Ketika Saya Menjadi Rasis

Waktu Baca: 4 menit

courtesey : Markus Spiske

Inilah pengalaman yang merubah hidup saya…

Kasus yang menimpa Natalius Pigai membuat saya tergugah. Ingin rasanya saya menulis banyak hal soal rasisme. Mungkin bisa jadi satu buku. Apalagi kemudian muncul kasus Jilbab di Padang. Wah, makin ingin saya menulis banyak hal soal rasisme. Namun pada akhirnya saya berpikir bahwa semakin banyak ide tulisan saya, malah membuat tulisan tidak menjadi fokus. Oleh karena itulah saya memutuskan untuk mengambil satu ide saja: pengalaman saya menjadi rasis.

Walah, kok bisa? Saya kira ini pertanyaan konyol karena semua anak pernah dibesarkan dalam nuansa rasisme, apalagi kalau ia lahir dari orang tua yang homogen. Ndilalah lingkungannya juga homogen (satu agama, satu ras). Sekolahnyapun homogen dan mainnya paling jauh ke kota sebelah. Semua orang pernah terpapar ide rasisme entah mereka sadari atau tidak.

            Sederhana saja begini, saya ingin menceritakan pengalaman pribadi saya. Setelah lulus SMA, saya selalu diingatkan sekeliling saya untuk berhati hati dengan orang Sunda. Saat itu kondisinya saya sedang akan kuliah di Unika Parahyangan, Bandung. Saya tidak pernah menjejakkan kaki di Bandung dan saya tidak mengerti bagaimana kondisi kota itu. Saya dinasehati untuk waspada pada suku Sunda. Saya diminta berhati hati karena orang Sunda matre dan cewek ceweknya memang cantik, tapi mata duitan. Itu dua hal yang paling saya ingat. Saya juga diberitahu bahwa orang Sunda tidak tolerir dengan pendatang dan seterusnya. Sayapun diam diam menganggap nasehat itu benar adanya karena disampaikan orang terdekat dan di situlah saya mulai mencari pembenaran ketika menemukan ‘bukti bukti stereotyping’ yang sebenarnya tidak obyektif karena semua berdasarkan kasus per kasus.

“Itu tuh si Audy diputusin ama si Kiki karena Audy gak jelas mau jadi apa!” –Wah ini buktinya cewek Sunda matre-

            “Itu tuh kemarin ada mobil plat Jakarta digebukin di Cihampelas!” –Wah benar nih orang Sunda tidak mentolerir pendatang!-

            Ini semua tidak kita sadari adalah pandangan subyektif berdasar kasus per kasus. Faktanya? Saya tidak tahu apakah stereotyping itu benar atau salah karena toh tidak pernah ada penelitian ‘Benarkah Cewek Sunda Matre?’ misalnya. Lagian, siapa yang mau bikin penelitian kayak begitu? Tapi selama stereotyping itu belum terbukti benar, bisa jadi semua stereotyping itu salah adanya.

Kasus per kasus ini akhirnya dibantahkan oleh kasus per kasus juga. Salah satu sahabat saya, Dimas Muhammad adalah seorang Sunda yang berhasil, ia menjadi diplomat muda dan kini termasuk dalam tim percepatan ekonomi paska wabah Korona. Beberapa teman yang lain berhasil mendirikan start up, mendirikan perusahaan incubator dan seterusnya. Misalnya saja ada stereotype orang Sunda itu pemalas, saya bisa dengan mudah membantahnya. Salah satu sahabat saya lainnya, Heru Kresnapati adalah orang yang sangat rajin bekerja dan mentalnya sangat kuat. Ia bahkan lebih rajin dari kebanyakan orang Tiong Hoa yang saya kenal. Padahal katanya suku Tiong Hoa punya etos kerja luar biasa.

Sayapun makin ragu dengan masukan masukan rasis yang saya terima. Itu baru dari satu stereotyping satu suku saja. Saya mendapat masukan stereotyping tentang suku lain dan jujur saja banyak salahnya daripa benarnya. Ya ada kejadian orang Tiong Hoa sukses jadi pengusaha kaya dan rajin bekerja, tapi yang malas dan miskin juga banyak. Ya ada orang Jawa yang ngomongnya alus dan muter muter, tapi yang tegas dan to the point ya banyak. Ya ada orang Batak yang keras dalam bersikap, tapi ya banyak orang orang dengan hati paling halus yang pernah saya kenal adalah orang Batak. Rasisme itu bisa jadi adalah ilmu/pengetahuan palsu karena tidak disusun berdasar data dan fakta apalagi logika yang masuk akal.

