‘Crazy Rich Asian’ Yang Sering Disalah Pahami

Waktu Baca: 4 menitBagi saya ‘Crazy Rich Asian’ bukanlah sekedar drama romantis yang lucu dan monumental. ‘Crazy Rich Asian’ adalah sebuah kritik satir pada kehidupan manusia yang masuk dalam kategori the 1% (khususnya keturunan Tiong Hoa) dan kehidupan palsu mereka.

courtesey : Warner Bross

            Kevin Kwan tak pernah menyangka ‘Crazy Rich Asian’ akan menjadi sebuah fenomena. Awalnya, buku ini hanya menjadi salah satu perenungan atas kematian ayahnya di tahun 2010. Di saat saat terakhir ayahnya, Kwan yang merupakan imigran Singapura yang hidup di Amerika Serikat banyak berbincang dengan ayahnya mengenai kehidupan orang Asia di Singapura. Hasil perbincangan itu lalu ditulis oleh Kevin Kwan sebagai sebuah novel yang bertujuan memotret kehidupan orang Asia di AS saat melihat kehidupan orang Asia di benuanya.

Secara jujur, Kwan mengakui bahwa ia hanya bermaksud menulis saja tanpa memiliki sebuah tujuan mulia untuk memperjuangkan budaya Asia khususnya Tiong Hoa misalnya. Yang tidak ia sangka, bukunya menjadi dasar film studio Hollywood pertama yang seluruh castnya adalah orang Asia sejak 25 tahun terakhir. Penghasilannyapun tak main main, 238,5 juta Dollar Amerika Serikat. Sementara bukunya banyak mendapat review positif dan menjadi best seller di banyak negara serta menjadi buku favorit Anna Wintour.

Buku seringkali menjadi refleksi pribadi seseorang. Kwanpun mungkin tak menyadari bahwa bukunya telah ia tulis sebagai sebuah kritik satir dari kehidupan orang Tiong Hoa yang termasuk dalam The 1%. Ia telah menuliskan kegundahan hatinya dan menuangkannya ke bukunya secara tidak sengaja (atau disengaja?).

Kwan, dalam bukunya, secara gamblang banyak berbicara mengenai the 1% ( baca : the one percent). Satu persen orang yang memiliki semuanya di Singapura. Konon, pengalaman bertemu The 1%  ini pernah dirasakan Kwan saat ia masih hidup di Singapura. Mereka memiliki area lapangan tenis di sebelah parkiran pesawat jet. Mereka memiliki Rolls Royce khusus untuk mengantar mereka kemana mana. Dalam bukunya, Kwan banyak menceritakan kehidupan The 1% ini mulai dari pernikahan yang megah, barang barang mewah, kebutuhan untuk hadir di media massa secara konsisten plus apik dan seterusnya. Di tengah tengahnya, ada ‘orang biasa’ (Rachel Chu) merasakan penderitaan karena harus beradaptasi dengan The 1% dan menjadi saksi bahwa kehidupan The 1% tak seindah yang dilihat.

Berbicara soal The 1%.  The 1% ini sebenarnya eksis dimana mana. The 1% hidup di kota besar bahkan di kota kota kecil di Indonesia. The 1% ini adalah keluarga kaya yang dihormati (atau merasa dihormati di kalangannya). Kenapa di buku Kwan digambarkan keluarga ini sebagai keturunan Tiong Hoa? Ada banyak faktor, bisa jadi karena Kwan keturunan Tiong Hoa. Bisa jadi karena memang kebanyakan The 1% di Singapura adalah orang keturunan Tionghoa. Untuk kasus di Indonesia, muncul argumen bahwa beberapa The 1% ini adalah keturunan Tiong Hoa, namun pernyataan ini saya kira kurang tepat karena banyak juga The 1% yang bukan keturunan Tiong Hoa. Tanpa bermaksud mendefiniskan ras The 1%, anggaplah saja The 1% sebagai The 1% saja, tidak lebih.

