Waktu Baca: 3 menit

Pandemi korona mengajarkan kita semua untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Lalu bagaimana caranya? Jika kita tergolong manusia yang tidak hobi untuk sambat dan rasan-rasan apalagi maido, maka patutlah untuk mengembangkan diri.

Korona bisa menjadi sarana untuk belajar. Ya maklum saja kedatangan korona yang tiba-tiba membuat semuanya berantakan. Tak terkecuali juga sektor keuangan, khususnya pendapatan.

Semuanya babak belur dilibas oleh virus kecil imut nan mematikan ini. Ketika semua orang sedang menyambut tahun baru, virus ini membuyarkan semuanya.

Kegiatan perekonomian menjadi lumpuh seketika. Defisit dialami oleh beberapa negara, termasuk juga negeri ini. Porak porandanya ekonomi membuat masyarakat menjadi linglung, harus bertahan hidup dengan apa?

Ancaman PHK mulai dijalankan, pengurangan gaji, hingga bahkan ada yang dirumahkan sementara. Mencekam! Persis rasanya saat ketemu pertama kali dengan calon mertua yang galaknya minta ampun.

Pemerintah pun bergerak cepat, bantuan diberikan, kebijakan lockdown ala-ala dan setengah hati mulai dijalankan. Tentunya hasilnya masih bisa kita rasakan hingga saat ini, kasus korona masih melonjak. Masyarakat pun “dipaksa” berkenalan dengan istilah work from home. Bekerja dilakukan dari rumah, tentu rumah sendiri. Bukannya rumah tetangga atau malah mantanmu.

Kita semua tahu, bahwa masyarakat di negeri ini tidak tahan dengan yang namanya kegabutan. Mengingat pendapatan juga semakin merosot, dibutuhkan sebuah strategi bertahan hidup untuk menambal pendapatan atau bahkan syukur-syukur meningkatkan pendapatan. Itulah harapannya.

Secercah pengharapan itu akhirnya muncul, ia bernama investasi. Sebuah kata yang akhir-akhir ini muncul sebagai penyelamat pendapatan di kala korona. Semua gegap gempita menyambutnya. Media sosial pun ramai dengan perbincangan investasi, terutama saham.

Memang orang-orang di negeri ini sangat gercep kalau dengar kata cuan dan kekayaan. Mereka kemudian mencurahkan perhatiannya ke saham. Dan dalam sekejap saham menjadi selebgram dan kondang di Youtube. Gak percaya? Simak aja deh, buanyaak banget tutorialnya.

Saya juga tak ingin ketinggalan kereta, makanya ikutlah dalam meramaikan investasi saham. Sebagai seseorang dengan standar gaji di bawah UMR Jogja saya juga ingin mendapatkan penghidupan yang lebih baik.

Bergabung dengan WAG (WhatsApp Grup) saham sudah saya lakoni, belajar manual juga sudah, walau tidak sesuai anjuran jam belajar masyarakat yang mengharuskan dua jam per harinya. Namanya juga pekerja serabutan, harap maklum.

Beberapa waktu lalu, WAG saham yang saya ikuti heboh. Banyak teman-teman yang membagikan tangkapan layar dan meneruskan pesan dari WAG lainnya. Intinya adalah banyak pemain saham yang uangnya “nyangkut” ketika sudah diinvestasikan. Kalau uang yang dibelikan saham itu uang pribadi masih agak gak masalah.

Lucunya, uang yang dibelikan saham adalah hasil utang. Para pemain saham ini dengan percaya dirinya membeli saham di bidang tambang. Ada pula yang beli di bidang farmasi. Euforia vaksin membuat emiten tersebut tinggi melesat. Pokoknya emiten yang dipercaya bisa membuat uang mereka berlipat ganda. Sayangnya, mereka membeli di harga yang sudah tinggi. Duh Gusti, dagelan macam apalagi ini!

Mbak dan mas sekalian, saya sepakat sih untuk menginvestasikan uang. Tapi pliss, jangan uang hasil utang. Pastikan uang yang kamu gunakan tidak menganggu kestabilan keuanganmu. Kalau pakai duit utang sama saja kamu menambah beban hidupmu. Utang budi aja belum tentu bisa mengembalikan, lha kok sekarang malah utang uang beneran.

Bukannya untung malah buntung. BPKB, surat tanah, bahkan perhiasaan duduk manis menjadi agunan. Kengawuran semacam inilah yang menyebabkan pasar saham beberapa waktu mengalami pelemahan.

Para pemain baru ini sangat mudah tergiur dengan keuntungan yang besar dan diperoleh secara cepat. Wahai sodaraku, investasti saham itu tidaklah semudah itu. Investasi saham juga membutuhkan dasar-dasar dalam melakukan aktivitas jual belinya. Bukan asal beli dan jual.

Dipikir kayak Dimas Kanjeng apa ya, bisa menggandakan uang dengan cepat. Lha wong yang namanya tuyul dan gengnya aja kalau ngambil uang juga dalam jumlah sedikit dan butuh proses lama. Kok kalian maunya cepet untung dan kaya tanpa perhitungan sama sekali.

Seorang sahabat saya sekaligus guru saya dalam saham selalu menegaskan bahwa investasi saham itu butuh kejelian, ketekunan, keberanian dan tentunya tidak mudah baper. Bermain saham itu juga melatih strategi, kapan harus beli dan harus jual. Selain itu, kita harus mengetahui jenis trader apakah kita.

Ia juga menekankan bahwa seorang trader saham haruslah memiliki kondisi psikologis yang bagus. Bagaimana hal itu bisa diwujudkan? Haruslah kita sering berlatih dimulai dengan nominal kecil dan rajin membaca, baik berita atau kondisi emiten yang akan dibeli.

Fyi aja sih, mengutip dari penelitian yang dilakukan OJK pada tahun 2019, ada sebuah data yang sangat mencengangkan. Anak-anak milenial di rentang usia 18-25 tahun memiliki tingkat literasi keuangan sebesar 32,1%, sedangkan rentang usia 25-35 tahun memiliki tingkat literasi keuangan sebesar 33,5%.

Wajar saja kalau kemarin jagad dunia maya dipenuhi dengan sambatan para investor saham dengan teknik ngawurmology, semoga yang membaca ini tidak masuk ke dalam 60% yang tak melek literasi keuangan.

Lagi-lagi negeri ini harus menelan pil pahit, semuanya berawal dari kemalasan untuk membaca dan berakhir dengan bencana keuangan. Utang menumpuk, pendapatan sedang remuk. Terus mau bayar angsuran pakai apa? Bank tidak butuh janji manismu, kecuali kamu wakil rakyat sih…ehhh.

Terakhir kalinya saya cuma mau mengingatkan, semua itu butuh proses. Yang instan itu cuma mi. Kalau udah kayak gini kejadiannya mau menyalahkan siapa? Pemerintah? Atau malah mungkin Tuhan? Ngeeelll wess ngellll, sudah ngawur, ngeyel pula. Masih mau bilang salam profit? (*)

1 KOMENTAR

  1. Indonesia terkenal dengan apapun yang instan. Selain mie instan, kita juga ingin kekayaan yang instan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here