Freshgraduate Ditanya “Kapan Nikah?” di Tengah Pandemi :  Kami Masih Cari Kerja

Waktu Baca: 3 menit

courtesey : Allan Mas

Sebagai salah satu lulusan baru angkatan Korona, saya merasakan betul sulitnya cari kerja. Lowongan kerjanya sih tetap ada, tapi saingannya bukan hanya sesama lulusan baru, melainkan juga tenaga profesional yang terdampak pandemi. Sekalinya ada yang mau menerima lulusan baru untuk bekerja, gaji pokok yang diberikan bahkan bisa kurang dari UMK DIY yang luar biasa (minim) ini. Kalau mau naik gaji sampai jadi UMK, bahkan harus jadi karyawan tetap selama dua tahun terlebih dahulu. Jadi UMK bukan lagi standar minimum upah, tapi target maksimum yang harus dicapai oleh pekerja. Poster-poster lowongan pekerjaan bahkan sudah tidak sungkan menginformasikan gaji hanya Rp.1.000.000,00 (satu juta rupiah perbulan!).

Eh, di tengah kondisi paceklik  seperti ini, kok ya masih ada yang tega bertanya kepada fresh graduate tentang “Kapan nikah?”. Mereka ini apa nggak tahu ya kalau biaya nikah itu mahal, karena harus nyenengke lambe tonggo. Mereka apa juga nggak mikir, kalau nikah lalu berencana punya anak itu biayanya juga ngga sedikit, kecuali emang anaknya mau disekolahin seadanya, sebisanya sampai kalau harus putus sekolah di tengah jalan dan mau kawin muda juga nggak papa.

Selain persoalan finansial, fresh graduate di tengah pandemi ini juga masih butuh membangun kepercayaan diri. Butuh membangun self esteem supaya tidak merasa lemah dan tidak berkontribusi apa-apa. kebutuhan ini nggak akan serta merta bisa dipenuhi dengan menikah. Malah, kalau sama diri sendiri aja belum bisa percaya gimana mau membangun relasi yang kokoh, bersama sampai surga sama pasangannya. Ya kecuali kalau menurut situ, menikah itu cuma urusan halal-haramnya hubungan kelamin. Padahal selain halal-haram masih banyak indikator lain yang perlu diperhatikan, ma’ruf(baik) misalnya.

Ma’ruf ini krusial lho untuk menjaga pernikahan supaya tidak menjadi hubungan yang serba memaksa dan saling mengobjektifikasi. Misalnya dalam hal persetubuhan, nggak cukup cuma tau cara yang halal, tapi juga perlu berkomunikasi dengan cara yang ma’ruf, tidak saling menyakiti dan memaksakan kehendak, musyawarah mufakat, saling menghargai dan sebagainya. Berlaku juga dalam hal keseharian. Sayangnya relasi yang ma’ruf ini nggak terlalu seksi untuk dibahas dan dijadikan konten youtube. Membangun relasi kaku berdasarkan halal-haram justru lebih menarik karena nanti thumbnail nya bisa pakai tanda seru yang banyak misalnya : haram hukumnya menolak permintaan suami!

Dari beberapa paragraf di atas saja, kita sudah bisa lihat kalau selain kesiapan biologis, ada setidaknya tiga hal lain yang fundamental sebelum menikah yaitu finansial, psikologis dan pendidikan. Belum lagi hal-hal lain seperti keterbukaan informasi, kesiapan menerima karakter satu sama lain, cara mengambil keputusan bersama sampai berkenalan dengan cara melampiaskan kemarahan satu sama lain. Bukan untuk bikin ribet, tapi menikah kan keputusan sekali untuk seumur hidup (kecuali kalau mau nikah tiga bulan terus cerai, laiknya trial) jadi pertimbangannya ngga cukup modal dengkul saja.

Mbok sudah, kalau memang tidak berniat untuk menjadi kawan berjuang untuk para lulusan baru ini, setidaknya jangan nambahi beban dengan nanyain kapan nikah mulu. Tenang saja, mereka kalau memang sudah merasa siap segala sisinya, bakal nikah dengan sendirinya kok, nggak perlu didorong-dorong dengan tekanan sosial yang kalian berikan. Lagian, persoalan kapan nikah ini kan hak individu, pilihan individu yang nggak akan berpengaruh secara signifikan terhadap kehidupan kalian sebagai masyarakat Indonesia gitu lho.

Memangnya kalau saya nikah hari ini juga, UMK DIY langsung naik? Atau UU Ciptaker langsung lenyap? Kan enggak to? Jadi sama-sama nggak dapat untung menanyakan soal kapan nikah ini. Dari sisi yang ditanya juga bisa jadi nambah beban atau sekedar merasa tidak nyaman. Dari sisi yang nanya juga nggak akan dapat keuntungan apa-apa setelah bertanya. Kalau mau basa-basi yang saling menguntungkan tuh bisa nanya “Jadi kapan rencananya kita buka bisnis bareng?”

Eh, tapi kurang berasa ya Indonesia-nya kalau basa-basinya ngomongin bisnis? Kurang mengusik privasi gitu. Saya lupa kalau kita sudah terlanjur terbiasa berbasa-basi dengan cara yang beneran basi dan hobi mengusik privasi.

Fatimatuz Zahra
Bukan anak indie tapi suka mainin kata-kata

Similar Articles

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertisment

Instagram

Most Popular