Mereka bangga pada diri mereka sendiri. Padahal, pada kenyataannya mereka tidak sehebat itu. The 1% berusaha mati matian mempertahankan statusnya. Mulai dari menjaga dengan siapa anggota keluarganya kawin. Mereka juga berusaha menutupi setiap aib keluarga. Mereka juga terus berusaha keras menumpuk pundi keluarga dan seterusnya. Namun, yang mereka lakukan kadang bukan untuk kebahagiaan mereka. Semua itu sekedar untuk ego mereka. Jauh di dalam diri mereka, keluarga mereka tak berfungsi layaknya keluarga. Masalah finansial mereka juga sebenarnya sama saja dengan kita dan sebenarnya terus bergejolak. Saling iri dan curiga bertumbuh di antara mereka. Pada akhirnya, layaknya mayat yang disimpan di lemari, bau busuknya akan menyeruak juga. The 1% mungkin akan selalu berhasil menutup nutupinya hingga aib The 1% ini hanya berakhir sebagai mitos dan omongan selewat warga yang hidup di sekitar The 1% ini. Tapi sampai kapan? Karena tak ada keburukan yang bisa ditutupi selamanya.

‘Crazy Rich Asian’ adalah media tepat untuk mengkritik The 1%. Kisahnya yang dipotret dari kacamata Rachel Chu membuat The 1% ini keliatan belangnya. Bayangkan, Rachel Chu yang merupakan seorang professor ekonomi diperlakukan dengan semena mena. Padahal di mata banyak orang, Rachel orang hebat dan berprestasi. Namun, Rachel tidak dihargai karena garis keturunan yang berpotensi menjadi aib The 1%. The 1% seolah tak merasa diri mereka manusia. The 1% berpikir bahwa semua harus sempurna, mereka lupa bahwa manusia adalah gudangnya ketidaksempurnaan. Mereka berpikir harus melakukan semua ini demi menjaga warisan keluarga dan nama baik.

Padahal, warisan keluarga dan nama baik tak memiliki nyawa dan bahkan tak peduli andaikata mereka dijaga atau tidak. Mereka adalah ciptaan manusia yang berimajinasi bahwa diri mereka spesial. Pada akhirnya tak ada manusia yang spesial karena semua orang memiliki kesempatan sama untuk bahagia dan menjalani hidup sebaik baiknya. Konsep ini seringkali dilupakan oleh The 1%. The 1% sebenarnya adalah manusia manusia menyedihkan yang dikurung ketakutan dan bayang bayang bahwa mereka akan kehilangan semuanya. Padahal ketakutan mereka itu memang akan terjadi suatu saat. Kekayaan bisa hilang begitu saja dengan cepat atau lambat. Nama baik hanyalah khayalan mereka saja.

Sejarah mencatat kejatuhan banyak keluarga besar. Monarki Prancis hancur di pisau Guillotine. Keluarga Getty tak pernah lagi menjadi penguasa bisnis dunia. Keluarga kerajaan Inggris menjadi contoh hancurnya keluarga yang mengutamakan tradisi dan tidak mempedulikan perasaan manusia dengan mundurnya Pangeran Harry dari tugas kerajaan serta drama hubungan Charles-Lady Diana. Seluruh keluarga Raja Birendra dari Nepal dihabisi sendiri oleh anggota keluarganya. The 1% berusaha lari dari takdir yang pasti karena tak ada yang abadi. Mereka selalu berusaha memperpanjang napas dengan mengorbankan banyak hal termasuk kebahagiaan dan kesempatan hidup individual yang penting. Pada akhirnya semua sia sia.

courtesey : Warner Bross

Di akhir bukunya, Kwan menolak untuk memberikan ending yang menohok sehingga kita mengira bahwa pada akhirnya semua akan baik baik saja. The 1% akan mendapat pengampunannya. Eleanor Young yang suka memfitnah dan sombong digambarkan akan mendapat akhir bahagia. Tidak..tidak semudah itu Ferguso. Biasanya manusia manusia egois ini tak ‘seberuntung’ tokoh fiksi seperti Eleanor.

Seperti yang telah saya sampaikan tadi, The 1% tak akan bisa selamanya bergantung pada keberuntungan. Seperti kata Buddha, keterikatan dan ketergantungan pada yang tak abadi adalah sumber penderitaan. Hal ini yang sering terlupakan oleh The 1%. The 1% seringkali lupa untuk rendah hati dan malah merusak kehidupan sempurna mereka lewat ketakutan ketakutan akan hal yang pasti. Mereka seringkali tidak belajar bersahabat dengan ketidakpastian dan ikhlas pada kehidupannya.

 

 

Ardi
Jurnalis, Penulis dan Foodiez. Menulis dua novel di Storial, "Santiran" dan "Di Rawa Peteng". Suka berdiskusi asal tidak emosi
Berita sebelumyaTerima kasih Prameks !
Berita berikutnyaPadi adalah Pohon Nasi

Similar Articles

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertisment

Instagram

Most Popular