Waktu Baca: 3 menit

 

Ibarat belajar, Teddy Soeriaatmadja menolak jadi lapet. Tapi ia mengerjakan pekerjaan rumahnya dengan sungguh sungguh.

Affliction dapat disaksikan di Netflix Indonesia

            Tahu Lapet? Lapet dalam bahasa Medan artinya belagu. Lapet ini adalah kosakata kesukaan saya setelah menyaksikan rangkaian animasi di TikTok yang menurut saya lucu. Jadi animasi itu memiliki cerita sederhana, namun di satu titik salah satu tokoh akan marah dan mengucapkan sumpah serapah dalam bahasa Medan. Iya..bener..hiburan orang bosan karena pandemi ya gitu aja. Gitu aja udah seneng.

Kembali ke review film Affliction. Saya kira, cross genre itu tidak mudah. Saya mengalaminya saat menulis ‘Rencah’ (dapat dibaca di Storial). Saya yang biasa bergerak di genre Misteri-horor-thriller ini harus menulis komedi romantis. Saya agak lapet dengan mencoba berbagai formula. Jujur saja, menulis komedi romantis gak gampang..tapi saya eager untuk mencoba lagi. Hup..hup..yuk..yuk..bisa!

Dalam film ini, Teddy mencoba untuk cross genre. Biasanya dia adalah sutradara drama kemanusiaan yang handal. Saya tidak bilang dia jago dalam bikin drama percintaan. Well, melihat kembali Badai Pasti Berlalu versinya, kita gak akan menyangka dia akan comeback dengan film sekuat Lovely Man. Bukan berarti Badai jelek. Itu adalah film yang indah dengan sentuhan sinematografi yang ‘wah’ di jamannya. Namun menurut saya film itu agak tawar. Saya kehilangan emosi film itu. Tapi Lovely Man? Saya cuma bisa bilang, anj*ng bagus banget. Ya, jujur saja, film Lovely Man itu sederhana tapi meninggalkan kesan dan luka yang dalam di benak saya.

Makanya, ketika dia menghadirkan film horor, saya langsung tertarik. Lebih tertarik lagi ketika banyak yang mengatakan. Wah, filmnya bagus lho! Sebagus apa sih? Saya cuma bisa bilang: Ini film bagus dan klasik. Saya tidak peduli dengan kritik pedas dari beberapa orang mengaku kritikus film. Toh, ini adalah sebuah review dari orang yang bergelut langsung dengan dunia penulisan fiksi. Setelah melihat film ini, saya langsung ingin menyodorkan naskah ‘Santiran’ dan akan bilang, You do it whatever you want! I want you to make this on motion picture!

            Sebut saja saya subyektif. Tidak masalah. Tapi memang saya menyukai kisah kisah sederhana yang diramu dengan cantik sebelum memukul kita dengan keras cepat kemudian kabur untuk meninggalkan kesan mendalam seumur hidup. Affliction adalah film seperti itu. Film ini dibuka dengan cukup keras, sebelum kemudian membangun misterinya satu persatu, keping demi keping, dengan penokohan yang menarik. Ada beberapa bagian membosankan…but wellit is actually hard to keep people’s eyes on the screen for mystery like this. Karena apa? Nonton film ini memang perlu konsentrasi, berpikir dengan sangat teliti.

Petunjuk sebenarnya sudah disebar dari awal film. Sebagai penulis, saya sudah langsung tahu ada yang salah dengan pohon itu (No Spoiler!). Namun, cara Teddy membangun jawaban dari misteri itu adalah nilai plus yang menurut saya mengagumkan. Teddy tidak mencoba sesuatu yang baru dan aneh. Ia belajar dari berbagai film horor klasik. Teknik teknik sinema yang ia pakai bisa kita temukan di tempat lain. Ia tidak lapet dan mencoba jadi sok pintar. Ia mengerjakan tugasnya dengan baik dan menatanya dengan cantik sembari menggunakan insting sinemanya untuk memberi emosi pada saat yang tepat dan membuat penontonnya berteriak tertahan. What the fuck man!

Ya gitu…

Ada koreksi? Ada. Saya menyukai teror yang disajikan tapi saya akan menambahkan unsur gore. Pada akhirnya ini film Netflix yang mana kita tidak harus selalu menuruti standard moral bioskop untuk mendatangkan penonton. Saya kira banyak sisi gore yang bisa disajikan dalam film ini.

Lalu, saya juga merasa ada beberapa part membosankan yang bisa dipotong dari film ini. Selain itu, saya juga merasa karakter Raihaanun agak kurang berkembang. Ia masih karakter wanita baik baik yang berusaha menjadi orang baik meskipun memiliki banyak kesulitan. Sampai akhir film. Karakter itu tidak berubah. Tidak juga digali siapa dirinya meski karakter Hasan terus digali lewat berbagai celah. Sampai credit roll berputar, kita tidak tahu apa yang salah dengan ibu Nina, masa lalu Nina dan seterusnya. Hal ini cukup mengganggu karena dia adalah protagonis utama. Ada perasaan seperti Nina perlu di sana karena cerita butuh protagonist. Agak ironis rasanya.

Bagaimanapun juga, Affliction tetap harus anda tonton. Sendirian. Pake Selimut. Dan jangan terlalu fokus, nanti kaget banget pas jumpscare.

           

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here