Bencana Tata (R)uang dan Lucunya Negeri Ini

Waktu Baca: 3 menitAwal Januari memang sangat memilukan kita semua. Korona masih enggan pergi, grafiknya pun malah meningkat. Belum lagi kabar duka dari peristiwa kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ 182. Air mata ini belum kering sodara! Kita harus menerima kabar terjadi bencana alam banjir bandang dan gempa bumi di kawasan Kalimantan dan Sulawesi. Oh ya, ada juga bencana tanah longsor di beberapa tempat. Sampai kapankah kita akan sering mendengar lagu Ebiet G. Ade, Berita Kepada Kawan terus berulang. Sebenarnya bencana semacam ini bisa dicegah tapi kok kenyataannya entah. Cenderung bubrah. Awal bulan yang sangat menguras emosi. Sungguh!

Di balik keprihatinan itu, saya menaruh sebuah pertanyaan penting. Mengapa curah hujan menjadi kambing hitam dari kejadian bencana tersebut. Salah apa dia? Ketika musim kemarau tiba, hujan diharapkan segera datang. Ketika banjir bandang menyerang, hujan juga kena batunya. Hujan kok kayak cowok, selalu serba salah.

Banjir di Kalimantan Selatan dan Bogor serta peristiwa tanah longsor di Sumedang memang benar karena ada air tapi bukan serta merta salah hujan juga dong. Banjir adalah ancaman yang bisa dimitigasi dan tentunya berguna untuk mengurangi risiko terjadinya kerugian dan korban jiwa. Tetapi kenapa kenyataan selalu berulang kali terjadi. Inilah yang menjadi catatan penting kita semua.

Mari kita coba telaah secara bijak. Banjir dan tanah longsor terjadi bukan karena curah hujan yang tinggi saja, ada faktor pendukung lainnya yang membuat bencana ini menjadi mengerikan. Saya menyebutnya adalah bencana tata (r)uang. Kenapa demikian? Jadi begini, pada intinya tanah longsor dan banjir itu dapat terjadi karena area serapan air hujan menjadi menyusut.

Siapakah yang bisa menyerap kelebihan curah hujan yang digelontorkan langit kepada bumi? Apakah situ mau nelan air hujan sebanyak mungkin? Atau malah biar rumput tetangga yang lebih hijau suruh nyerap air hujan? Yang bisa ngelakuin itu ya pohon dengan akar yang kuat. Bahasa kerennya adalah daya dukung lingkungan. Kalau pohon dibabat habis, hutan digunduli, perkebunan sawit diperbanyak. Terus si air mau diserap siapa?

Daya dukung lingkungan itu sangat diperlukan ketika melakukan penataan tata ruang. Biasanya akan berkaitan dengan pembangunan. Sebenarnya dokumen tata ruang itu sudah ada yang disebut RTRW. Biasanya dokumen itu bakalan tebel banget, bahkan bisa nglebihin disertasi seorang doktor. Pokoknya dokumen itu sangat kerenlah, semuanya dibuat sangat detail dan rinci. Ha mbok suer...

Kembali ke dokumen tersebut, RTRW dan dokumen turunannya pasti akan sangat tebal. Pertanyaannya adalah apakah dokumen setebal itu bakalan dibaca? Sorry ya, anda-anda kan pasti tahu bahwa minat baca di negeri ini rendah. Jangan-jangan hanya ditandatangani saja sama pimpinan tanpa melihat dalamnya. Ya mana saya tau, saya kan bukan yang tanda tangan.

Dilansir dari laman Tempo.co ada indikasi pelanggaran IMB terkait bencana tanah longsor di Sumedang. Dari berita ini kan semakin jelas bahwa selama ini desain tata ruang di negeri ini tidaklah tegas. Hanya sebatas menjadi bahan cetakan dan nantinya ditumpuk rapi dalam lemari.

Dokumen terkait lingkungan dan pembangunan sebenarnya sangatlah penting dalam mengurangi ancaman bencana. Dokumen-dokumen tersebut bukanlah dokumen transaksional dan politis. Banyak nyawa orang yang berada di dalam dokumen tersebut. Lantas bukan atas nama investasi semuanya dibuat menjadi mudah sesuka hati. Kalau memmberi izin ya benar-benar dicermati. Bukan terus karena ada politik balas budi terus semuanya dituruti.

Sampai kapan rakyat kecil akan selalu menjadi tumbal dari sebuah kebijakan dan pembangunan? Mereka juga punya untuk bertahan hidup dan tentunya bahagia, bukan hidup dalam kerentanan. Mengutip pernyataan seorang ahli tata ruang, sejatinya surplus invetasi tidak akan mampu membayar dampak kerusakan lingkungan. Bencana itu arena untuk memperbaiki diri dan lingkungan. Bukan untuk saling menyalahkan. Setelah menyalahkan hujan, siapa lagi yang ingin disalahkan? Silakan saja terus membuat daftar kambing hitam, sampai lupa untuk melihat kepada diri sendiri dan sekitar. Pokoknya semua ini salahnya hujan. Semoga kita semua paham. Amiiiiiin…(*)

 

Diaz Radityo
Pengasuh anak-anak di PAKBOB.ID. Gemar mendongeng dan meramu kata.

Similar Articles

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertisment

Instagram

Most Popular