Waktu Baca: 3 menit

Film Sobat Ambyar resmi dirilis beberapa waktu lalu. Antusiasme pun membuncah, banyak spoiler yang muncul di lini masa media masa. Maklum saja, film yang berdurasi 100 menit hanya tayang di Netflix. Semangat untuk mencari gratisan otomatis romantis bermunculan, kayak gak tahu saja kita sedang tinggal di mana. Jadi, banyaklah yang mencari bocoran film yang diproduseri oleh alm. Didi Kempot ini.

Solo menjadi latar belakang film ini dibuat, mungkin karena sebagai bentuk penghormatan juga kepada pakdhe Didi Kempot yang kebetulan berasal dari sana. Film ini tidak membicarakan bagaimana romantisme Solo di masa lalu, justru kebalikannya. Film ini memotret gaya hidup masa kini, kopi dan anak  muda menjadi nadi dalam ceritanya.

Dikisahkan ada seorang pemilik kedai kopi dengan nama Jatmiko, sangat njawani sekali namanya. Ia membuka usaha waralaba kopi bersama sahabatnya, Kopet. Padahal kalau dalam bahasa Jawa, kopet itu memiliki arti, ah sudahlah. Lupakan saja, mungkin juga ini hanya gimmick kok.

Jatmiko mengalami frustrasi karena kedai kopinya tidak ada pembelinya sama sekali, ia lantas berkeinginan untuk menutupnya. Karena tidak cuan, lebih banyak membuang uang untuk biaya operasional saja. Padahal kebutuhan lain semakin meningkat. Besar pasak daripada tiang. Kopet menolak keras gagasan sahabatnya itu. Pokoknya mereka tetap harus berjuang!

Di tengah konflik yang sedang memanas, datanglah Saras. Seorang perempuan yang dicitrakan sebagai perempuan kekinian dan tentunya menawan. Sudah bisa ditebak bahwa Jatmiko menaruh hati kepadanya, maklum saja selama ini dia jomlo. Ditambah sikapnya yang pemalu. Kopet dan Anjani (adik Jatmiko) berusaha memaksa Jatmiko untuk berani berkenalan dengan Saras. Dari sinilah drama percintaan itu dimulai.

Saras tampaknya benar-benar membuat Jatmiko gandrung kepadanya. Potongan scene-scene yang ditampilkan sangat membuat baper yang melihat. Bagaimana ada perasaan yang ngganjel di hati Jatmiko kepada Saras, perempuan yang baru saja dikenalnya.

Kepiawaian Jatmiko dalam meracik kopi menjadikan keduanya semakin dekat. Jatmiko kemudian menjadi seorang pria yang bucinnya setengah mati. Semuanya pokoknya untuk Saras, bahkan membohongi keluarga dan sahabatnya pun dilakukan. Cinta butalah pokoknya, hanya ada Saras di dalam hatinya. Yang lain ngontrak! Konflik lalu bermunculan sebagai bumbu dalam film ini.

Lalu apa yang bisa dipetik dari cerita film Sobat Ambyar? Tidak dapat dipungkiri bahwa tema cinta akan selalu menjadi mudah menyatu dengan pemirsa atau penikmat film di Indonesia. Sudah pasti filmnya akan mengaduk-aduk perasaan tanpa kita semua perlu berpikir keras.

Bagi saya, film Sobat Ambyar bukan hanya sekadar film. Tetapi lebih kepada media refleksi, bagaimana saya juga mengalami patah hati beberapa waktu lalu. Saat sedang berjuang lantas dia menghilang dan bilang putus. Kan mangkel! Dari dalam film ini kita bisa melihat bahwa ada pergeseran makna dari kata cinta.

Film ini berusaha memotret bagaimana pola percintaan di anak muda zaman ini terjadi, Jatmiko dan Saras adalah manifestasinya. Saras digambarkan sebagai seorang perempuan yang cantik namun lihai dalam melakukan taktik PHP dan ghosting. Sedangkan Jatmiko adalah bucin level dewa. Bermodal dengan tubuh dan parasnya yang cantik, ia memanfaatkan Jatmiko dalam menuntaskan tujuannya, merampungkan skripsi. Pola ghosting ini sudah seringlah bersliweran di media sosial kita. Tentu pelakunya bukan hanya dari kaum hawa saja.

Ikatan cinta bukan lagi didasarkan atas asas saling melengkapi namun lebih kepada benefit apa yang bisa diperoleh. Ghosting bisa saja merupakan bentuk evolusi dari menolak secara halus, terus kabur gitu aja tanpa kabar. Bisa juga ghosting berfungsi sebagai riset awal kepada calon pasangan, kalau tidak sesuai kriteria ya tingggal saja. Ngapain juga dilanjutin.

Tak hanya sampai situ saja Saras dalam mengajarkan tutorial percintaan masa kini. Ia juga membawa perspektif lainnya, bahwa hubungan percintaan itu tak selamanya harus romantis tapi yang penting adalah realistis. Camkan itu sodara sekalian.

Ini pulalah yang saya alami, eh maskud saya Jatmiko. Setelah menghilang dengan alasan pergi ke Surabaya. Saras meninggalkan Jatmiko dengan harapan yang masih tersisa di Solo. Sudah bisa diterka kelanjutannya, Jatmiko hanyalah semacam ampas, Sarah memilih laki-laki yang mapan dan mengendarai Mini Chopper, beda dengan Jatmiko hanya menggunakan ojol.

Tampak nyata sekali bahwa jurang si miskin dan si kaya kembali dikuatkan. Tapi memang ada benarnya juga sih. Kenapa dalam menjalani hubungan asmara juga penting memperhitungkan masalah materi. Mosok iya setelah menikah mau menjadi beban orang tua kita? Apa gak malu? Percintaan itu ya tetep butuh cuan dong ya.

Dalam tahapan ini saya sepakat bahwa cinta memang harus realistis tapi bukan berarti hiperbolis. Misalkan saja pasangan kita hanya punya gaji standar UMR Jogja, terus kalian minta rumah di jalan Palagan atau Kaliurang. Belum lagi minta skin care yang harganya kadang kala tak masuk akal. Percintaan itu haruslah komunikatif dan adaptif bukanlah manipulative.

Film Sobat Ambyar juga tak melulu menampikan air mata, mendekati bagian akhir, Jatmiko digambarkan sedang berusaha move on dari Saras. Inilah yang patut kita teladani, termasuk saya. Kata orang Jawa, sing uwis ya uwis. Memnag benar hati kita remuk dan hancur tetapi apakah kita tidak mau bangkit? Kadangkala dengan menemui kepahitan inilah akan menyadarkan bahwa selama ini kurang berani menghargai diri kita sendiri. Bersumber dari hubungan manipulating itulah, potensi kita menjadi terhambat dan dibutakan oleh hubungan percintaan yang toxic.

Ada baiknya kita juga perlu berterima kasih kepada mantan atau yang pernah meng-ghosting-in kita. Berkat mereklah hidup kita lebih berwarna. Kedatangan mereka pulalah yang membuat kita bisa memiliki titik balik dalam kehidupan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Itu juga sih kalau kalian mau bangkit dan menjadi lebih baik.  Patah hati memang mengajarkan kita untuk menangis dan sedih sejadi-jadinya. Ingatlah pula, patah hati juga mengajarkan untuk bangkit sekuat-kuatnya dari masa lalu. Tepat seperti apa yang dikatakan pakdhe Didi Kempot, patah hati ya dijogeti saja. Bukan begitu Sobat Ambyar. (*)

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here