KOMPAS MORAL HANUNG

Waktu Baca: 3 menit 

 

Pernahkah anda mendengar seorang sutradara merasa berdosa karena filmnya?Memangnya filmnya jelek banget? Ataukah ada konten kekerasan yang sangat buruk di film itu? Nyatanya tidak. Film yang disesali itu adalah film remaja dengan tokoh utama empat orang jomblo. Tidak ada kekerasan di sana. Tidak ada konten yang menghina agama. Semua semata karena ending film itu yang menurut si sutradara sangat tidak adil. Itulah yang dirasakan Hanung Bramantyo saat ia menyutradari film Jomblo yang diproduksi Tahun 2006. Alhasil ia memutuskan menggarap ulang film tersebut. Mungkin dia menjadi satu satunya sutradara di Indonesia yang meremake filmnya sendiri.

 

“Saya merasa dosa besar saat membuat (film) Jomblo yang pertama itu. Saya ada value yang kemudian ternyata di alam bawah sadar saya mengamini orang yang berselingkuh dan mengamini orang yang playboy dan menggitukan (memanfaatkan) perempuan,” kata Hanung saat preskon usai Gala Premier film Jomblo di XXI Lippo Mall Kemang.

Dalam film yang pertama, dua tokoh yang mendapat happy ending memang orang yang berselingkuh dan playboy. Sementara itu dua tokoh lain yang sebenarnya cowok baik baik malah menelan pil pahit. Karena itulah Hanung ingin melakukan reformasi ending di film Jomblo terbarunya. Hasilnya?

Jomblo versi terbaru meraih penonton sekitar 447.574 penonton berdasar berita di Bintang.com pada tanggal 24 November 2017. Di Indonesia berlaku angka sakti satu juta penonton. Menilik hasil itu, Jomblo versi terbaru kurang berhasil secara komersil. Ulasan pada Jomblo 2017 juga tak terlalu menggembirakan. Di filmindonesia.or.id, Jomblo 2017 hanya mendapat rating 4,5 bintang sementara Jomblo 2006 mendapatkan 7 dari 10 bintang. Sementara itu salah satu reviewer film dari duniaku.com, Lazuardi Pratama menganggap Jomblo 2017 adalah sebuah sekuel yang tidak perlu.

Beragam kritikan membuat kita bertanya tanya, apa yang salah dengan Jomblo 2017? Padahal Hanung jelas lebih berpengalaman daripada saat ia menggarap versi pertama Jomblo. Tapi saya kira energinya mungkin berbeda saat ia menggarap film itu untuk kedua kalinya. Mungkin ada rasa bosan..rasa capek..ah entahlah..

          Alejandro Gonzales Inarritu pernah berkata bahwa :

“CINEMA IS A MIRROR BY WHICH WE OFTEN SEE OURSELVES.”

 

Mengulang sebuah proses yang sama bisa jadi adalah sebuah pengalaman menjemukan bagi siapapun, termasuk orang sehebat Hanung sekalipun.

 

Yang menjadikan Jomblo 2006 begitu menarik adalah bagaimana film tersebut menjadi sebuah film yang apa adanya. Tidak ada kisah over the top atau banyolan yang tidak  pada kenyataannya atau missed. Jomblo 2006 adalah sebuah cermin kehidupan cinta remaja dengan segala pernak perniknya yang disajikan dengan telanjang meski pahit. Itulah yang membuat Jomblo 2006 amat berkesan bagi penontonnya. Meskipun—tentunya—memiliki akhir yang pahit bagi ‘orang orang baik’.

Sementara itu Jomblo 2017 berusaha membuat kesan bahwa ‘ini lhoh dunia yang ideal’. ‘Harusnya begini dan seterusnya’. Saya kira ini tidak selalu ide yang baik untuk menggurui seseorang lewat film. Ernest Prakasa dalam sebuah episode di podcastnya pernah berkata bahwa ia merasa sayang jika kita memiliki dua jam dalam bioskop, intens dengan penonton dan kita tak menyampaikan pesan apa apa. Tapi..kadang kadang pelajaran itu tak perlu disampaikan dengan gamblang dan terlalu to the point.  Sebab pada akhirnya penonton datang ke bioskop untuk mendapatkan hiburan rohani dan duniawi.

Kalau mau dibilang kasar, Jomblo (2017) adalah karya yang tidak jujur. Tidak jujur dalam artian bisa negatif dan positif tentunya. Toh pada akhirnya memang film itu karya imajinasi. Namun permasalahannya, kekuatan utama Jomblo baik film dan novelnya adalah kejujuran yang disajikan. Kejujuran inilah yang membuat penonton duduk, menikmati film dan dihantui hingga bertahun tahun kemudian. Nah, jika kekuatan utama itu dipreteli, lalu bagaimana film Jomblo (2017) bisa menggaet generasi baru atau lebih baik dari pendahulunya? Mungkin begitu pandangan saya.

Sebenarnya, secara jujur, tidak salah jika Hanung merasa perlu untuk me’revisi’ kesalahannya. Mungkin pengalaman bertahun tahun sebagai sutradara membuatnya memiliki kompas moral yang berbeda. Apalagi ia telah menjadi ayah bagi beberapa anak perempuan. Ia merasa berdosa dengan film Jomblo versi lama dan merasa perlu memperbaiki film itu agar ‘lebih betul dan layak’ menyampaikan pesan positif pada penontonnya. Namun berbicara ‘lebih betul dan layak’ itu bukanlah tugas seorang sutradara, sutradara bukan polisi moral dan tak pernah ditugaskan menjadi polisi itu.

Jika saya menonton Jomblo dan diminta menggarap ulang, saya akan menolaknya. Jomblo adalah sebuah film Coming of Age yang indah dibiarkan begitu saja. Biarlah endingnya menyakitkan bagi pria pria baik, toh memang hidup pada dasarnya tidak adil. Biar juga ini menjadi tamparan bagi wanita wanita yang pernah diduakan, karena toh kita semua pasti pernah merasakan sakit pas sayang sayangnya. Meski tak seindah harapan. Kita tak boleh lupa bahwa film Jomblo hanya memotret sebuah fase kehidupan. Jikapun pahit tak masalah karena di depan mata masih ada fase yang jauh lebih baik (atau malah lebih buruk?). It is okay, because it is life.

 

Ardi
Jurnalis, Penulis dan Foodiez. Menulis dua novel di Storial, "Santiran" dan "Di Rawa Peteng". Suka berdiskusi asal tidak emosi

Similar Articles

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertisment

Instagram

Most Popular