Mencari Ranjang Yang Makin Jarang

Waktu Baca: 4 menit

courtesey : Daan Stevens

Kasus positif Covid 19 naik dengan drastis dalam beberapa hari ini. Jumlah ranjang di rumah sakit makin berkurang dan banyak pasien positif diminta melakukan isolasi mandiri di rumah dalam keadaan tidak terpantau tenaga medis professional.

 

            Per hari ini (17/1/2021), ketersediaan ranjang untuk pasien Covid 19 makin menipis. Menurut laporan Tirto.ID yang ditulis oleh Irwan Syambudi, dari 27 rumah sakit rujukan Covid 19, 23 di antaranya sudah tak mampu menampung pasien lagi. Dua rumah sakit masih menerima pasien khusus perempuan sementara satu rumah sakit hanya bisa menerima pasien Covid 19 dengan gangguan jiwa. Sementara itu Solopos.com melaporkan bahwa ruang isolasi RSUD Karang Anyar telah overload dan kini IGD digunakan sebagai penampungan sementara. Di Kabupaten Magelang, saat ini telah ada penambahan ranjang sebanyak 30% dari kapasitas semula. Namun jumlah penambahan ini secara realistis hanya sekitar kurang lebih 138 ranjang. Masih ada pertanyaan apakah ranjang ini cukup atau tidak. Dilansir dari Antara, kondisi lebih parah terjadi di Tarakan. Di RSUD Tarakan ruang isolasi sudah overload dan ada 113 orang positif terpapar virus Korona. Berita dari Antara ini tertanggal 4 Januari 2021.  Sementara itu masih banyak pasien positif Covid 19 masuk daftar tunggu di Wisma Atlet Kemayoran.

Kondisi ini sebenarnya sudah dapat diprediksi jauh jauh hari. Pada tanggal 30 Desember 2020 misalnya, Gubernur JawaTengah, Ganjar Pranowo sempat menyebut bahwa tingkat keterisian ranjang rumah sakit di Jawa Tengah sudah mencapai 75 persen. Sementara itu Epidemiolog dari Universitas Gadjah Mada, Bayu Satria Wiratama, menjelaskan bahwa kejadian hari ini sudah dapat dilihat jauh jauh hari. banyak trigger yang menyebabkan kasus pasien positif Korona meningkat tajam dan ketersediaan ranjang makin menipis. Salah satu yang ia soroti adalah libur panjang yang banyak dimanfaatkan masyarakat Indonesia untuk bepergian. Menurutnya, kejadian ini menciptakan momen yang memancing ‘panen kasus’.

Ganjar Pranowo ketika menjadi orang pertama yang menerima vaksin di Jateng

Tim Pakbob.id mencoba untuk mencari tahu bagaimana kondisi riil di rumah sakit rujukan Covid 19. Kami mencari pihak rumah sakit yang bersedia untuk berbagi pengalaman. Salah satu yang bersedia berbagi cerita adalah dokter Bobby Fildian Siswanto yang merupakan ketua tim penanganan Covid 19 dari Rumah Sakit Unggul Karsa Medika, Bandung. Ia mempersilahkan kami untuk bertanya mengenai kondisi penanganan Covid 19 di rumah sakit tersebut. Seperti kebanyakan rumah sakit rujukan lain, RS. Unggul Karsa Medika juga tidak bisa menjanjikan ranjang untuk pasien Covid 19. Sekitar 18 ranjang yang ada sudah terisi seluruhnya saat kami melakukan wawancara.

Menurut Dokter Bobby, tiap harinya ada 3-5 pasien positif Covid 19 yang datang, tapi memang tidak semua dapat terlayani. Hal ini dikarenakan setiap rumah sakit memiliki kapasitasnya masing masing. Untuk Unggul Karsa Medika, 18 ranjang dianggap masih memadai agar setiap pasien mendapatkan pelayanan terbaik.

