Bukan Miskin, Merasa Miskinlah Sumber Kejahatan

Waktu Baca: 4 menit

courtesey : Deddy Corbuzier #Closethedoor

            Penyanyi Nadin Amizah memancing kontroversi karena menyebut manusia akan lebih mudah jadi orang baik jika menjadi kaya. Ia menyebut orang yang miskin akan memiliki kebencian sehingga sulit menjadi orang baik.

            Pendapat Nadin ini bisa dengan mudah dibantah karena nyatanya banyak orang kaya terjerat kasus korupsi dan suap. Tidak usah mencari contoh jauh jauh karena kita memiliki kasus mantan Mensos Juliari Batubara dan juka Djoker alias Djoko Tjandra. Namun, secara logika, Nadin ini bener juga. Kok bisa? Lha iya, kalau kamu kaya kan memang harusnya kekhawatiran di hidupmu makin sedikit sehingga kesempatan untuk bersyukur dan menjadi baik itu terbuka luas. Kalau kamu itu miskin, kamu mudah sebal. Kamu sebal dengan pemerintah yang kamu anggap gak becus—misalnya—, kamu juga sebal karena perusahaanmu memberi gaji yang tidak manusiawi. Kamu sebal dengan banyaknya orang kaya yang pamer kehidupan mewah mereka di Instagram dan seterusnya.

Gara gara miskin, manusia memang bisa menjadi pahit sekali. Saya mau berbagi cerita sedikit. Cerita ini berasal dari pengalaman pribadi saya. Saya pernah dicurhatin teman yang bekerja di salah satu stasiun TV terkenal di bilangan Gatot Subroto yang katanya ‘Masa Kini banget’. Dia bilang gaji dia hanya di sekitaran empat juta kurang. Kelihatan gede banget? Ya, tapi waktu itu kos dekat kandang ayam dimana kamarnya kecil tanpa jendela tanpa AC saja sudah satu juta lebih di daerah itu. Kalau mau kos yang seperti ‘kamar pada umumnya’ minimal kita harus bayar dua juta lebih. Itu belum ngitung transportasi, makan dan kebutuhan dadakan. Akhirnya teman saya jadi sambat dan banyak korupsi waktu pada saat kerja. Quotes terkenalnya adalah: Ini kerja apa dikerjain?!

Tapi menjadi kaya ya bukan perkara gampang. Saya memiliki teman yang rajin bekerja. Kalau pagi dia lari pagi..siang dia berangkat kuliah..malam jualan jus sambil belajar untuk membayar biaya kuliahnya. Bapaknya minggat sehingga gak ada yang membayar biaya kuliahnya. Pekerja keras? Betul. Logikanya teman saya akan jadi orang sukses. Ternyata enggak..dia meninggal muda pas kuliah..terlalu capek..terlalu stress..dan akhirnya dia mati. Tapi..biarpun gak punya uang, teman saya ini gak jahat. Dia adalah salah satu teman saya yang bisa jadi pendengar yang baik. Ia juga suka berbagi cerita dan menyembunyikan kesusahan hidupnya. Jadi, dia gak punya duit..tapi dia gak jahat tuh.

Lha gimana sih Nadin Amizah? Ini ada orang gak punya tapi baik lho! Berarti teorinya si Nadin ini salah!

Gak juga. Teori Nadin itu bukannya salah. Menurut saya, teorinya Nadin itu kurang lengkap. Betul menjadi orang kaya membuat kita mudah berbuat baik karena logikanya beban hidup dan kekhawatiran hidup kita sudah jauh berkurang. Itu kan di teori. Katanya teori, padahal enggak juga.

