Ketika Anak Milenial Sambat di Medsos, Saya Malah Mendirikan Museum!

Waktu Baca: 3 menit

Wisatawan asing menikmati wayang beber

Siang itu, langit dipenuhi dengan warna kelabu. Angin berhembus dengan kencangnya. Dedaunan mulai bergoyang dengan hebatnya. Pertanda hujan akan segera tiba. Bergegas saya harus segera menuju sebuah museum yang terselip di antara padatnya perkampungan.

Sebuah bangunan berbentuk joglo dengan kayu jati yang sudah usang nan artistik menyambut mata saya. Ada pula lesung batu yang ditempatkan di depan pintu masuk. Sebuah gong juga tergantung di pojokan. Papan nama bertuliskan Museum Wayang Beber Sekartaji menegaskan bahwa saya sudah sampai di museum yang ingin dituju.

Indra, sang pemilik museum menyambut kedatangan saya dengan senyum yang mengembang. Ucapan selamat datang juga tak luput muncul darinya. Teras rumah menjadi tempat kami berbagi cerita di siang itu.

“Museum ini bermodal dari kantong saya sendiri dan bantuan beberapa teman. Murni dari tabungan dan pendapatan yang selama saya peroleh,” papar Indra saat ditanya mengenai modal awal yang dibutuhkan untuk mendirikan museum tersebut.

Ketertarikan Indra dengan wayang beber dimulai saat ia mulai berkenalan dengan wayang. Menurutnya, wayang beber selama ini belum ada yang fokus untuk menggarapnya. Wayang beber sebenarnya tidak berbeda dengan jenis wayang lainnya. Pada dasarnya wayang merupakan media untuk berkomunikasi sesama manusia.

“Wayang beber itu menitikberatkan pada budaya tutur. Kekuatan wayang beber terletak pada gambar sekaligus kemampuan story telling dalang yang membawakan,” jelas pria yang bernama lengkap Indra Suroinggeno ketika menerangkan kekuatan wayang beber.

            Aktivitas di Museum Beber Sekartaji                                      (dokumentasi Indra.S)

Museum yang sudah berusia tiga tahun tersebut bukan hanya sebagai bangunan fisik semata. Baginya, museum adalah juga harus berkontribusi nyata dengan kehidupan di sekitarnya. Hal ini mewujud nyata ketika teman-teman dari museum wayang beber Sekartaji mendapatkan amanah untuk pentas di suatu tempat.

“Saya prinsipnya berbagi kok mas. Misalkan nanti ada yang mau ditambahi dengan sego wiwitan atau nasi tumpeng saya pesankan kepada tetangga. Sehingga mereka juga mendapatkan berkah dari museum ini,” paparnya.

Tidak hanya sampai situ saja, sebelum museum tersebut didirikan. Ia bersama beberapa teman sudah memiliki inisiatif untuk membuat sanggar seni budaya bernama Sanggar Bhuana Alit. Aktivitasnya pun tidak jauh-jauh dari kegiatan seni dan budaya.

Ia menambahkan bahwa inilah pentingnya mengenalkan budaya sejak dini. Anak-anak dan remaja adalah calon pemimpin bangsa ini. Sudah saatnya mereka dikenalkan dengan budaya sendiri, bukan budaya asing. Budaya itu adalah benteng dari sebuah peradaban.

Indra juga memberikan pernyataan kritis mengenai perkembangan kebudayaan di negeri ini. Baginya, kebudayaan di nusantara haruslah mampu adaptif dengan perubahan konteks zaman. Salah satunya adalah dengan cara mengubah packaging (kemasan). Hal ini berdasarkan atas pengalamannya saat pentas, anak milenial itu butuh sesuatu yang baru dan tidak kaku. Sehingga para pegiat seni budaya diajak untuk mampu menciptakan pertunjukkan yang pas namun tidak meninggalkan esensi.

“Kalau kita terus berdebat mencari kebudayaan yang terbaik maka yang ada generasi milenial akan makin larut dengan KPOP dan budaya sejenisnya,” tegasnya.

Saya pun berkesempatan diajak menyaksikan langsung koleksi wayang beber yang dimiliki. Sungguh sebuah pengalaman yang luar biasa. Melihat dari dekat wayang beber dan berbagai koleksi yang dimiliki. Museum wayang beber Sekartaji juga sudah mulai berbenah menjadi lebih baik. Jumlah koleksinya pun semakin bertambah dengan semakin dikenalnya di khalayak umum. Ke depannya, Indra juga akan selalu mengembangkan museum dalam berbagai hal sehingga semakin bisa memuaskan para pengunjungnya.

Museum wayang beber Sekartaji tak hanya menyimpan wayang, ada pula perhiasan zaman kerajaan, naskah kuno, perlengkapan untuk mendalang dan tentunya masih banyak lain. Jika beruntung, kita bisa melihat proses pembuatan dluwang (kertas) yang dikerjakan langsung Indra. Dluwang adalah media yang digunakan untuk menggambar wayang beber.

Menariknya lagi adalah kita akan dipandu langsung oleh sang pemilik ketika menjelajahi museum wayang beber Sekartaji. Sebuah pengalaman yang belum tentu akan kita dapati di museum lain. Sungguh menarik!

Walaupun jumlah pengunjung sudah meningkat dari tahun ke tahun. Namun museum wayang beber Sekartaji masih menggratiskan para pengunjungnya. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa pendanaan menjadi hambatan yang seringkali menerpa museum. Belum lagi adanya riak-riak kecil yang menemani perjalanan museum tersebut. Tetapi Indra berkeyakinan untuk mempertahankan museum tersebut dengan segala daya dan upayanya.

“Ya daripada cuma jadi generasi sambat di media sosial, mending saya bikin museum saja. Namanya juga sudah cinta dengan kebudayaan. Semua ya saya lakukan. Cinta matilah pokoknya,” pungkasnya sambil terkekeh.

Dan terbukti juga pula sebuah pepatah, bahwa langit kelabu tak selalu hujan. (*)

Diaz Radityo
Pengasuh anak-anak di PAKBOB.ID. Gemar mendongeng dan meramu kata.

Similar Articles

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertisment

Instagram

Most Popular