Sejenak Bersama Tim Kubur Cepat Jenazah Korona

Waktu Baca: 3 menit Malam itu, saat jalanan di Jogja sudah tidak lagi dijejali lalu lalang kendaraan bermotor. Suara sirine meraung-raung dengan kerasnya memecahkan keheningan di seputaran Ring Road utara. Ada dua mobil yang melintas dengan sangat cepat, mobil pertama berperan untuk membuka jalan sedangkan mobil yang kedua membawa jenazah. Para personelnya pun mengenakan APD lengkap, semuanya kompak berwarna putih. Ketika masyarakat sudah terlelap dengan mimpi indahnya. Tim tersebut harus berjibaku dengan waktu, menguburkan jenazah yang terpapar korona. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa korona bukanlah sebuah hal yang bisa  dianggap sebelah mata, karena ia nyata adanya!

  Korona yang masih enggan beranjak dari negeri ini membuat banyak orang dalam diamnya memberikan sumbangsih nyata dalam perang melawan korona. Ada teman saya yang dengan ikhlas memberikan konseling kepada para suspect korona. Lantas ada juga yang menggalang dana untuk memberikan bantuan makanan kepada buruh gendong di pasar-pasar yang ada di Jogja. Senua serempak bergerak berbagi kebaikan dalam kapasitasnya masing-masing. Namun ada juga yang harus berhadapan langsung dengan korona, mereka adalah tim kubur cepat BPBD DIY. Para pemberani yang harus menuntaskan amanah untuk menguburkan jenazah sesuai dengan protokol kesehatan yang sudah ditetapkan.

Pemakaman jenazah dengan protokol Covid 19                             (dokumentasi Mas Nova)

Beberapa waktu lalu saya sempat menemui salah seorang anggota tim kubur cepat tersebut. Saya memanggilnya mas Nova, pria yang murah senyum itu merupakan bagian dari tim kubur cepat yang mulai aktif sejak pertengahan Maret 2020. Grafik korona yang meningkat di bulan tersebut membuatnya harus selalu berjaga selama 24 jam penuh secara bergantian. Dalam satu tim terdiri dari tujuh orang saat bertugas untuk menjemput dan menguburkan jenazah. Tim kecil yang bekerja dalam diam demi kemanusiaan.

“Ya lelah itu sudah pasti mas tetapi kan ini juga dibantu teman-teman dari elemen lainnya. Sehingga saya tidak merasa sendiri dalam mengemban amanah yang diemban. Dibuat senenglah pokoknya,” jawab mas Nova saat ditanya tentang perasaannya selama bertugas.

Sejalan dengan perkembangan yang terjadi, tim kubur cepat sekarang hanya bertugas 12 jam saja per harinya. Dikarenakan kabupaten atau kota sudah memiliki tim kubur cepat sendiri. Tetapi bukan berarti mas Nova dan kolega bisa berleha-leha, tidak sama sekali! Mereka tetap berperan menjadi dukungan ketika ada panggilan menjemput dan menguburkan jenazah sewaktu-waktu.

Mas Nova mengatakan bahwa pada saat mengevakuasi jenazah COVID 19 saat pertama kalinya menjadi memori yang tak akan dilupakan. Tentu masih ada kekhawatiran dalam melaksanakan tugas. Mas Nova dan teman-teman tim kubur cepat tentu masih harus melakukan upaya maksimal walaupun masih banyak kendala yang dialami di lapangan.

Evakuasi pertama inilah yang menjadi tonggaknya hingga saat ini. Melalui evakuasi pertama yang dilakukan membuat mas Nova teman-teman belajar untuk memberikan yang terbaik bagi jenazah COVID 19. Sekali lagi ini bukan semata-mata tentang keberanian tetapi adalah tentang kemauan belajar dan protokol yang harus dijalankan demi memutus rantai korona.

Pria yang sudah sejak enam tahun lalu bergabung dengan BPBD DIY tersebut menceritakan kisahnya saat memakai APD lengkap. Menurutnya, APD lengkap merupakan hal wajib yang dipakai saat melakukan tugas. Hal yang tidak boleh ditawar lagi, karena itu adalah perlindungan pertama dan terakhir kami, katanya.

“ Pakai APD lengkap itu rasanya ya gerah. Kita harus pakai hazmat, masker, sarung tangan dan sepatu bot. Apalagi kita harus juga menjaga nafas saat melakukan penguburan jenazah. Belum lagi kita harus menjaga APD tersebut tidak robek saat bertugas. Wes pokoknya harus serba ekstra,” jelasnya. Setelahnya, mas Nova dan teman-teman harus dilakukan dekontaminasi terhadap APD yang dipakainya. Mereka harus disemprot dengan cairan desinfektan yang disalurkan dengan air bertekanan tinggi. Bisa dibayangkan jika mereka harus disemprot sewaktu malam atau dini hari. Dinginnya air dan kondisi udara kompak menusuk tulang mereka semua.

Cerita lain saat mas Nova ditanya mengenai semangat yang mendasarinya bertahan hingga sat ini di tim kubur cepat.

“Saya dan teman-teman hanya ingin menyempurnakan perjalanan sesama yang meninggal dunia. Kalau bukan kami yang melakukannya siapa lagi?” ungkap mas Nova.

Ia juga menyadari bahwa ada pro kontra di masyarakat terkait dengan tata cara pemakaman jenazah COVID 19. Penolakan oleh warga sekitar juga seringkali dijumpai. Tetapi penguburan tetap harus dijalankan sesuai dengan yang direncanakan. Sehingga mas Nova dan timnya juga tak lupa untuk selalu mengiringi penguburan jenazah dengan doa. Tujuannya sudah jelas untuk membantu arwah yang meninggal dunia diberikan kemudahan untuk bertemu sang pencipta.

Perkembangan grafik korona yang masih fluktuatif membuat mas Nova dan teman-teman harus berjuang lebih lama. Ia berpesan agar teman-teman semua bisa mematuhi protokol kesehatan dan tetap waspada dengan keberadaan korona. Karena itu adalah bentuk dukungan kepada mas Nova dan tim kubur cepat.

Bagi mereka, bisa bercengkerama dengan keluarga adalah sesuatu yang sangat langka dan mahal harganya selama korona masih ada. Mas Nova dan anggoa tim lainnya bukanlah siapa-siapa. Mungkin juga tidak akan ada tanda jasa yang akan melekat di dada mereka. Semangat selalu mas Nova dan teman-teman lainnya yang berada di garda terdepan dalam melawan korona. Lanjutkanlah cita-cita sederhana tim kubur cepat BPBD DIY untuk menyempurnakan perjalanan sesama! Age quod agis… (*)

 

*) Wawancara dilakukan secara daring. Tulisan ini juga pernah dimuat di penceritakata.blogspot.com

 

 

 

 

 

Diaz Radityo
Pengasuh anak-anak di PAKBOB.ID. Gemar mendongeng dan meramu kata.

Similar Articles

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertisment

Instagram

Most Popular