Waktu Baca: 4 menit
courtesey : Man of Steel

Banyak anak terlahir sebagai calon orang besar. Akan tetapi, orang tuanya tidak siap. Potensi anakpun terbuang percuma. Bahkan ada yang sampai jadi pembunuh atau bunuh diri.

            Pernah terpikir oleh saya, bahwa bagi beberapa orang, punya anak seperti berak. Berak dalam artian ini suatu kewajiban yang harus dilakukan. Kalau tidak dilakukan akan melahirkan penyakit. Padahal memiliki anak adalah pilihan. Anda bisa membuat anak anda. Jika anda tidak ingin memiliki anak tapi tetap ingin berhubungan badan, ada alat ciptaan manusia bernama kondom. Jangan percaya mitos kalau memakai kondom rasanya beda. Itu sebuah pembodohan karena dengan teknologi terkini, kulit kondom bisa dibuat sangat tipis, elastis tapi kuat. Anda tidak harus memiliki anak. Memiliki anak bukan seperti berak. Anda tidak perlu menyamakan anak anda dengan tai.

Sayangnya, masih banyak yang menganggap bahwa memiliki anak itu seperti berak. Lebih parah lagi, mereka memperlakukan anak mereka seperti tai. Tai yang manfaatnya sedikit di atas tai. Soalnya, anak kalau pinter dan jago cari duit, bisa jadi tabungan deposito pensiun berjalan. Orang tua seolah lupa bahwa anak adalah manusia juga, mau menikah, berkeluarga dan hidup mandiri.

Sebenarnya, pada tingkat paling hakiki, anak tidak pernah punya tanggung jawab pada orang tua. Tidak ada anak yang minta dilahirkan. Keberadaan anak adalah keinginan orang tua yang enggan memakai kondom karena rasanya gak sama. Namun, anak harus tetap mengasihi orang tua karena bagaimanapun, orang tua masih ada hubungan keluarga. Tapi, menurut saya, orang tua tidak pernah punya hak meminta pertanggung jawaban pada anak. Selain egois, anda tanpa sadar telah menyamakan anak anda dengan tai.

Karena anda yang telah melahirkan anak anda, maka anda wajib membahagiakan dia. Anda juga harus membantu dia survive dalam kejamnya dunia. Anda tidak punya hak untuk mengatur atur hidup dia, apalagi kalau anda tidak tahu apa apa soal anak anda. Anda tidak boleh marah kalau anak anda bertingkah aneh dan nyentrik karena bisa jadi itu adalah pertanda kehebatannya. Andalah yang harus bertanggung jawab pada anak anda. Jangan sampai anda malah menekan dan menghancurkan anak anda dengan kebodohan anda, apalagi sampai membunuh potensi anak anda karena anda enggan belajar dan mikir.

Mari saya bicara mengenai inti kegagalan parenting paling besar: menggagalkan kesuksesan anak anda.

Sebenarnya anak hebat memang sering dikira anak bermasalah. Banyak orang tua cukup tolol sehingga tak menyadari kalau sebenarnya mereka memiliki anak yang hebat. Dalam buku Outliers karya Malcolm Gladwell. Malcolm mengatakan bahwa anak yang punya tingkah aneh bisa jadi memiliki kelebihannya sendiri. Orang intelek memang mudah bosan dan enggan mengikuti norma sosial. Ia punya tingkah dan cara berpikir yang berbeda. Tidak usah memaksakan anak anda jadi normal apalagi mengatur hidupnya. Anda malah akan menjerumuskan dia dalam kegagalan. Anak hebat haruslah difasilitasi, karena kalau dia dipaksa menjadi normal. Malah ada bahaya yang mengintai. Bisa jadi anak anda menjadi psikopat, gila atau bahkan bunuh diri. Ini bukan bercanda. Ini serius.

