Keberhasilan Trump Yang Jarang Diakui

Waktu Baca: 4 menit

courtesey : Marco Zuppone

Donald Trump resmi menanggalkan jabatan sebagai Presiden Amerika Serikat dua hari yang lalu. Trump turun dalam keadaan dihujat dan dikritik sana sini.

 

            Mengutip artikel Tirto.ID, Trump disebut sebut sebagai presiden terburuk sepanjang sejarah. Tirto tentu tidak asal comot. Berikut saya berikan kutipan dari artikel tersebut:

 

“…ahli ilmu politik Brandon Rottinghaus (University of Houston) dan Justin S. Vaughn (Boise State University) merilis peringkat presiden-presiden Amerika yang paling berprestasi di The New York Times. Penilaian tersebut diberikan oleh 170 akademisi dari American Political Science Association (APSA) bidang Politik Eksekutif dan Presiden. Hasilnya, Trump mendapatkan ranking paling bawah…” (Kinasih,2021) via Tirto.id

 

Selain artikel Tirto.ID, kita juga sudah melihat bukti nyata jeleknya pencapaian Trump lewat pemakzulan sebanyak dua kali di DPR Amerika Serikat. Hanya Senator yang menyelamatkan masa jabatan Trump. Tidak hanya itu saja, penyerangan di Capitol Hill oleh pendukung Trump menjadi catatan kelam bagi demokrasi di negeri Paman Sam. Sikap Trumppun terhitung kekanak kanakan. Ia memutuskan tidak datang ke inagurasi Joe Biden. Padahal, wakil presidennya, Mike Pence hadir di situ! Ya, bahkan di saat terakhirnya, Trump ditinggalkan oleh orang yang paling dekat dengannya. Setidak tidaknya, Pence ogah memberikan dukungan pada Trump.

 

Kayaknya jelek semua ya soal Trump..

 

            Ah, tidak juga. Ketika kita berbicara soal Trump, harus diakui ada pencapaian positif yang ia raih. Walaupun tentu saja, peninggalan buruknya juga tidak kalah banyak. Namun, apakah benar ini salah Trump semua? Trump memang dikenal sering memberikan pernyataan rasis dan seksis. Tapi, dia tidak mungkin terpilih jika ia tidak berada di lingkungan dimana rasisme dan seksisme itu tumbuh subur. Jika, toh memang, warga negara Amerika Serikat betul betul membenci rasisme dan seksisme, seharusnya Trump bahkan tidak masuk hitungan calon presiden, apalagi mendapatkan tiket Partai Republik dan apalagi menjadi Presiden Amerika Serikat. Nah lho…

Meski banyak yang enggan mengakui, kemenangan Trump menjadi bukti bahwa rasisme dan seksisme itu masih ada dan mengakar di masyarakat The States. Jikapun misalnya pernyataan saya tidak tepat dan ada yang menyebut bahwa mereka memilih Trump karena alasan lain misalnya seperti kebijakan proteksionisme dan keamanannya, tapi toh mereka mengabaikan tendensi rasisme dan seksisme Trump. Jika mau ditarik kesimpulan, berarti toh mereka menoleransi dan mengkerdilkan rasisme dan seksisme. Padahal sesuai kata aktivis Black Americans Angela Y. Davis:

 

            “In a racist society, it is not enough to be non-racist, we must be anti-racist.”

 

                Berlawanan dengan anggapan arus utama, menurut saya Trump tidak menjadi pesakitan utama dalam masalah rasisme di Amerika Serikat. Trump hanyalah sekedar orang yang menaiki kapal rasisme dan memanfaatkan itu untuk kepentingan pribadinya. Dia berhasil. Itu saja. Rasisme itu sudah ada, Seksisme itu sudah ada dan naiknya Trump sebagai presiden hanya menunjukkan bahwa masalah itu sudah sedemikian peliknya.

