Skripsi, ujung kuliah yang mengkhawatirkan

Waktu Baca: 2 menitBagi para mahasiswa semester 7 dan seterusnya, skripsi bisa menjadi momok yang menakutkan, tabu untuk dibahas, bahkan mungkin serasa jebakan. Semua mahasiswa bisa memulai skripsi, tetapi sedikit yang bisa mengakhirinya dengan cepat, apalagi berkualitas. Mengapa demikian ?

Sebagian mahasiswa tidak menyadari bahwa penulisan skripsi punya maksud terselubung. Selain untuk bukti karya pribadi sebagai bagian dari masyarakat ilmiah, skripsi juga menjadi masa pelatihan mental, etos kerja, dan pengujian motivasi. Untuk mencapai keberhasilan belajar selama skripsi, tidak cukup dengan rajin membaca dan menulis. Diperlukan berbagai kesiapan diri untuk ditempa menjadi pribadi yang berkualitas. Persoalannya, tidak semua siap dengan itu, dan tidak semua mendapatkan cara penempaan yang baik pula.

  1. Takut salah
    Lambat dalam menulis skripsi tidak ada hubungannya dengan prestasi akademik. Tetapi biasanya mahasiswa jadi lambat dalam progress skripsi karena dikelilingi oleh rasa takut : takut salah pilih buku, takut salah format skripsi, takut salah perhitungan analisis, bahkan takut salah membuat judul ! Ketakutan-ketakutan itu akan menghambat progress, karena lantas mahasiswa jadi ragu untuk konsultasi dengan dosen. Takut dimarahi dan dikritik karena kesalahan tersebut.
  2. Pergeseran tujuan dari karya untuk dunia akademik menjadi karya untuk dosen
    Masih berkaitan dengan poin pertama, keinginan untuk membuat karya tulis yang baik lantas berubah menjadi keinginan untuk menuruti dan menyenangkan hati dosen. Padahal esensi diskusi dan bimbingan bukan sekadar mencari kesalahan, tetapi juga melatih mahasiswa untuk berpikir kritis. Maka bila terjadi perbedaan pendapat antara mahasiswa dan dosen, mahasiswa perlu menyiapkan argumentasi yang valid untuk memperkuat pendapat. Bila hanya sekadar ikut kata dosen, ujung-ujungnya adalah kebingungan untuk meneruskan langkah. Ketika sudah salah langkah, mahasiswa cenderung akan menyalahkan dosen yang dianggap mempersulit. Oleh karena itu seringkali kegembiraan mahasiswa yang lulus ujian skripsi bukan karena ia berhasil menemukan pendapat akademik yang menarik, tetapi semata-mata karena sudah selesai proses skripsi. Ketika satu bulan berikutnya mahasiswa ditanya tentang isi skripsi, bisa jadi ia sudah mulai lupa.
  3. Tidak biasa dilepas untuk belajar mandiri
    Skripsi mengandaikan setiap mahasiswa memiliki kemandirian belajar. Bukan sekadar mau mengetik ide sendiri, tetapi mulai dengan mengidentifikasi hal apa yang belum dipahami dan yang sudah dipahami. Belajar mandiri juga berarti mahasiswa berupaya menemukan sendiri bacaan-bacaan yang berkualitas, valid, dan relevan dengan topik penelitian. Manajemen waktu juga sangat penting, karena seolah waktu untuk mengerjakan skripsi cukup banyak, padahal waktu yang ada belum digunakan secara efektif.
  4. Terjebak dengan berbagai komentar orang lain
    Seringkali mahasiswa terjebak dengan komentar dosen, angkatan senior, orangtua, atau teman seangkatan yang sama-sama skripsi. Misalnya tentang format penulisan skripsi, cukup banyak varian yang bisa digunakan, dan semuanya benar. Oleh karena itu sejak awal mahasiswa perlu menanyakan dengan teliti pada dosen, format macam apa yang diharapkan. Meskipun ada pendapat yang berbeda dari teman, atau dari bacaan referensi, paling efektif adalah mengikuti format dari dosen pembimbing.
  5. Tidak mendapat cukup dukungan sosial
    Kita kerap menjumpai teman yang meremehkan proses kita dalam menulis skripsi, seolah diri kita yang malas; seolah menulis skripsi itu hal remeh. Bisa jadi keluarga juga kurang mendukung karena melulu menuntut cepat selesai tanpa peduli kesulitan kita. Bisa jadi lingkungan kita kurang kondusif untuk fokus membaca dan mengetik karena keramaian, atau kesibukan pekerjaan lain. Oleh karena itu penting bagi mahasiswa untuk menemukan tempat yang cocok untuk mengerjakan skripsi. Tempat yang nyaman tidak selalu cocok untuk mengerjakan skripsi, karena bisa jadi kita malah tergiur untuk menonton film ketimbang membuka literatur.

Nah, itulah 5 alasan mengapa proses penulisan skripsi menjadi ujung kuliah yang mengkhawatirkan bagi mahasiswa.

Benny Pudyastanto
Peneliti lepas untuk isu kesehatan mental di sekolah, merangkap bapak asrama anak-anak SMA

Similar Articles

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertisment

Instagram

Most Popular