Chauvinisme Almamater Kampus

Waktu Baca: 2 menit“Lo nggak se-almamater sama gue. Lo cuma lulusan kampus ga jelas. Lo nggak level sama gue !”

Hari ini di jagad Twitter sedang trending topic salah seorang alumnus Universitas Indonesia (UI) yang menghina orang lain hanya karena bukan sesama alumnus UI.

Sikap over proud, primordialisme dan chauvinisme terhadap identitas almamater sekolah adalah suatu hal yang menarik untuk dikaji, sekaligus menjijikkan untuk didengar. Orang terlalu bangganya dengan identitas almamater itu, gemar mengkorelasikan kesuksesan diri dengan asal sekolah, tetapi di saat yang sama menolak eksistensi sesama alumnus yang gagal dalam hidup, kriminal, atau bahkan kegagalan dalam diri sendiri. Lebih celaka lagi identitas almamater dijadikan alat ukur untuk menilai kualitas seseorang.

Pengalaman studi di SMA ataupun bangku kuliah bukanlah satu-satunya faktor kesuksesan seseorang.

Mengapa orang bisa menjadi over proud kepada almamaternya ?

Kita bisa mengupasnya dengan perspektif satu teori psikologi, yaitu Teori Kebutuhan versi Murray. Orang bertindak sesuatu karena didasari adanya kebutuhan-kebutuhan tertentu, antara lain kebutuhan rasa aman, kebutuhan untuk mempertontonkan sesuatu, kebutuhan untuk diakui, kebutuhan untuk menjalin relasi, dan kebutuhan untuk memiliki sesuatu. Bila kita memperhatikan orang yang over proud pada almamaternya, umumnya ia akan mengidentifikasi diri sebagai bagian dari alumni suatu SMA, atau alumni suatu kampus. Ia akan berusaha menunjukkan bahwa almamaternya adalah yang terbaik. Di saat yang sama, ia tidak pernah menunjukkan identitas sebagai bagian dari alumnus SMP atau SD tertentu.

Mengapa bisa demikian ? Karena ia tahu bahwa relasi dengan alumni SMA dan alumni kampus sangatlah menguntungkan. Misal, ada alumnus yang menjadi pejabat, kepala daerah, bos startup digital, pemilik perusahaan, dsb. Ia berusaha melekatkan diri satu identitas dengan orang-orang sukses tersebut. Dengan kata lain, ia ingin diakui sebagai orang yang sukses (meskipun realitanya belum suskes).

Untuk mengatakan suatu SMA atau kampus sebagai yang terbaik, pastilah ia perlu standar dan indikator untuk klaim tersebut. Kadang-kadang ia menggunakan kondisi orang lain sebagai indikator untuk mengatakan bahwa dirinya lebih baik dari orang lain. Padahal realitasnya, kesuksesan orang tidak bisa diukur dari tempat ia menempuh pendidikan.

Memang benar, bahwa sekolah termasuk privilege. Almamater sekolah elite adalah privilege tersendiri. Relasi dengan kakak-kakak alumni yang sudah sukses, adalah privilige juga. Tetapi nasib kita setelah selesai sekolah atau kuliah, sepenuhnya menjadi tanggung jawab diri kita.

Saya merasa geli melihat orang-orang yang overproud dengan almamaternya, seolah-olah dunia hanya sebatas lingkaran sekolahnya saja. Seolah bahwa belajar di sekolah tersebut merupakan satu-satunya jalan hidup untuk mencapai kesuksesan. Padahal tidak.

Sebut saja alumni kampus-kampus ternama di Indonesia : UGM, UI, ITB, IPB, ITS, Unair, dan sebagainya…. ada yang sungguh sukses menjadi orang baik, tetapi toh ada juga yang jadi maling atau koruptor. Tetap ada juga yang menjadi orang miskin, tetap ada juga yang menjadi orang yang biasa-biasa saja.

Mengutip pemikiran Super Blogger Donny Verdian, “orang yang masih terlalu bangga dengan almamater SMA atau kampusnya, berarti alur hidupnya berhenti di usia 17 atau 25 tahun. Dia tidak move on dari titik tersebut.” 

Semoga kita dijauhkan dari sikap overproud !

Benny Pudyastanto
Peneliti lepas untuk isu kesehatan mental di sekolah, merangkap bapak asrama anak-anak SMA

Similar Articles

Comments

  1. Bagus sekali tulisannya. Maturnuwun sudah berbagi. Artikel yg lalu “dilengkapi” dgn tulisan di super blogger. Jadinya, komplit pencerahannya.

    Hanya saja di alinea terakhir (di suoer blogger), hemat saya, msih ada yg ngganjal.

    Kesannya — spt yg selama dikesankan alumni — man 4 others hanya milik alumni. Pihak lain tak punya.

    Kedua, ketika kita melakukan man 4 others, itu melulu krn status sbg alumni, bukan karena fitrah kita sbg titah.

    Jika itu benar, mosok iya laku kemanusiaan/fitrah sbg titah bisa diringkes/diringkus dlm kotak yg bernama alumni?

  2. Tulisan bagus. Maturnuwun sudah berbagi “kesadaran”.

    Hanya saja di alinea terakhir, hemat saya, msih ada yg ngganjal.

    Kesannya — spt yg selama dikesankan alumni — man 4 others hanya milik alumni. Pihak lain tak punya.

    Kedua, ketika kita melakukan man 4 others, itu melulu krn status sbg alumni, bukan karena fitrah kita sbg titah.

    Jika itu benar, mosok iya laku kemanusiaan/fitrah sbg titah bisa diringkes/diringkus dlm kotak yg bernama alumni?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertisment

Instagram

Most Popular