberapa sudah selesai renovasi. Dan mess pun setahu saya (semoga ga salah) bukan untuk stay for good ya. Jarak dari pos PGA ke Kota Larantuka 1 jam. Kalau ke kota Maumere 1.5 jam. Kalo ke Kupang,  harus lewat kedua kota itu sebelum pesawat 45 menit.

Btw, bagaimana cerita sensasinya waktu nungguin Gunung Lewotolok kemarin ?

Nah kalo ini menjadi pengalaman pertama saya mengalami letusan sebagai petugas PGA. Sekaligus pengalaman luar biasa dan menantang.
Kami saat itu ada di Pos PGA untuk optimalisasi peralatan pantau di Gunung Lewotolok. Saat itu status Lewotolok Waspada sejak Oktober 2017. Sehari setelah kami optimalisasi peralatan di ketinggian kurang lebih 700mdpl, Jumat 27 November 2020, Lewotolok meletus kecil. Kemudian terjadi letusan lebih besar, Minggu, 29 November 2020.

Saya bersama tim dari Bandung saat itu ditugaskan untuk optimalisasi peralatan pantai gunungapi di Lewotolok dan Gunungapi Sirung di Alor. Setelah letusan 27 November 2020, tim dibagi 2, satu ke Sirung dan satunya tetap stand by di Lewotolok. Nah yang stand by di Lewotolok saalah satunya saya. Jadi saat itu saya dan 2 teman saya PGA Lewotolok harus stand by di Pos PGA Lewotolok.

Ya saat letusan besar terjadi kami hanya berdua di pos. Salah satu senior kami sedang di luar pos,  antri beli BBM.  Perasaan waktu itu kaget dan takut. Tapi ya sebagai garda terdepan mitigasi letusan gunung api,  perasaan itu harus bisa kita kalahkan. Kita harus membuat laporan singkat letusan dan laporan letusan gunung api untuk catatan Volcano Observatory Notice for Aviation (VONA), suatu catatan untuk keselamatan penerbangan supaya lalu lintas penerbangan bisa mengantisipasi sebaran abu vulkanik di ruang udara.

Risiko terburuknya apa sih Kak yang bakal terjadi, kalo di Pos PGA Lewotolok ketika jam-jam pertama erupsi ?

Kebetulan Pos PGA Lewotolok berada di luar kawasan rawan bencana. Waktu itu saat  Lewotolok berstatus Waspada, radius bahaya 2 kilometer dari puncak. Lalu status dinaikkan menjadi siaga dengan radius bahaya 4 kilometer. Pos PGA ada pada radius 6 kilometer. Jadi resiko terburuknya bisa dibilang tidak ada. Kita di Pos PGA hanya kebagian hujan abu dan pasir. Hanya saja, karena waktu itu pengalaman pertama mengalami letusan gunung api kita sempat khawatir juga. Saat itu juga atasan kami di Bandung turut menguatkan kami via telepon. Hehe.

Jadi atasan kak Boby memantau dari Bandung ? 

Betul, atasan kita langsung di kantor PVMBG di Bandung. Setiap aktivitas gunung yang teramati selalu kita laporkan ke atasan di Bandung.

Apa sih yang bikin bangga kak Boby dari pekerjaan sebagai petugas pengamat gunung api ?

Buat aku pribadi, hal yg paling membanggakan sebagai PGA adalah pekerjaan kita ini adalah misi kemanusiaan. Apapun itu, kemanusiaan diatas segalanya. Itu yang membanggakan buat saya.

 

=====

Saat ini Kak Boby sudah kembali bertugas di pos Pengamatan Gunung Api Lewotobi Laki-laki, Kabupaten Flores Timur.

Benny Pudyastanto
Peneliti lepas untuk isu kesehatan mental di sekolah, merangkap bapak asrama anak-anak SMA

Similar Articles

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertisment

Instagram

Most Popular