Mengapa Ada Orang Yang Menyebalkan ?

Waktu Baca: 3 menitKerap kali kita menjumpai teman atau kerabat yang perilakunya tidak enak dilihat. Bahkan terkadang, ucapan atau tindakannya menyakitkan hati. Lebih susah lagi, dia tidak menyadari bahwa tindakannya salah, atau bahkan menganggap publik sering memojokkan dirinya. Lantas kita ada dalam posisi yang seolah-olah terjepit : mau memarahi tetapi kok itu saudara sendiri, tetapi bila tidak diingatkan kok perilakunya semakin menjadi-jadi.
Kita bahkan tidak habis pikir mengapa ia bisa berbuat demikian tanpa merasa bersalah.

Beberapa pola tindakan yang muncul antara lain, (1) mengklaim seolah-olah diberi kuasa oleh atasan kita untuk mengambil tindakan tertentu, (2) mengambil barang / uang milik komunitas dan tidak melaporkan pada komunitas, (3) meminjam barang kita, merusakkan, namun tidak mau bertanggung jawab, (4) bercerita hiperbolis seolah-olah ia berperan penting dalam kehidupan banyak orang, (5) nekat berhutang tetapi tidak mau mengembalikan, (6) mengadu domba diri kita dengan orang lain hanya karena dia tidak suka dengan pemikiran kita, dan sebagainya.

Mengapa ada orang yang berkarakter demikian ? Berikut penjelasannya secara psikologis.

Intuisi manusia selalu mengarahkan diri untuk bisa bertahan hidup dan selamat. Dalam hal ini keselamatan tidak terbatas pada urusan keutuhan nyawa, tetapi juga isi perut, ekonomi, sosial, kenyamanan, fasilitas, kekuasaan, dan nama baik. Agar bisa selamat, orang akan melakukan apapun yang menurutnya efektif dan efisien untuk mencapai keselamatan.
Sebagai contoh misalnya seorang bayi, ketika bayi lapar, ia akan menangis. Ternyata dengan menangis itu sang ibu lantas memberikan ASI untuk bayi, agar bisa diminum. Bayi pun melalui eksplorasi menemukan bahwa ASI bisa didapatkan dengan cara menyedot puting susu ibu. Di saat yang sama, otak bayi merekam aktivitas tersebut, dan menjadi pola bahwa kalau badan lapar, bayi akan menangis dan mendapatkan rasa kenyang dari ASI. Dengan demikian bayi mendapatkan keselamatan isi perut.
Lain contoh misalnya seorang siswa SMP yang sedang mengikuti ulangan harian. Ia tahu bahwa harus mendapatkan nilai baik agar tidak jadi bahan olok-olokan di kelas. Karena ia tidak cukup siap belajar, ia berusaha menjawab soal yang sulit dengan cara mencontek teman di sampingnya. Ternyata ketika ia mencontek, guru tidak memberi respon apapun, dan hasil ulangannya baik. Di sisi lain, ada teman kelasnya yang mengkritik tindakan mencontek itu. Namun demikian kritikan itu tidak relevan dengan kebutuhannya mendapat nilai baik. Maka siswa tersebut mengabaikan kritikan, dan menjadikan aktivitas mencontek sebagai rutinitas saat ulangan harian. Tanpa merasa bersalah dan malu ia menganggap mencontek itu wajar.

Singkatnya, orang bisa bertahan hidup karena belajar dari pengalaman, entah pengalaman empiris dirinya sendiri, pengalaman mendengar kisah orang lain, atau pengalaman melihat perilaku orang lain. Persoalannya, pengalaman yang dipelajari bisa jadi bertentangan dengan norma umum, etika, atau nilai-nilai keluhuran. Tetapi karena tujuan utamanya adalah untuk bertahan hidup, maka segala cara akan dihalalkan.

Bagaimana jika di kemudian hari ia menghadapi persoalan baru akibat kebiasaannya yang buruk ? Ia akan mencari cara efektif agar persoalan tersebut hilang, atau setidaknya ia tidak perlu bertanggung jawab menyelesaikan persoalan tersebut.

Orang bisa bercerita hiperbolik tentang peran dirinya, karena ia melihat bahwa ketika orangtuanya bersikap hiperbolik, ternyata keluarganya tetap aman dan sejahtera.

Orang berani berdusta dan mengadu domba, karena ia melihat bahwa dirinya akan aman, tidak harus terlibat dalam pertengkaran. Bahkan ia juga mendapatkan rasa aman karena ada yang membela dirinya.

Orang berani mencuri barang / uang milik komunitas, karena ia mengalami bahwa ketika dahulu ia pertama kali mencoba memanfaatkan barang / uang komunitas, tidak ada yang mempertanyakannya.

Orang berani melecehkan atau merendahkan martabat liyan, karena ketika pertama kali ia mencoba melakukan itu, ternyata membuat diri merasa lebih percaya diri, merasa lebih bermartabat.

Lantas bagaimana kita harus menyikapi orang-orang semacam itu ?
Kita butuh keberanian untuk mengkritik dan memarahi, agar ia menghentikan kebiasaannya. Kalaupun ia merasa kesal, kita tidak perlu merasa bersalah.
Atau, bila tindakannya merugikan pihak kita dan memenuhi unsur pidana, kita bisa membawa kasus ke ranah hukum. Sekalipun ia adalah saudara atau teman akrab kita, tetapi hukum dapat menjadi sarana belajar yang baik bagi hidupnya.

Benny Pudyastanto
Peneliti lepas untuk isu kesehatan mental di sekolah, merangkap bapak asrama anak-anak SMA

Similar Articles

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertisment

Instagram

Most Popular