Saya makin ragu setelah saya menjadi korban rasisme. Sebagai orang keturunan Tiong Hoa, saya memiliki penampilan fisik berbeda dibandingkan orang Tiong Hoa lainnya. Dan ini menjadi masalah! Yes, saya didiskriminasi oleh ras saya sendiri. Sudah beberapa kali saya menjalin hubungan dengan sesama orang Tiong Hoa dan seringkali mereka menuduh saya sebagai Cina palsu. Banyak hubungan saya kandas dan saran terbaik dari orang tua saya adalah supaya saya mandi lebih sering agar saya kelihatan putih layaknya Tiong Hoa lainnya.

Di umur saya yang menginjak dua puluh sembilan tahun ini, saya sering bertanya tanya kenapa pasangan saya harus orang Tiong Hoa.

Mereka lebih rajin! Ah, yang malas juga banyak

            Mereka lebih setia! Ah, yang menyeleweng juga banyak

            Mereka lebih ngertiin kamu! Ah, sudah sering kata kata yang saya dengar menyakitkan hati, apalagi pertanyaan soal materi.

            Meski saya tidak miskin, toh kadang pertanyaan soal materi juga menyakitkan hati. Ada satu cerita teman saya batal menikah dengan calon istri Tiong Hoanya. Alasannya karena si istri ogah membantu suaminya kerja. Maunya disuapi. Teman saya yang lain putus dari pacar Tiong Hoanya karena si cewek ogah membayar sendiri. Malu katanya cewek bayar makanannya sendiri.

Jangan dianggap bahwa saya sedang menjelek jelekan cewek keturunan Tiong Hoa. Banyak juga perempuan Tiong Hoa yang rajin, berprestasi, sukses dan bahagia. Saya hanya ingin bilang bahwa stereotype yang dibangun tidak masuk akal dan aneh. Bagi saya lebih masuk akal kita mencari istri perempuan yang baik dan memiliki sifat yang kita butuhkan. Tidak usahlah ada embel embel harus Tiong Hoa. Kalaupun sukunya sama, anggaplah itu kebetulan belaka. Pada akhirnya keberhasilan pernikahanmu bukan ditentukan dari suku apa pasanganmu. Bukti yang lebih enak dilihat ya gimana ekonomimu? Gimana anak anakmu? Gimana hubunganmu dengan lingkunganmu? Kamu bahagia atau enggak?

            Rasisme ini sebenarnya tampak bodoh di era abad 21. Sekarang semua terhubung, semua bisa mengenal budaya dan sifat lain, semakin kita belajar semakin kita sadar betapa gobloknya rasisme. Iya, saya menggunakan kata goblok..sebab kata bodoh hanya untuk orang tidak tahu. Goblok lebih pas untuk orang yang tidak tahu plus tidak mau belajar. Ketika kita sudah di abad 21 dan kita masih memikirkan stereotyping. Goblok benar kita. Wapres AS saja adalah wanita kulit hitam beribu India serta bersuamikan orang Yahudi! Nah! Kata siapa pernikahan murni hasilnya juga seratus persen bagus?

Ya..itulah pengalaman saya terpapar ide rasisme dan sedikit banyak agak rasis di awal awal masa muda saya. Kini saya bisa dengan bangga mengatakan bahwa saya menolak segala bentuk stereotyping dan percaya bahwa kita bisa maju bersama jika kita bersatu.

Sedikit penutup dari saya. Di Bangkok saya hidup dalam lingkungan yang sangat heterogen. Di sanalah juga saya memimpin organisasi kampus dengan murid dari berbagai agama, berbagai suku dan berbagai pandangan hidup. Banyak keberhasilan dan ada beberapa konflik terutama karena komunitas saya sangat heterogen. Perbedaan budaya selalu ada. Culture shock itu normal. Tapi percaya bahwa sifat orang itu sesuai sukunya? Wah, itu pandangan paling goblok yang pernah saya dengar.

Oh ya satu lagi. Cantik jelek itu bukan karena warna kulit atau struktur wajah dan tubuh. Kalau kamu hanya terpaku dalam satu ide ideal tentang kulit dan wajah, kamu akan melewatkan banyak keindahan di depan matamu.

Ardi
Jurnalis, Penulis dan Foodiez. Menulis dua novel di Storial, "Santiran" dan "Di Rawa Peteng". Suka berdiskusi asal tidak emosi

Similar Articles

Comments

  1. Banyak anak yang half blood (lahir dari ayah dan ibu berbeda ras) diperlakukan dengan tidak baik. Ayo dong berubah Indonesia!

  2. Rasis itu peninggalan jaman kolonial, dipiara gak jadi apa apa. Mending piara kambing, bisa dipotong!

  3. Saya hanya bisa setujuu. Ada banyak hal yang harus diubah mengenai rasisme, ini sebuah proses yang panjang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertisment

Instagram

Most Popular