MEREKA YANG MENUNGGU (DAN MENCARI)

Waktu Baca: 3 menit

Sudah kurang lebih dua puluh jam berlalu sejak pesawat SJ 182 dinyatakan hilang dan jatuh di dekat Pulau Laki, Kepulauan Seribu. Banyak hati yang hancur mendengar kejadian ini. Yaman Zai misalnya, pria asal Nias yang bekerja di Pontianak ini belum mengetahui nasib istri dan ketiga anaknya. Salah satu anaknya bahkan baru saja lahir.

 

 

 

Kami dari Pakbob.ID terus menunggu kabar terbaru. Walaupun kemungkinannya kecil, kami menunggu ada kabar gembira. Salah satu perwakilan kami saat ini menunggu di Posko di Bandara Soekarno Hatta Jakarta. Beberapa keluarga korban sudah datang untuk melaporkan mereka yang masih hilang. Rekan rekan media lain juga masih setia menunggu kalau kalau ada kabar bahagia. Namun harus diakui bahwa pencarian korban ini tidaklah mudah.

Berdasar informasi dari Basarnas, sekitar Pukul 07.30 WIB pagi ini, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dan Kabasarnas Marsdya Bagus Puruhito bertolak dari Posko Terpadu JICT 2 menuju lokasi dugaan kuat pesawat Sriwijaya SJ 182. Diduga kuat pesawat jatuh di sekitar Pulau Lancang dan Pulau Laki, kawasan Kepulauan Seribu.

Panglima dan rombongan menggunakan KRI John Lie (358). Di sana mereka melihat langsung lokasi dugaan jatuhnya pesawat. Selain itu Panglima juga memberi motivasi tim SAR gabungan yang sejak kemarin sore berada di LKP (Last Know Position).

“Kami memberikan apresiasi yang tinggi kepada seluruh stakeholder yang terlibat dalam operasi ini, khususnya kepada para insan SAR yang sejak kemarin berada di LKP untuk mencari dan menolong saudara-saudara kita yang sedang mengalami musibah,” kata Kabasarnas.

Di hari kedua ini, intensitas operasi SAR pada hari kedua ditingkatkan secara maksimum. Basarnas telah melaksanakan rencana operasi dengan membagi sektor-sektor pencarian melalui udara dan penyisiran di permukaan air.

HR-1301 (AW) Basarnas sejak pukul 06.00 WIB sudah take off dari Lanud Atang Sedjaja terbang menuju LKP. “Orientasi kami untuk memastikan alut yang tergelar sudah menempati sektor masing-masing sesuai rencana operasi,” jelas Deputi Bidang Sarana Prasarana dan Sistem Komunikasi Marsda TNI Suparmono, yang on board di helikopter tersebut.

Sementara pencarian di permukaan air di sekitar LKP, tim SAR gabungan dibagi dalam 4 sektor dengan mengerahkan kapal masing-masing, KN SAR Basudewa, KN P Marore, KN Alugara, KN Trisula KPLP, KN P Nipah, KN Celurit, KN SAR Wisnu, KP 301, KN 204, KNP-348, KN SAR Karna, KN Belati, KN Catamaran – 504, serta sejumlah Rigid Inflatable Boat (RIB).

Selain penyisiran di permukaan, tim SAR juga melakukan penyapuan bawah air dengan mengerahkan beberapa kapal, masing-masing KRI Rigel, KR Baruna Jaya dari BPPT, KN SAR Wisnu, dan MGS Geo Survey. Kapal-kapal tersebut dilengkapi dengan peralatan bawah air yang canggih, seperti Multibeam Echosounder dan Remotely Operated Vehicle (ROV) untuk mendeteksi dan mencari badan pesawat.

Melengkapi tim SAR Gabungan, Basarnas juga mengerahkan tim penyelam dari Basarnas Special Group (BSG), unsur TNI-Polri, Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia (POSSI),  Indonesia Diver Rescue Team (IDRT), dan lainnya.

Selain mengerahkan alut air dan udara, Basarnas juga tetap mengerahkan SRU darat guna melaksanakan penyisiran atau penyapuan di di sepanjang garis pantai kawasan Kepulauan Seribu. “Kondisi cuaca serta kekuatan arus baik di permukaan maupun dasar laut sangat memungkinkan menghanyutkan serpihan pesawat maupun body part ke pesisir-pesisir pantai di kawasan Kepulauan Seribu,” tegasnya.

Secara total, jumlah personil yang terlibat dalam operasi pagi ini sebanyak 326 personil, jumlah kapal 38 unit, masing- masing dari Basarnas, unsur TNI, Polri, Kementerian Perhubungan, Bakamla, Bea Cukai, BPPT, BNPB, Polairud, KPLP,  Pelindo, MTA, dan lainnya.

Sekitar pukul 10.46 WIB, telah mulai ditemukan serpihan pesawat dan baju dari para korban SJ 182 dari pantauan partner partner kami di lapangan. Cuaca saat itu agak mendung namun belum turun hujan. Dalam kondisi seperti ini, para penyelam yang mencari pesawat tersebut bersikap sangat berhati hati. Jika hujan turun, ada ancaman visibilitas mereka akan terganggu dan kekuatan arus ombak bisa membahayakan mereka.

Saat ini belum ada kepastian, meski kantong jenazah telah disiapkan, tetap ada harapan bahwa kantong jenazah ini tidak perlu digunakan. Kini hanya ada doa yang bisa dipanjatkan untuk keselamatan semua pihak.

Semoga..keajaiban itu hadir di saat ini.

Ardi
Jurnalis, Penulis dan Foodiez. Menulis dua novel di Storial, "Santiran" dan "Di Rawa Peteng". Suka berdiskusi asal tidak emosi

Similar Articles

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertisment

Instagram

Most Popular