Kristen Gray Adalah Kita

Waktu Baca: 4 menitKristen Gray, seorang warga negara Amerika Serikat menerbitkan e-book yang mengajak warga dunia untuk berkunjung ke Bali dengan menggunakan visa illegal. Sikapnya itu memantik kemarahan dan cacian Warganet.

Kristen Gray dan Cuitannya

            Hingga pukul 10.42 WIB pada hari Senin 18 Januari 2020, cuitan di Twitter yang membahas Kristen Gray mencapai 47 ribu tweet. Ada bermacam macam tweet tentang Kristen Gray, rata rata mencercanya. Kristen dianggap tidak peka karena telah menyarankan warga dunia pindah ke Bali di saat pandemi Korona memburuk. Tidak hanya itu saja, ia juga menyebut Bali sebagai tempat yang enak karena ramah pada LGBT dan amat mudah untuk mengakali pajak di Bali.

Perbuatan Kristen Gray tidak dapat dibenarkan. Tidak ada pembenaran yang bisa diberikan untuk Kristen Gray. Namun apakah bijak bagi kita, warga Indonesia, untuk menyerangnya dengan sepenuh jiwa hingga mungkin Kristen Gray sedang ngumpet atau merencanakan kabur ke negara lain entah bagaimana caranya? Padahal, mungkin kita tidak berbeda jauh dengan Kristen Gray.

Selama ini kita menganggap menjadi warga negara Amerika Serikat itu enak dan menjanjikan kemudahan hidup. Dalam beberapa hal tepat..tapi tidak sepenuhnya tepat.

Ketika saya hidup di Bangkok dan mengambil studi Master di sana, saya terkejut dengan banyaknya warga Amerika Serikat di kampus saya. Bukankah pendidikan di AS termasuk yang terbaik? Ngapain jauh jauh kuliah di Thailand yang tidak jauh berbeda dengan Indonesia misalnya?

Ternyata mereka memilih Thailand karena mahalnya biaya pendidikan di Amerika Serikat. Mendapat gelar Bachelor (S1) saja bisa menghabiskan dana hingga satu milyar rupiah! Itu juga mungkin lulusan kampus biasa saja. Bukan Stanford, Bukan MIT, apalagi Harvard. Untuk bisa bersekolah, mereka harus mengambil student loan yang mungkin baru lunas saat mereka berumur 40an tahun. Selama itu mereka harus hidup dengan budget middle class yang terbatas. Alhasil, daripada mereka harus mengambil student loan, mereka lebih memilih kuliah sekalian di kampus negara lain.

Ada cara lain bagi mereka untuk mengambil program Bachelor. Cara itu adalah dengan menjadi anggota militer. Jika mereka ‘tidak mati’ dalam kurun waktu tertentu, mereka bisa pulang ke AS dan mendapat beasiswa gratis untuk program Bachelor. Dengan catatan: kalau mereka tidak mati. Salah satu kenalan saya mengambil cara ini. Kepalanya tertembak tapi ia tidak mati. Namun jelas..kepala yang sudah tertembak berbeda dengan kepala manusia normal pada umumnya. Di kelas dia bagai orang ling lung. Janji tetap janji. AS memenuhi janjinya untuk mensekolahkan kenalan saya itu. Tapi ya begitu….

Jika sakit, warga negara AS juga dibebani dengan tagihan yang luar biasa. Pernah ada bercandaan (dan ternyata benar), bahwa lebih murah bagi warga AS untuk terbang ke Spanyol melakukan operasi di sana, lalu balik lagi ke negaranya daripada menjalankan prosedur tersebut di AS. Tidak ada BPJS seperti yang kita nikmati di sini. Jika mau asuransi, mereka harus membayar sendiri. Sialnya, kebanyakan asuransi di sana adalah Red Tape Insurance yang mana pencairannya sangat ribet dan kecil kemungkinan berhasil. Oalah!