Kisah Jennifer Pan misalnya. Wanita keturunan Vietnam kelahiran Kanada ini selalu dipaksa orang tuanya menuruti keinginannya. Dalam bahasa barat, orang tua Pan dikenal sebagai Tiger Parents (orang tua macan). Pan yang jenius dipaksa jadi normal dan menuruti standar orang normal. Lelah dengan perlakuan orang tuanya, Pan lalu mengatur rencana untuk membunuh kedua orang tuanya. Kasusnya menjadi salah satu bukti kesalahan parenting yang berdampak fatal.

courtesey: thestar.com

Sementara itu, saya memiliki seorang teman. Ia memiliki prestasi akademis yang buruk dan memiliki masalah perilaku yang parah. Iapun berpindah sekolah beberapa kali. Namun orang tuanya tidak pernah memperlakukan anak itu sebagai anak bermasalah. Anak itu dibiarkan mengembangkan talentanya hingga sekarang ia menjadi pesulap sukses.

Albert Einstein dianggap bodoh dan akhirnya menjalani home schooling. Ternyata cara berpikir otaknya berbeda dengan manusia kebanyakan. Akhirnya iapun sukses dikenal sebagai fisikawan berprestasi karena orang tuanya mau memfasilitasi dia.

Orang hebat memiliki otak yang berbeda dengan manusia kebanyakan. Ia tidak suka diatur dan mengikuti aturan. Mengapa demikian? Aturan dibuat oleh penguasa. Penguasa adalah orang hebat juga dan ia cukup cerdas untuk membuat peraturan yang membuat dia tetap bertahan sebagai orang yang berkuasa dan menjadikan orang normal sebagai alat pemenuh ambisinya. Tapi, orang hebat di bawahnya takkan mau tunduk pada aturan dan strata sosial yang dibuat oleh si penguasa. Ia ingin menantang dan menjadi orang terhebat. Itulah siklus orang hebat. Sayang, hambatan terbesar justru datang dari orang tua naïf yang mengikuti peraturan dan berharap mendapat reward dari peraturan yang telah dia ikuti. Mereka  bahkan terlalu bodoh hingga ikut menekan anaknya yang memiliki potensi luar biasa.

Bicara soal ini bisa panjang kali lebar, saya memberikan contoh mudah saja. Contoh hal kocak yang sering dipaksakan orang tua naif pada anaknya adalah siklus ‘harus sekolah di sekolah negeri ternama supaya berhasil lalu menjadi PNS’. Peraturan ini dibuat oleh penguasa supaya tak ada yang mengusik kursinya. Berapa banyak PNS yang bisa memiliki istana mewah, mobil sport dan berbagai kemewahan lainnya? Berapa banyak PNS yang seenggaknya jadi menteri atau bupati saja deh? Ah, ini hanya peraturan retoris. Pernah saya tanyakan pada seorang Doktor Ilmu Sejarah kenalan saya. Ternyata peraturan ini awalnya muncul dari kerajaan Belanda dan digunakan untuk melindungi posisi ratu. Alamak…dan kita masih mengikutinya…Saat memiliki anak yang berpotensi hebat, orang tua naïf dan bodoh malah memaksa anaknya menjadi manusia sia sia.

Anak hebat banyak hancur karena orang tuanya. Banyak orang tua hanya mau enaknya saja karena mereka merasa punya anak terpaksa karena ‘harus berak’. Padahal, seandainya orang tua mau bersabar, mau belajar, bisa jadi sebenarnya dia sedang beruntung karena memiliki anak yang hebat dimana si anak hebat ini bisa merubah hidup orang tuanya menjadi lebih baik. Jangan sampai anda kelewat naïf dan bodoh karena tidak menyadari anda sedang diperbudak oleh struktur pemikiran yang dibuat untuk mem’babu’kan diri anda.

 

3 KOMENTAR

  1. Banyak orang tua cuma mikirin omongan tetangga tapi gak peduli masa depan dan kebahagiaan anaknya. Kayak gini memang harus dilawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here