Waktu Baca: 5 menit

Frank Lampard dipecat Chelsea setelah mengalahkan Luton Town. Hari naas bagi sang legenda klub.

            Sebagai pemain, Frank Lampard tidak tersentuh. Pertama kali datang saat era kepelatihan Claudio Ranieri, Frank dianggap memiliki bakat untuk menjadi pemain bagus. Ya, bagus saja, tak ada yang menyangka dia akan menjadi sosok istimewa. Ia memang berbakat, tapi bukan pemain yang skilful. Ia tidak punya tenaga kuda, dribble memukau, persona yang kharismatik, fisik yang menakutkan dan sebagainya. Ya, ia pemain bagus saja. Apalagi muncul desas desus ia mendapat tempat di West Ham—klubnya sebelum Chelsea—hanya karena keberadaam Om-nya, Harry Redknapp.

Saat Roman Abramovich datang dengan rekening tak terbatas, karir Lampard di Chelsea ditenggarai bakal habis. Roman datang dengan superstar dunia olah bola. Ada Makelele, Michael Essien ada juga Juan Sebastian Veron dan pemain pemain lainnya. Lampard diduga akan menghangatkan bangku cadangan. Ternyata prediksi itu salah, Lampard bisa bertahan sangat lama di Chelsea dan bahkan menjadi top scorer klub. Padahal dia seorang gelandang!

“Pogba secara natural lebih bertalenta dari saya, dia bisa mengungguli saya dan memiliki kaki yang lebih lincah,” kata Lampard ketika mengomentari Paul Pogba. Padahal siapa Pogba? Mendekati rekor gol Lampard saja enggak, apalagi gelar Premier League. Lampard sendiri nampaknya menyadari betul bahwa dia memang gak se-skillful itu. Tapi bagaimana bisa ia bertahan di belantara Premier League jika skillnya biasa saja?

Jawabannya adalah : otak.

IQ Frank Lampard pada suatu tes adalah 150. Angka yang sangat tinggi untuk seorang pesepakbola. Ia memiliki keahlian untuk memecahkan masalah dengan cepat, kemampuan analisanya tinggi, alhasil mudah baginya mencari celah untuk mencetak gol, memberi assist ataupun membaca permainan. Kecerdasan Lampard ini pulalah yang konon membedakan dirinya dengan legenda Liverpool, Steven Gerrard. Dua gelandang ini memang sering dibanding bandingkan. Namun jujur, dari raihan trofi, Lampard lebih lengkap. Gerrard dinilai banyak pihak memang sangat bersemangat dan menunjukkan permainan yang energetik. Tapi, energi saja tak cukup. Insiden keplesetnya Steven Gerrard sampai saat ini masih diingat betul di benak Liverpulidan sebagai salah satu lembar kelam dalam sejarah Liverpool dalam memburu gelar Premier League.

            Dengan kecerdasannya ini, wajar banyak yang menaruh ekspetasi besar pada Lampard saat menjadi pelatih. Setelah satu musim yang ‘lumayan’ bersama klub divisi dua Derby County, Lampard mendapat kesempatan untuk menjadi manajer klub lamanya, Chelsea.

Toh meski terlihat berbakat, kedatangannya di Chelsea disambut dengan pesimisme dan perasaan haru. Pesimis karena dia menggantikan pelatih legendaris Maurizio Sarri, pesimis karena pengalamannya sekedar membawa Derby County ke play-off dan pesimis karena Chelsea tidak sabaran dengan yang namanya proses. Plus satu lagi, Chelsea saat itu mendapat larangan untuk melakukan transfer pemain. Namun ada perasaan haru menyelimuti fans Chelsea. Bagaimana seandainya Lampard menjadi Guardiola baru bagi Chelsea? Bagaimana jika akhirnya kejayaan itu hadir di tangan sang legenda?

Dus! Ternyata Lampard berhasil melampaui ekspetasi. Ia bisa membawa Chelsea tampil menghibur dan ia juga memberi kesempatan pada pemain seperti Mason Mount dan Tammy Abraham untuk unjuk gigi. Nampaknya ada peluang ia akan menjadi Guardiola baru. Namun, menjelang musim berakhir, performa Chelsea menukik. Puncaknya, mereka mengalami kekalahan mengejutkan di final piala FA di tangan rival pahit mereka: Arsenal.

Akan tetapi, Lampard memulai musim kedua dengan garang. Ia merekrut bintang bintang muda Jerman seperti Timo Werner dan Kai Havertz. Ditambah lagi ia menambah amunisi dengan bintang Maroko Hakim Ziyech dan bek veteran Brazil, Thiago Silva. Dengan kondisi ini, Lampard seolah mendeklarasikan diri sebagai penantang gelar dan pelatih top karena ia bisa mengundang pemain pemain berbakat.

