Kenapa Kondom Harus Dirazia, Salah Apa Coba?

Waktu Baca: 3 menitAda-ada saja yang yang dilakukan oleh orang-orang di negeri ini. Tampaknya di negara ini tidak pernah kekurangan bahan lelucon setiap harinya. Apa mungkin sejak lahir sudah disetting menjadi komedian ya?  Setelah beberapa waktu lalu viral mengenai razia buku. Kali ini sebuah razia juga kembali menjadi perbincangan. Apa gerangan? Razia kondom! Sebenarnya kejadian ini sudah sering acapkali terjadi, sehingga pentinglah untuk diangkat lagi. Semacam rewind gitulah.

Ya kondom dan temannya  termasuk juga tisu sulap alias tisu magic menjadi korban razia. Dua benda mati yang tak bernyawa tersebut dianggap sebagai pemicu seks bebas di kalangan remaja Biasanya alasan klasiknya adalah razia dimaksudkan untuk mencegah terjadinya seks bebas di kalangan remaja. Biasanya razia kondom akan menjadi trending topic saat pergantian tahun baru. Hanya saja tahun ini kita semua sedang berurusan dengan korona, jadi ya razia masker dan protokol kesehatan. Walaupun tau sendirilah, razia juga tidak mengurangi paparan korona di masyarakat.

Lebih lanjut lagi, razia ini sebagai bentuk penertiban bagi minimarket yang menjual kondom di tempat yang mudah terlihat oleh pengunjung. Mungkin ke depannya nanti kondom bisa diletakkan di dalam lemari es bareng sama minuman bersoda atau juga bisa menggunakan password ketika mau membelinya. Ternyata eh ternyata barang hasil razia tersebut nantinya akan dikembalikan setelah perayaan tahun baru selesai diselenggarakan. Jadi apakah razia ini semacam prank ya? Entah apa yang merasukimu bapak-bapak semuanya. Heran deh saya!

Baiklah. Mari sejenak kita berpikir. Lantas, apakah hubungan antara razia kondom dengan pencegahan seks bebas bapak-bapak sekalian? Saya rasa kok semacam Jaka Sembung naik ojek, gak nyambung jek! Semoga saja sesat logika macam ini tidak menjangkiti orang-orang yang berada di lingkaran kekuasaan. Kalau kayak gini jadinya kan aneh gak sih?

Bapak-bapak sekalian harusnya berterima kasih dan bersyukur bahwa ada orang yang menyempatkan waktu luangnya demi terciptanya kondom. Apakah bapak-bapak yang merazia gak pernah pakai kondom? Atau malah menyuruh pasangannya yang masuk ke minimarket untuk membelinya? Duh pak, masak kayak gini to, katanya udah mau masuk juga ke revolusi 5.0. Mosok masih razia kondom.

Kondom itu tidaklah melakukan melakukan tindakan kriminal. Justru kehadirannya mampu mencegah kehamilan serta menularnya penyakit seksual. Jika mereka dirazia, siapa yang akan mencegah ancaman-ancaman tersebut terjadi? Lha wong kalo ada tetangga yang hamil di luar nikah aja kita masih nyinyir sampai ubun-ubun. Belum lagi teman-teman penyintas HIV AIDS, dengan ganasnya kita memberikan stigma buruk kepadanya. Kondom itu adalah media atau alat bahwa kita mampu melakukan hubungan seks secara bertanggung jawab bukan serampangan!

Perlu diketahui bahwa seks merupakan kebutuhan dasar manusia atau bahasa Inggrisnya basic human needs. Sehingga hampir semua manusia di muka bumi ini membutuhkannya. Ada yang untuk alasan keturunan ataupun urusan kesenangan semata. Biarlah mereka menjalani pilihannya masing-masing. Seperti saya yang menjadli pilihan jomlo eaaakkk…

Urusan seks sebenarnya merupakan privasi setiap individu yang ada di muka bumi ini, termasuk yang merazia kondom. Jika khawatir dengan merebaknya seks bebas maka bukan dengan jalan merazia kondom, benahilah pikiran yang ada di setiap masing-masing individu. Caranya? Ya dengan jalan membuka seluas-luasnya akses mengenai pendidikan seks sejak dini. Hilangkan stigma bahwa seks itu tabu.

Yang terjadi sekarang ini adalah anak-anak ataupun remaja di masa disrupsi seperti sekarang ini berusaha memenuhi hasrat keingintahuannya dengan mencari sumber informasi sendiri. Orang tua di rumah sudah sibuk dengan gawainya sendiri, ketika di sekolah bertanya tentang seks malah dipanggil guru BP / BK, kan runyam!

Ndak usah mengelak atau mencari alasan bahwa memberikan edukasi tentang sejak dini itu susah. Sekarang dengan mudahnya kita jumpai buku-buku yang mengajarkan tentang seksual sejak dini. Mulai dari menghargai alat reproduksi, mengalami mimpi basah atau haid hingga hal lainnya pun dengan mudahnya ditemui. Malas baca buku? Ada juga kanal di media sosial yang juga membahas seks sejak dini. Sudah saatnya membangkitkan kembali kehangatan di ruang keluarga, menggantinya dengan diskusi yang hangat. Bukan malah mencekoki dengan sinteron yang selalu menjadikan perempuan sebagai objek penderita.

Mencegah seks bebas tidaklah bisa diambil langkah yang sangat pendek seperti itu. Butuh pemahaman yang menyeluruh semua pihak yang berkaitan. Keluarga, sekolah, masyarakat, pemerintah dan bahkan negara. Menjadi tidak adil jika yang sudah dewasa dan berhak atas “seks” menutup pintu pengetahuan tersebut bagi generasi di bawahnya. Kalau pola ini masih terus berlangsung apa beda dengan masa kolonial Belanda dulu?

Jangan sampailah bonus demografi yang selama ini digaungkan oleh pemerintah menjadi bumerang dikarenakan “putusnya” edukasi seks sejak dini. Semoga dengan adanya tulisan receh dan bermutu rendah ini akan muncul secercah harapan adanya “keberanian” dari intitusi pendidikan memberikan mata pelajaran tentang seks sejak tingkat dasar. Dan saya juga berharap peristiwa razia kondom ini juga terakhir kali dilakukan, jangan diulangi lagi di kesempatan selanjutnya. Selain menjadi basi, kasihan juga kondomnya sih…(*)

 

 

Diaz Radityo
Pengasuh anak-anak di PAKBOB.ID. Gemar mendongeng dan meramu kata.

Similar Articles

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertisment

Instagram

Most Popular