Waktu Baca: 3 menit

Bu Ngatini adalah generasi kedua dari Soto Bebek Jumirah. Kuncinya bertahan bertahun tahun ternyata sederhana: sikap slow.

            Soto Bebek Jumirah pernah berada pada masa kejayaannya. Sehari mereka memotong lima puluh ekor bebek. Pelanggan datang silih berganti dari luar kota. Tatanan lauk tersedia untuk diambil sebagai peneman soto yang segar dan gurih.

Namun itu cerita lama, hari ini Soto Bebek Jumirah hanya memotong lima belas ekor bebek perharinya. Pelanggan yang datang dari luar kota juga tak sebanyak dulu. Salah satu penyebabnya adalah pandemi Korona. Gara gara Korona, banyak orang takut untuk bertualang mencicipi kuliner baru. Selain karena khawatir akan masalah kesehatan, ya mungkin orang mager saja karena sekarang kemana mana dicek dan dites. Ini jalan jalan atau mau ikut ujian SBMPTN?

Tapi ternyata bukan hanya masalah Korona saja yang membuat Jumirah tak seramai dulu. Ada isu lain: lokasi. Sejujurnya, memang lokasi Soto Bebek Jumirah agak nyempil dan perlu perjuangan untuk ditemukan. Untuk diketahui, Soto Bebek Jumirah letaknya di Jl. Mlaran, Area Sawah, Nglinggi, Kec. Klaten Sel., Kabupaten Klaten, Jawa Tengah 57423. Tempat ini bisa ditemukan di Google Maps, namun karena tidak di tengah kota, maka perlu perjuangan. Untuk parkir mobil juga agak menantang karena space yang terbatas. Saya menyarankan untuk mengendarai Sepeda Motor saja. Pagi pagi, pake jaket, adem adem, jangan lupa meluk orang tercinta sambil ngebut ke Jumirah. Sampai sana langsung makan Soto Bebek anget anget dan enak banget.

Korona dan lokasi, dua hal ini membuat Soto Bebek Jumirah berjuang cukup keras. Namun dua masalah ini tak serumit satu masalah utama: Munculnya saingan. Ya, wajar saja sesuatu yang laku keras memunculkan saingan. Pada tahun 70an, kuliner Soto Bebek hanya dimiliki beberapa gerai termasuk Jumirah. Namun hari ini? Muncul berbagai rumah makan yang menjual Soto Bebek dengan gerai lebih besar, lebih nyaman dan lebih strategis. Selain itu, menu Bebek Goreng yang jauh lebih populer dari Soto Bebek juga menekan Jumirah. Di tengah kondisi demikian, muncul pertanyaan: Bagaimana Jumirah akan bertahan?

Izinkanlah saya berbagi cerita. Pada hari ini, Soto Bebek Jumirah tak lagi dikelola Jumirah. Jumirah dikelola oleh generasi kedua, Ngatini. Ngatini adalah orang asli Klaten, besar dan tumbuh di kota asri di Jawa Tengah ini. Ia telah membantu orang tuanya berjualan sejak lama sampai akhirnya dia menjadi pemilik tetap Soto Bebek Jumirah. Ia mengaku punya satu resep untuk bertahan: Nrimo alias bersikap Slow.

            Tentu strategi Ngatini ini agak kontroversial. Di saat semua pakar bisnis mengatakan bahwa kita harus mengambil inisiatif dan bergerak agresif, Ngatini malah memilih bersikap slow. Namun, dia memiliki dasar berpikir yang bijak. Kadang kala, diam adalah emas. Terlalu agresif malah bisa menjatuhkan diri sendiri. Contohlah hari ini. Banyak orang kehilangan sumber penghasilan karena pandemi. Mereka lalu segera mencari sumber penghasilan lain. Salah satunya adalah bursa saham. Mereka melilhat sisi positifnya saja, saham kan untungnya banyak! Begitu pikir mereka. Tanpa disadari, cara pikir begini menafikkan kenyataan bahwa pasar saham sangat fluktuatif dan berbahaya. Alhasil, banyak orang yang sudah buntung kini malah sekarat sekalian. Ya, diam terkadang adalah jalan terbaik untuk menang.

 

Diamnya Ngatini ini tidak sekedar diam. Selain bersikap tenang, Ngatini terus mempertahankan kualitas dari Soto Bebek. Ya, orang akan tetap kembali kesini karena kualitas sajian yang istimewa. Ketika mencicipi soto racikan Ngatini saya merasa bahwa soto ini ringan dan segar, tidak berat. Beberapa Soto Bebek dibuat dengan bumbu pekat agar rasanya Joss. Tapi kadang soto seperti itu tidak enak untuk sarapan karena membebani kerja lambung. Sementara itu, Soto milik Ngatini membuat kita kenyang sembari membuat lambung terasa nyaman.

Tidak hanya soal rasa yang tetap enak. Harga sajian khas Jumirah yang dibuat Ngatini juga tidak mahal. Semangkok soto dijual dengan harga empat ribu rupiah saja! “Biar semua bisa beli, jadi saya menyesuaikan,” begitu kata Ngatini. Untuk lauknya juga murah. Ada gorengan dan ada suwiran bebek yang harganya juga cuma lima belas ribu rupiah per potong. Jika dibandingkan dengan tempat lain dimana harga per potong bebek bakar bisa mencapai dua puluh delapan ribu rupiah per potongnya. Apa yang dijual Ngatini di Jumirah ini sangat ekonomis.

Hingga hari ini, Soto Bebek Jumirah di bawah Ngatini masih bertahan, entah sampai kapan…Namun demikian, Ngatini memilih untuk berserah dan percaya. Bagi anda yang ingin mencicipi Soto Bebek ini, bisa langsung cus kesana bersama kawan kawan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here