Hari hari ini, orang paling stress adalah orang kaya. Perusahaan mereka terlanjur besar, karyawan banyak dengan beban utang tidak sedikit. Mendadak mereka tidak bisa beroperasi karena pandemi Korona. Mana bisa mereka bayangin setahun lalu kalau akan ada virus yang mematikan usaha mereka langsung tanpa tedeng aling aling. Salah satu curhat pengusaha dapat kita dengar dari konfrensi pers gabungan yang diadakan APINDO pada tanggal 18 Januari 2020. Salah satu anggota berkata begini: “Kita tidak bisa memikirkan peak season dan rencana jangka panjang lainnya. Kita sekarang hanya hidup untuk dua minggu ke depan..sudah itu saja.”

Yes, orang kaya gak tahu nasibnya sampai dua minggu ke depan! Sebabnya kebijakan PSBB dan PPKM berubah rubah terus dan mereka harus mencari strategi dan menyesuaikan dengan keadaan. Kalau mereka salah sedikit, tutuplah usaha mereka, mereka harus melakukan PHK yang sebenarnya gak gampang juga karena harus memberi pesangon. Kalau tidak ada pesangon mereka bisa menghadapi tuntutan hukum.

Emang enak jadi orang kaya!

Ya, tetap enak, karena daripada nangis di bawah pohon, orang kaya bisa nangis di villa di puncak, penthouse di Gatot Subroto atau tempat tempat mewah lainnya. He..he..he..

Sebenarnya orang kaya dan miskin ya punya kesulitan hidup masing masing. Koruptor koruptor itu mungkin awalnya juga dimulai dari sentilan dan tekanan orang di sekitarnya..Idih, menteri kok mobilnya cuma kek gitu…Bupati kok rumahnya gak ganti…Gubernur kok istrinya gak cantik..dan seterusnya. Mereka lalu ngerasa : “Wah, gak bisa kayak gini dong! Gue harus berubah!” Iya, berubahnya lewat korupsi. Kalau nggak ketangkep ya udah, kelihatan jadi orang baik dia. Dipenuhilah ramalan Neng Nadin. Kalau ketahuan? Ya udah, mari pak, pake rompi oranye, dijejer jejer sambil ngadep belakang pas Press Confrence KPK bak maling ayam or pemerkosa bocah or begal. Ya..sejak ketua KPK beralih ke Firli Bahruri memang tersangka koruptor sering dipermalukan. Mungkin ini salah satu taktik agar koruptor mikir mikir dua tiga kali buat korupsi.

Jadi, sebenarnya, jahat dan baik itu gak soal kaya dan miskin menurut saya. Kalau menurut saya, akar kejahatan itu merasa miskin. Kalau anda merasa hidup selalu kurang, selalu gak adil dan seterusnya, anda mungkin ngerasa di titik untuk berpikir: ‘kalau gue dijahatin ya boleh dong gue jahat balik.’ Orang dengan kondisi ekonomi pas pas an yang baik banyak, orang kaya yang gak bener juga banyak. Kesamaan ‘orang orang jahat’ itu sebenarnya satu: ‘merasa miskin’. Teman saya korupsi waktu dan kerja karena dia merasa miskin, menteri-gubernur-kepala daerah korupsi karena merasa miskin, dan begal juga merampok karena dia ‘merasa miskin’.

Kalau mau jujur, batas orang kaya dan orang miskin memangnya dimana? Banyak teori tapi gak ada yang pas juga. Kalau anda punya gaji lima juta sebulan, apakah anda miskin atau kaya? Gak tau juga kan? toh di desa lima juta itu banyak banget sementara kalau anda hidup di Gatsu kayak saya ya yang langsung ambles duit segitu dalam lima sepuluh hari kalau saya hidup normal: makan sehat, naik transportasi umum yang layak dan minum kopi pada waktunya.

Jadi kalau mau gak jahat bagaimana? Ya jangan merasa miskin..lebih baik merasa kaya..Don’t be like hard people.

Ardi
Jurnalis, Penulis dan Foodiez. Menulis dua novel di Storial, "Santiran" dan "Di Rawa Peteng". Suka berdiskusi asal tidak emosi

Similar Articles

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertisment

Instagram

Most Popular