Soal masalah keamanan, AS juga tidak bisa dibilang aman. Malah mungkin mirip medan perang karena membeli senjata api di sana sangat mudah. Bisa jadi anda sedang berjalan jalan santai..lalu tiba tiba ada psikopat yang ingin menembak anda dari jendela rumahnya dan Bum! Bablaslah nyawa anda. Iyaa…anda bisa mati dengan begitu mudahnya di AS karena senjata api. Di Indonesia hal seperti itu mungkin takkan pernah terjadi karena membeli senjata api tidaklah mudah. Wong beli air soft gun aja suka dipersulit.

Sebenarnya banyak masalah di AS sehingga gak bisa dibilang AS itu enak. Lalu apa persamaan Kristen Gray dengan kita? Kita itu sebenarnya melakukan apa yang dilakukan Kristen Gray dengan cara berbeda. Kenapa? Karena sama seperti Kristen Gray kita juga mencoba mencari kemudahan dalam kesulitan hidup kita. Saat kita menemukannya, kita ingin membaginya. Mungkin ini adalah bentuk kepedulian kita pada rekan senasib…mungkin ini adalah pengumuman kecil tentang kemenangan kita di hidup ini sehingga ego kita meledak dengan paripurna.

Hei lihatlah hidup! Aku menang melawan kamu!

            Kala gaji kita masih UMR lebih sedikit tapi kita ingin menonton film film berkualitas kita mencari situs situs streaming illegal dan kemudian membagikannya dengan teman teman kita. Bahkan, ada lho teman yang memberi subtitle secara gratis tanpa dibayar! Sebut saja ‘Lebah Ganteng’ dan ‘Pein Akatsuki’. Kala kita ingin mendengarkan lagu band populer tapi harga CD saja setara jatah makan kita empat hari, kita memutuskan untuk membajak saja dan kemudian membagikannya pada teman kita. Setelah itu kita putar lagu itu di Winamp masing masing dengan bangga sambil menyanyikan liriknya. Kala kita lapar, kita makan di warung, ambil gorengan tiga ngakunya satu. Ternyata ibu yang jualan emang gak teliti, lumayanlah untuk berhemat. Setelah kita tahu trik ini, kita lalu membagikannya pada teman teman agar mereka bisa mengikuti jejak sukses kita. Banyak kesulitan hidup kita yang kemudian menjadi inspirasi kita untuk menemukan hack methodnya. Kristen Gray ya juga sama kayak kita, mencari peluang agar dia bisa merasakan kemudahan hidup dari banyak kesulitan hidupnya.

Lalu, kenapa kita masih membully Kristen Gray dengan semangat?

Saya kira mungkin karena kita tidak tahu saja. Tidak tahu bahwa orang lain sama susahnya dengan kita meski kesulitan hidupnya berbeda dari kita. Lalu, bisa jadi kita percaya pada ilusi bahwa negara kaya rakyatnya juga kaya. Kata siapa? Di Singapura saja ada orang yang hidup di apartemen tanpa listrik karena dia tidak punya uang untuk membayar kebutuhan hidup dasarnya. Negara kaya sama dengan warganya juga kaya itu mitos yang kita percaya dan merupakan simplifikasi yang kita terima sebagai warga negara yang percaya dunia ini hitam putih adanya.

Jadi, apakah kita mau memaafkan Kristen Gray? Sebenarnya tidak perlu, lha wong kesalahannya belum tentu berdampak pada hidup anda. Mungkin anda ikut ikutan nyerang dia karena anda lagi emosi saja, perlu dilampiaskan dan mungkin saja anda terseret pemberitaan yang menyudutkan dia. Entahlah. Kalau saya sih, kita serahkan kembali saja ke penegak hukum. Kita sendiri, menurut hemat saya, kembali saja ke kehidupan biasa, mencari bahagia di tengah prahara Korona.

Ardi
Jurnalis, Penulis dan Foodiez. Menulis dua novel di Storial, "Santiran" dan "Di Rawa Peteng". Suka berdiskusi asal tidak emosi

Similar Articles

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertisment

Instagram

Most Popular