Apa Yang Dijual Anya?

Waktu Baca: 3 menitAnya Geraldine berevolusi dari selebgram kontroversial menjadi ikon Pop Culture. Sebenarnya, bagaimana dia bertransformasi?

            Mari kita memutar waktu pada 2017. Saat itu Anya Geraldine terkenal sebagai selebgram dengan konten vulgar. Anya saat itu dikenal dengan akunnya Angelic Demon. Dia bukan penyanyi, bukan artis, hanya ‘cantik dan seksi serta berani’. Ia sempat mengunggah konten pacaran vulgar di atas kapal pesiar yang membuatnya ditegur oleh KPAI. Anya dianggap merusak generasi muda Indonesia. Tak ada yang menyangka ia akan mengalami perubahan radikal dalam kurun waktu lima tahun.

Pada hari ini, Anya adalah seorang artis sukses, lingkaran pergaulannya sudah di tingkat tinggi bersama keluara Gelael, Raffi Ahmad dan bahkan politisi terkenal, Basuki Tjahaja Purnama. Ia tidak hanya sukses di dunia seni peran, tapi juga di bidang bisnis. Ia menjual banyak hal termasuk kosmetik, alat olahraga hingga mainan anak. Beberapa situs mencoba memperkirakan berapa kekayaan Anya Geraldine. Dari beberapa situs dan analisa bisa disebut bahwa perkiraan pemasukkan Anya sekitar 500 juta sebulan. Wow!

Lalu, bagaimana Anya bisa bertransformasi dengan sukses? Apa yang dia jual?

Banyak orang berkata bahwa perbedaan orang sukses dan gagal adalah dari cara dia menanggapi masalah. Ketika Anya mengalami masalah dengan KPAI, ia memilih untuk tidak mengeluarkan pernyataan yang defensif ataupun agresif. Ia memilih untuk meminta maaf dan mengalah pada tekanan publik. Sikap Anya ini mendapat simpati masyarakat. Semua orang bisa salah dan kesalahan Anya bisa dibilang pelanggaran norma sosial semata, bukan masalah hukum.

Karakter Anya yang rendah hati dan terlihat lemah lembut inilah yang mendorong simpati masyarakat terutama kaum adam. Tiba tiba saja pencarian pada Anya meninggi. Iapun memilih untuk tak menanggapi dengan berlebihan. Anya berjalan seperti biasa, tapi ia tetap menggunggah konten di media sosialnya. Kali ini lebih halus dan menghindari percikan kontroversi meski terkadang masih mencoba ‘agak nakal’ mendekati tema tema yang hot. Namun Anya bermain aman.

Anya juga tidak mencoba menjadi tokoh yang memiliki tanggung jawab sosial. Ia tidak menyuarakan pandangannya pada isu sosial, politik dan apalagi agama. Ia memilih merendah dan menjauhkan diri dari hal hal itu. Di satu sisi, orang akan mengganggap dia tidak punya keberanian dan bisa saja dia dilupakan. Namun di lain sisi, keputusannnya untuk menjaga jarak ini malah memberinya peluang untuk diterima di semua kalangan apapun suku, agama, ras dan afiliasi politiknya.

Selanjutnya, jika dibandingkan beberapa selebgram lain, Anya memilih posisi sejajar dengan para penggemarnya. Beberapa selebgram memamerkan kekayaan dan kebijaksanaan mereka, mereka bertindak layaknya orang hebat. Jangan salah paham, ya mereka hebat tapi mereka menggurui dan menaruh batas jelas bahwa mereka ‘lebih’ daripada fansnya. Cara mengaktualisasikan diri seperti ini tidak salah tapi rawan digoyang ketika ada sosok lain yang lebih karismatik muncul dan menenggelamkan si selebgram. Bukan berarti Anya selalu benar, namun setidaknya ia cerdas dalam menempatkan diri.

Selain positioning  yang cerdas, Anya memainkan trik psikologi dengan baik. Ia membentuk brandnya sebagai The Girl Next Door yang ramah. Sadar atau tidak sadar, ia telah mengaplikasikan teori kebutuhan Maslow dengan tepat. Anya tidak bisa menjadi pacar semua fansnya, tapi ia bisa menjadi sahabat dan crush yang selalu ada meski tak menerima pernyataan cinta. Anya memberikan fansnya kebutuhan untuk mendapatkan kebutuhan sosial, penghargaan dan aktualisasi diri. Anya dengan santai mengeluh di media sosial dan membuat fansnya bisa memberikan saran dan berbincang bersamanya. Anya juga sering menggoda fansnya dengan caption yang seolah mengajak fansnya berbicara dari hati ke hati. Fans Anya memiliki keterikatan emosi dengan Anya. Mereka menganggap Anya bukan lagi idola melainkan sahabat mereka sendiri.

Selain positioning dan pola komunikasi, Anya adalah seorang milenial sejati. Ia adalah seorang oportunis yang pandai memainkan celah dan memanfaatkannya dengan maksimal. Ia tak gagu untuk bergabung dengan agensi raksasa dan pergaulan hiburan mainstream. Tanpa bermaksud membandingkan dengan selebgram seangkatannya, transformasi Anya dari penghibur indie menjadi selebritas professional terhitung mulus. Ia tidak demam panggung dan menghayati pekerjaannya dengan baik. Menurut saya, inilah talenta Anya. Ketika rekan sepantarannya masih ngalor ngidul cari perhatian, Anya mendapatkan perhatian itu dengan satu hentakan saja.

Apakah tidak ada faktor Luck pada Anya? Entahlah, jujur nama Anya itu nama yang enak dan asyk diingat. Selain itu nama Anya mudah dikreasikan menjadi slogan slogan menarik ( ‘Harta, Tahta, Anya’ misalnya). Untuk informasi, nama Anya bukanlah nama asli dari Anya Geraldine. Apakah pemilihan nama Anya juga salah satu strategi agar dirinya mudah dijual sebagai ikon? Bisa jadi. Selain itu memang Anya muncul di saat yang tepat. Di saat kehidupan romansa modern begitu kompleks dan pesimis, Anya muncul sebagai penenang dan juga fantasi kehadiran wanita ideal di dunia serba materialistis dan minim empati.

 

Ardi
Jurnalis, Penulis dan Foodiez. Menulis dua novel di Storial, "Santiran" dan "Di Rawa Peteng". Suka berdiskusi asal tidak emosi

Similar Articles

Comments

      • Mas, maaf yaa, Kekeyi itu kasus khusus. Jangan bandingkan sama orang yang cantik nggak jelek nanggung.

          • Maaf mas, saya tidak merasa gagal. Saya seorang karyawan swasta dengan gaji yang lumayan. Saya tidak iri dengan Anya. Tapi saya berharap, ada laah pendapat yang adil. Jangan jangan seolah olah Anya itu pinter banget

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertisment

Instagram

Most Popular