Susahnya Mengajak Anak UGM untuk Bangga Sama Almamater

Waktu Baca: 2 menitUmumnya, mahasiswa UGM itu bangga dengan almamaternya hanya 3 kali dalam sepanjang hidupnya : Pertama, ketika mendapat pengumuman diterima sebagai mahasiswa UGM; kedua, ketika melaksanakan KKN di daerah; terakhir, ketika dalam dunia pekerjaan setelah kuliah.

Selebihnya, hanya segelintir yang bangga karena menang kompetisi. UGM menang Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) itu rasanya biasa-biasa saja. Kalo kalah telak dalam PKM, itu baru masalah.
Pakai jaket UGM itu juga biasa-biasa saja. Pakai gelas dengan logo UGM, rasanya kok “kaya ora ana gelas liyane wae.”
Mahasiswa pakai kaos UGM, kalo bisa nunggu jatah kaos event kepanitiaan, ngapain beli ?

Sepanjang jalanan di Jogja, tidak banyak kendaraan yang memasang stiker atribut UGM. Padahal, mahasiswanya saja ada 80.000, dari strata Sekolah Vokasi sampai Proram Doktoral. Rasanya lebih banyak yang pasang stiker toko ban mobil warna kuning, ketimbang stiker UGM. Tetapi saya nggak tahu apakah di luar Jogja juga demikian. Jangan-jangan di luar Jogja malah motor dengan stiker UGM banyak bersliweran.

Kok aneh, sih ? Kok bisa?

Ya bisa saja. semester pertama kuliah S1 di UGM, kamu akan merasakan betapa bangganya jadi anak UGM.
Waaw…. UGM gitu lho…
Minimal meningkatkan gengsi di hadapan teman-teman alumni SMA. Begitu menginjak semester dua, tiga, perasaan yang muncul akan berubah :
Weh, UGM jebul koyo ngene to?
Masuk semester empat, lima, bahkan sepuluh, perasaan yang muncul berkembang jadi Halah ! ….UGM….

Ini perasaan yang unik. Ada rasa sebel dengan kampus, tetapi di saat yang sama juga tidak membandingkan UGM dengan kampus yang lain. Pemicu perasaan bisa macam-macam : melihat kelakuan teman seangkatan, tahu kualitas kerjaan teman sekelas, merasa stuck dengan perkembangan keilmuan di fakultas, sebel melihat pola pikir anak-anak BEM, suntuk dengan cara dosen membimbing skripsi, atau bahkan sebel dengan pelayanan front office di Tata Usaha.

Ya, layanan Tata Usaha di kampus, entah di Gedung Pusat, Kantor Direktorat, Fakultas, atau Jurusan, adalah salah satu keajaiban di UGM. Kita bisa dengan mudah menemukan bapak atau ibu karyawan yang sengak dengan permintaan kebutuhan administrasi dari mahasiswa. Kalau kamu mau belajar olah kesabaran birokrasi sejak dini, UGM jadi tempat yang mantap.

Rasanya para dosen butuh perjuangan yang besar untuk menanamkan rasa bangga terhadap almamater di benak para mahasiswa. Rasa bangga terhadap kampus yang muncul di semester satu, lama kelamaan menjadi netral karena mahasiswa menjumpai berbagai realitas dalam keseharian di kampus. Ya, netral. Tidak bangga, tapi juga tidak benci. Biasa-biasa saja.

Lalu kapan mahasiswa UGM akan bangga dengan almamaternya ? 
Ya besok kalo sudah lulus kuliah, sudah pulang kampung, ketemu keluarga besar, sudah bekerja di instansi pemerintah, perusahaan BUMN, atau lembaga swasta, rasa bangga itu akan kelihatan.

Nah, oleh karena itu, sekarang saya bangga menjadi alumnus UGM.

Benny Pudyastanto
Peneliti lepas untuk isu kesehatan mental di sekolah, merangkap bapak asrama anak-anak SMA

Similar Articles

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertisment

Instagram

Most Popular