WAJAH BURUK DUOPOLI INDUSTRI PESAWAT TERBANG

Waktu Baca: 3 menit

Industri pesawat terbang pernah menjadi primadona, bahkan Indonesia pernah memproduksi pesawat sendiri. Namun kini, hanya dua perusahaan pesawat yang beroperasi dan menguasai hampir seluruh pasar pesawat dunia.

 

Airbus dan Boeing adalah superpower dari industri pesawat dunia. Mereka menguasai hampir seluruh pasar pesawat. Airbus dikenal dengan ujung kepala peseknya, sementara Boeing dikenal dengan ujung yang lebih lancip. Namun perbedaan mereka tidak hanya soal hidung pesawat, secara finansial dan reputasi mereka bersaing ketat.

Pada kuarter keempat tahun 2019 (satu tahun sebelum pandemi), rapor keuangan Airbus terhitung sangat luar biasa. Berdasar laporan keuangannya, Airbus mampu membukukan keuntungan hingga 3,5 Milyar Dollar Amerika Serikat, atau kenaikan sebesar 56 persen dari periode sama pada tahun sebelumnya. Pemasukan kotor Airbus sendiri mencapai 23,286 Milyar Dollar Amerika Serikat. Secara total aset Airbus sendiri adalah 115,9 Milyar Euro dengan pendapatan total di 2019 mencapai 70,5 Milyar Dollar Amerika Serikat.

Boeing sendiri secara finansial cukup baik, sejak tahun 1997 hingga 2018, Boeing tidak pernah mengalami kerugian. Nilai Aset Boeing saat ini adalah 89,97 Milyar Dollar Amerika Serikat dengan total ekuitas 877 Milyar Dollar Amerika Serikat. Namun, krisis Boeing Max 737 Max telah membalikkan rekor itu dan akhirnya menjatuhkan mereka untuk pertama kalinya. Pada akhirnya perusahaan ini mengalami kerugian yang sangat signifikan.

Untuk diketahui sebelumnya, Boeing 737 Max mengalami dua kecelakaan yang menewaskan 346 orang. Pada 29 Oktober 2018, pesawat maskapai Lion Air mengalami kecelakaan di Laut Jawa yang menewaskan 189 awak pesawat. Dari investigasi, ditemukan bahwa pilot tidak mengetahui bahwa software dari Boeing 737 Max membuat moncong pesawat tiba tiba mengarah ke bawah. Setelah diadakan penyelidikan, ternyata pelatihan yang diberikan kepada pilot hanya dilakukan melalui online dan tidak ada penjelasan mengenai perubahan signifikan pada software.

Berbulan bulan sejak kejadian itu, Boeing tidak melakukan investigasi dan memilih untuk diam ke publik. Kecelakaan keduapun terjadi pada 10 Maret 2019. Pesawat milik Ethiophian Airlines mengalai kecelakaan di dekat kota Bishoftu. Seluruh awak kapal yang berjumlah 157 orang tewas.

Setelah kejadian itu, Boeing berada di bawah penyelidikan FAA dan ditemukan ada kesalahan prosedur pada pengembangan Boeing 737 Max. Ada beberapa protokol keselamatan yang tidak diperhatikan. Hal ini berakibat pada dua kecelakaan yang terjadi di Indonesia dan Ethiopia.

Namun yang mengejutkan, tidak ada satupun eksekutif Boeing yang dipenjara atas kelalaian ini. Boeing ‘hanya’ didenda sebesar 2,5 Milyar Dollar Amerika Serikat dan Boeing 737 Max harus diparkir selama periode waktu tertentu. Keluarga korban yang kehilangan anggota keluarga juga ‘hanya’ mendapat kompensasi sebesar 500 juta Dollar Amerika Serikat. Rasa keadilan mereka tidak terpenuhi.

Jurnalis dari Morocco World News, Jasper Hamann, menilai insiden Boeing Max ini adalah sebagian dari wajah buruk industri pesawat yang kini hanya dikuasai dua pemain besar saja. Ia melihat adanya ilusi profit yang dikejar oleh industri pesawat terbang alih alih menghadirkan produk bermutu, berkualitas dan aman. Hukum juga tidak berjalan dengan baik. Kesalahan yang telah menewaskan banyak orang tidak berdampak konsekuensi pidana pada eksekutif Boeing.

Dari analisa Jasper, perilisan Boeing 737 Max ini dapat ditelusuri ke persaingan tradisional dengan Airbus. Jasper menilai Boeing 737 Max ‘dipaksakan’ rilis hanya karena Airbus merilis mesin terbaru untuk merk andalan mereka Airbus 320. Mesin terbaru Airbus 320 saat itu memiliki kemampuan untuk menghemat bahan bakar sebanyak 15 persen. Selain itu, pilot sudah tidak perlu melalui training tambahan untuk bisa menggunakan mesin ini. Keberadaan mesin baru ini membuat banyak perusahaan maskapai berlomba lomba memesan alat tersebut. Menurut Jasper, kepanikan akan popularitas Airbus 320 inilah yang mendorong Boeing untuk bersikap ceroboh dan sembrono.

Dua puluh bulan setelah investigasi Boeing 737 Max, Boeing 737 Max sudah mengudara kembali dengan resertifikasi. Boeing mengklaim sudah banyak memperbaiki sistem keamanan di Max terutama di sistem MCAS (Maneuvering Characteristic Augmentation System). Awalnya sertifikat kelaikan terbang ini diragukan hanya karena berasal dari FAA. Belakangan otoritas penerbangan Eropa, EASA juga sudah berani menjamin keamanan dari Boeing 737 Max. Meski demikian, pihak Kanada enggan memberikan izin, Indonesia juga belum mengambil keputusan. Tentu saja, faktor imej bahwa Max adalah pesawat maut membuat beberapa maskapai nampaknya enggan untuk menggunakan pesawat jenis ini lagi.

Kembalinya Boeing 737 Max di langit seolah menghapus begitu saja skandal industri pesawat terbesar dalam sejarah itu. Airbus sendiri bukan tanpa masalah. Pada tahun 2017, Airbus terindikasi memberikan suap pada beberapa petinggi maskapai agar membeli mesin dan unit pesawat buatan mereka. Salah satu tokoh Indonesia yang terseret dalam pusaran kasus suap ini adalah Emirsyah Satar. Ekonom UI yang sempat dianggap sebagai salah satu Dirut Garuda terbaik ini divonis delapan tahun penjara oleh Pengadilan Tinggi Jakarta. Skandal ini juga membuat Airbus harus didenda ratusan juta Dollar Amerika Serikat.

Dalam sejarahnya, selain dua kasus terbaru itu, dua kekuatan ini sudah bersaing dalam banyak aspek. Mereka sering saling lempar tuduhan bahwa negara homebase mereka banyak memberi keuntungan lewat regulasi maupun subsidi. Namun pada tahun tahun terakhir ini persaingan mereka makin memburuk dan telah mengorbankan banyak nyawa. Apakah hal ini akan terus berlanjut ke depannya? Hanya Tuhan yang tahu.

 

 

Ardi
Jurnalis, Penulis dan Foodiez. Menulis dua novel di Storial, "Santiran" dan "Di Rawa Peteng". Suka berdiskusi asal tidak emosi

Similar Articles

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertisment

Instagram

Most Popular