Mari kita sekarang bicara soal keberhasilan Trump. Tentu ketika kita bicara keberhasilan Trump, kita tidak bicara keberhasilan yang menguntungkan Indonesia. Toh, kadang keberhasilan Amerika Serikat berarti petaka untuk kita. Contohnya adalah keberhasilan Trump memulihkan hubungan diplomatik negara negara Arab dengan Israel. Tercatat ada beberapa negara Arab yang membuka hubungan dengan Israel misalnya adalah Uni Emirat Arab, Sudan dan Moroko. Sementara itu, Bahrain melakukan relaksasi (détente) ketegangan dengan Israel.

Dari kaca mata politik Amerika Serikat, keberhasilan ini berarti memperkuat pengaruh Trump di komunitas Yahudi. Untuk catatan, komunitas Yahudi di Amerika Serikat hanya 1,7% hingga 2,6% saja. Namun berdasarkan survey Gallup, jika ada isu yang dipertentangkan di Kongres, perbedaan pendukung dan kontra Israel mencapai 31 points. Berikut adalah statistik dari Gallup mengenai nilai simpati pada isu Israel Palestina.

courtesey : Gallup

Berdasar survey PEW, 46 % masyarakat Amerika Serikat yang mengidentifikasikan dirinya sebagai penganut Evangelical mendukung kebijakan Amerika Serikat yang pro Israel. Banyak juga penganut agama Yahudi maupun Yahudi yang mendukung agar kebijakan Amerika Serikat tetap pro Israel. Jumlahnya sekitar 54% (yang merasa saat ini porsi dukungan cukup baik) dan 31% (yang menilai perlu ada peningkatan dukungan). Bisa dikatakan bahwa ini porsi  suara yang besar dan Trump banyak memuaskan mereka (termasuk keputusan memindahkan kedutaan Amerika Serikat ke Yerusalem).

Itu satu keberhasilan Trump (yang juga nestapa bagi Indonesia). Di Era Trump juga, pertama kalinya Pemimpin Tertinggi Korea Utara dapat bertemu dengan Presiden Amerika Serikat. Berkat lobi dari Menteri luar negeri Amerika Serikat saat itu, Rex Tillerson, pertemuan bersejarah ini terjadi di DMZ, Vietnam dan Singapura. Mungkin inilah pencapaian tertinggi Trump karena belum ada Presiden lain yang bisa melakukannya.

Selain itu, ekonomi domestik Amerika Serikat juga memperlihatkan pertumbuhan yang baik. GDP naik karena produksi dalam negeri juga terkatrol. Jumlah penduduk miskin menurun hingga enam juta orang. Bahkan pemegang asuransi kesehatan juga ada di angka yang baik, dimana dua juta orang berhasil memiliki asuransi kesehatan. Tidak buruk untuk Presiden yang dikatakan terburuk dalam sejarah kan? He..he..he..

Meski demikian, tidak dapat dikatakan bahwa empat tahun lagi AS dengan Trump akan berdampak baik. Presiden yang mengusir media dari konfrensi pers, presiden yang hobi ngetweet dengan emosional (ingat insiden covfefe?) serta sering mengeluarkan pernyataan kontroversial bukan indikasi seorang Presiden yang ‘aman’ untuk memerintah negara adidaya. Atau mungkin ini hanya pembawaan dia saja? Toh dahulu Presiden Habibie pernah dianggap emosional oleh media luar negeri namun warisannya juga penting hingga sekarang (Pemisahan BI dari eksekutif, pemilu demokratis pertama dan pembebasan tapol, saya tidak menyebut penyelesaian masalah Timor Leste karena masih ada debat terkait masalah itu).

Terakhir, artikel ini bukan bermaksud untuk membuktikan bahwa Presiden Trump adalah presiden yang baik. Untuk hal ini saya memilih tidak beropini. Namun ada beberapa hal positif dari pemerintahan Trump meski di saat bersamaan juga banyak hal hal negatif. Hal hal inilah yang bisa menjadi refrensi pembelajaran bagi Joe Biden yang menjabat sebagai Presiden ke 46 Amerika Serikat.

Ardi
Jurnalis, Penulis dan Foodiez. Menulis dua novel di Storial, "Santiran" dan "Di Rawa Peteng". Suka berdiskusi asal tidak emosi

Similar Articles

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertisment

Instagram

Most Popular