“Hampir setiap hari full. Saat ini kita fokus untuk merawat yang memerlukan bantuan medis. Untuk yang gejala ringan dan tidak bergejala, kami memberi saran untuk melakukan isolasi mandiri,” kata dokter Bobby. Kebijakan yang dibuat di RS. Unggul Karsa Medika ini bukan kebijakan yang aneh, banyak rumah sakit menerapkan kebijakan serupa. Salah satu sahabat saya juga di tes positif di salah rumah sakit rujukan di Magelang. Ia positif. Namun karena tak bergejala, ia hanya diminta beristirahat di rumah.

Namun tak semua setuju dengan kebijakan rumah sakit rujukan ini.

“sebaiknya jangan isoman (isolasi mandiri) dirumah, tapi pemda harus menyediakan tempat isolasi terpusat. isolasi mandiri terbukti gagal di banyak daerah,” kata Bayu Satria Wiratama.

Sampai hari ini, belum ada penelitian yang khusus melihat dampak negatif dari isolasi mandiri di rumah, terutama di Indonesia. Namun jika kita kita melihat perkembangan kasus Covid 19 di Indonesia, mungkin perlu ada evaluasi mengenai kebijakan isolasi mandiri di rumah. Kenyataannya, bisa jadi pasien Covid 19 cukup aman untuk tetap berada di rumahnya. Namun demikian, apakah pasien Covid 19 ini bisa memastikan bahwa ia cukup disiplin untuk memastikan tak ada yang tertular karena dirinya? Ketika pasien positif Covid 19 dilepas pengawasannya melalui skema isolasi mandiri, tak ada yang bisa memastikan apakah si pasien cukup mandiri untuk memastikan virus yang dimilikinya tidak menyebar.

Kita ambil contoh salah satu kasus penularan yang terjadi akibat pasien Covid 19 yang tidak berhati hati. Pada berita Kompas tertanggal 14 Oktober 2020, diberitakan satu keluarga yang memiliki indikasi terpapar Covid 19 menyempatkan makan soto dan membuat pedagang soto juga ikut terpapar Covid 19.

“Untuk masalah kapasitas RS salah satu solusi jangka pendek adalah menambah RS darurat untuk gejala berat dan tempat isolasi mandiri untuk ringan/tidak bergejala. menambah relawan juga terutama untuk kedua tempat tersebut. selain itu benar benar melakukan pengereman melalui PSBB yang benar benar ketat selama dua minggu karena selama ini PSBB yang dilakukan di banyak daerah cukup banyak yg hanya formalitas. plus menambah kapasitas tracing,” tambah Bayu Satria Wiratama lagi.

Saat ini kita belum mengetahui bagaimana solusi menjawab kebutuhan ranjang untuk pasien Covid 19. Sebenarnya, sejak awal kondisi pelayanan kesehatan di Indonesia memang belum memadai untuk menghadapi pandemi semacam ini. Hal ini bisa kita lihat salah satunya dengan rasio perbandingan ranjang dan jumlah pasien di Indonesia. Dari artikel yang kami rujuk dari Beritasatu.com tertanggal 19 Maret 2020, dibahas rasio ranjang dan masyarakat Indonesia yang belum ideal. Menurut standard WHO, rasio ranjang dan penduduk seharusnya di kisaran 5 : 1000, artinya tersedia 5 ranjang untuk 1.000 orang. Di India, rasio itu adalah 2,71 : 1.000, tentu saja ini angka yang belum ideal. Di Tiongkok, perbandingannya adalah 4,34 :1.000. Angka tertinggi dipegang Jepang 13 :1.000, sementara itu Korea Selatan ada di urutan kedua dengan angka 12: 1.000.

Bagaimana dengan Indonesia? 1,21 : 1.000.

Beberapa hari yang lalu pemerintah telah resmi menggulirkan program vaksinasi Sinovac. Diharapkan vaksinasi ini dapat mengurangi jumlah pasien positif Covid 19 dan memastikan ranjang untuk pasien Covid 19 tidak lagi jarang. (Ardi)

Ardi
Jurnalis, Penulis dan Foodiez. Menulis dua novel di Storial, "Santiran" dan "Di Rawa Peteng". Suka berdiskusi asal tidak emosi

Similar Articles

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertisment

Instagram

Most Popular