Apa lacur. Kini malah Lampard dipecat setelah hanya dua kali menang dari delapan pertandingan terakhirnya di Liga Inggris. Chelsea juga berada di peringkat sembilan. Dengan Skuad sehebat itu, posisi sembilan jelas bukan hasil yang memuaskan. Berbagai alasan tak lagi bisa diterima. Lampard dipecat meski memiliki banyak kenangan dengan Chelsea. Titik.

Lalu, apa yang salah dengan Lampard?

Mungkin ini pertanyaan yang kurang tepat, apa yang salah dengan Chelsea?

Deretan pelatih hebat silih berganti, Carlo Ancelotti, Andre Villas Boas, Antonio Conte dan seterusnya. Mereka tak pernah menjabat sampai selesai. Apa yang salah kemudian? Mungkin ekspetasi klub pada pelatih sudah terlalu berlebihan.

Orang awam dan banyak orang lainnya berpikir bahwa sepakbola hanya sekedar menyusun taktik dengan tepat dan menang. Padahal tidak semudah itu. Pemain bola adalah manusia. Manusia adalah sumber ketidakpastian. Bagaimana bisa pelatih selalu tepat dalam memilih pemain dan formasi untuk memenangkan pertandingan jika pilihannya unpredictable? Hal ini jauh dari kata mudah. Contoh saja, siapa sih yang meragukan Romelu Lukaku dan Alexis Sanchez? skill oke dengan fisik yang luar biasa. Nyatanya ada masa dimana penampilan mereka bak orang baru belajar bola. Ditambah lagi sepakbola adalah olahraga dengan dua puluh dua orang di lapangan dan mereka punya karakter,otak, mood, skill dan kondisi masing masing. Tak mudah menyalahkan pelatih hanya karena ‘salah memilih formasi’.

Para pemilik klub seolah lupa bahwa tugas coach adalah coaching, ya melatih itu tadi, bukan hanya menyusun formasi. Melatih itu artinya mendidik pemain. Bagaimana mereka bergerak, bertahan, mengoper, menyelesaikan masalah dan seterusnya. Namanya pelatih kadang memiliki pemain yang gampang dilatih dan ada pula yang mbeling. Ya itu adalah dimensi lain dari sepak bola yang nyatanya tidak terlalu dipedulikan oleh pemilik klub. Tengok betapa bertalenta dan bagusnya Mario Balotelli, tapi kalo sejak awal dia memang pribadi yang susah ‘dilatih’, mau bagaimana lagi?

Hari hari ini harapan pada pelatih semakin absurd dan pemujaan pada pemain terlalu berlebihan. Nilai transfer dan gaji pemain makin tak masuk akal. Sejak Neymar ditransfer dengan dana 250 juta Euro ke Paris, sedikit demi sedikit makin banyak pemain berharga ratusan juta Euro. Mereka digaji berlebihan dan akhirnya dianggap ‘dewa’. Pemain ini sudah hebat, tinggal gimana aja pelatihnya! Yah, andaikan semudah itu..Lagi lagi pelatih cuma dianggap tukang bikin formasi dan taktik.

Ricardo Carvalho pernah berkata begini, “Pelatih seperti Jose Mourinho hanya ingin yang terbaik, tapi memang kekuasaan pemain di saat ini sudah terlalu besar.” Ya, Carvalho yang dikatain tidak punya IQ oleh Mourinho ini ternyata mengamini bahwa situasi sudah jauh berubah. Di jamannya, mau dikatain bodohpun dia akan mencoba tetap mengikuti instruksi pelatih. Sebab, itulah gunanya pelatih, untuk mendidik dan meningkatkan performa pemain. Kalau pemainnya sudah merasa hebat dan tidak mau mendengarkan pelatih, gimana performa tim bisa naik? Gimana peran pelatih bisa kerasa?

Begitulah akhirnya. Lampard dipecat karena dianggap formasinya itu itu saja. Padahal sebenarnya tak ada yang salah dengan logika formasi Lampard. Kalaupun kurang, paling di segi detail.

Sebelum pergi, Lampard mengakui bahwa pemain pemain bintang yang dia beli bukan Diego Costa, Didier Drogba ataupun John Terry. Ini bukan masalah skill, ini masalah mental. Itulah yang hilang dari Chelsea saat ini. Ia mencoba menumbuhkan mental itu. Ia gagal.

Apakah memecat Frank Lampard langkah yang tepat? Ah, tak ada yang tahu. Yang jelas siapapun pengganti Lampard tidak akan bisa bekerja dengan tenang juga karena tuntutan klub dan kondisi dimana Chelsea bukanlah tim dengan pemain ‘bermental jadi’ seperti dulu lagi.

Yang pasti, Lampard dan kenangan itu akan selalu tinggal di benak pendukung The Blues.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here