Ilusi Negara Raksasa : Sebuah Refleksi Mengenai Myanmar

Waktu Baca: 4 menitSeringkali negara raksasa dianggap sebagai negara potensial dan menyimpan banyak hal positif. Padahal, ke’raksasa’an sebuah negara selalu menyimpan masalah.

 Dunia gempar. Sudah sepuluh tahun Myanmar menjadi negara yang relatif demokratis. Namun dalam waktu satu hari saja, seluruh pemimpin partai NLD besutan Aung San Suu Kyii ditahan oleh militer. Militer lalu mengumumkan masa darurat selama satu tahun. Bagi yang sudah hapal sejarah, mereka melihat ini hanya sebagai pintu untuk kembalinya Myanmar dalam pemerintahan Junta militer.

Kami dari tim Pakbob.id mendapat pesan surel dari Amnesty Internasional. Mereka menyebutkan bahwa penahanan Aung San Suu Kyii ini tidak berdasar. Mereka juga menegaskan bahwa ada kemungkinan sanksi internasional diberikan pada Myanmar. Tidak hanya itu saja, mereka menegaskan bahwa tindakan dari pihak Junta Militer ini akan menciptakan trend kekerasan dan kekebalan hukum pada pelanggar HAM. Apakah pesan dari Amnesty Internasional ini akan merubah keadaan? Mari saya sediakan bahan refleksi untuk menjawab dari dalam diri teman teman masing masing.

Kembali ke kilas balik ketika NLD memenangkan pemilu pada tahun 1990. Meski memenangkan suara hingga 70%, toh nyatanya NLD tidak sempat memerintah dan Junta Militer kembali berkuasa. Kondisi Myanmar tak ubahnya lingkaran setan. Proses transisi demokrasi seolah hanya kembali untuk sampai ke titik dimana Junta militer kembali berkuasa. Ada apa sebenarnya?

Tidak banyak yang mau mengakui jawabannya. Bahkan Professor Hubungan Internasional terbaik sekalipun. Tapi inilah jawabannya: tidak tahu. Benar, membicarakan negara sebesar Myanmar, jawaban paling netral adalah tidak tahu. Kita hanya bisa melihat luarnya saja, tapi kita tidak pernah tahu bagaimana konflik di dalamnya. Tengoklah isu Rohingya. Benar kita mempermasalahkan isu kemanusiaan di dalamnya, namun kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di dalam Myanmar sendiri.

Tak pernahkah terpikirkan oleh kita bahwa Suu Kyii harus memilih antara membela Rohingya atau membiarkan dirinya ditahan lagi? Ya, isu Rohingya bisa jadi adalah pintu untuk menjatuhkan Suu Kyii dari posisinya. Junta akan mengatakan Suu Kyii melanggar undang undang karena telah membela warga negara asing di tanah Myanmar. Karena itulah, Suu Kyii memutuskan menjadi ‘orang jahat’ dan menutup mulut terkait isu Rohingya. Ia tidak mungkin mengorbankan seluruh Myanmar hanya untuk Rohingya. Sisi inilah yang terkadang tidak kita lihat di tengah agresivitas kita berbicara mengenai isu Rohingya. Ya, politik memang begitu bung, penuh kelokan.

Tapi semua itu hanya berakhir di kemungkinan. Myanmar adalah negara besar. Terbesar kedua setelah Indonesia di Asia Tenggara. Dahulu, Myanmar adalah kerajaan termaju di Asia Tenggara. Konon banyak orang memilih studi di Myanmar daripada tempat lainnya. Namun kolonial Inggris merubah semuanya. Saat dalam proses kemerdekaan. Sebenarnya telah ada perjanjian beberapa daerah akan merdeka sendiri sendiri. Misalnya saja wilayah Karen. Namun, ketika pemimpin Myanmar, Jendral Aung San dibunuh, maka berakhirlah juga kesepakatan itu. Myanmar berdiri menjadi satu negara dengan nama awal Burma. Negara raksasa ini akhirnya hanya menjadi kantong kemiskinan dan ajang mempermalukan kemanusiaan. Mengapa demikian?

Lagi lagi jawabannya satu: tidak tahu. Banyak yang mencari alasannya, tapi itulah negara raksasa, begitu kompleks, begitu rumit dan kebanyakan gagal memperbaiki kesejahteraan penduduknya. Salah satu alasan mengapa kegagalan itu terjadi karena pemimpin yang ada melupakan hakikat perbedaan dalam ilusi untuk menyederhanakan betapa kompleks negara mereka.

Negara Burma dulu dibangun dengan sudut pandang suku Burma saja. Mereka tidak mempedulikan (antara tidak mempedulikan atau tidak paham) bahwa tiap suku bangsa di Burma termasuk Karen dan Mon misalnya, memiliki falsafah hidup, kebudayaan dan isu sosial yang berbeda dibandingkan mereka. Akibatnya konflik sering terjadi.

courtesey : Alain Bonnardeux

Ini jugalah yang terjadi  dengan katakanlah Indonesia pada era Orde Lama dan Orde Baru. Indonesia dipandang sama dengan Jakarta..sama dengan kehidupan di Pulau Jawa..maka dari itulah, banyak sosok dari Indonesia Timur dan Sumatera melakukan pemberontakan. Mereka merasa tidak dihargai. Isu sosial politik mengemuka karena sudut pandang yang sangat sempit.

Ya, besar, apalagi raksasa, tak selalu berarti baik. Selama bertahun tahun Myanmar menjadi negara ‘raksasa’ secara wilayah dan penduduk. Di atas kertas ini potensi, di kenyataan ini bencana. Akhirnya muncul pertanyaan, buat apa jadi negara raksasa namun toh isinya hanya masalah dan darah?

Permasalahannya, kadang ada nasionalisme buta di sini. Keinginan untuk mempertahankan satu negara agar tetap utuh dan besar tak sejalan dengan kepentingan urgen untuk memberi kesejahteraan pada rakyat.

Lalu, apakah tak boleh kita mempertahankan keutuhan tanah air? Tentu tidak salah, namun harus disadari bahwa negara ada untuk kesejahteraan rakyatnya. Seringkali, pola pikir yang terbentuk malah rakyat untuk negara. Tak perlu membubarkan negara raksasa, yang ada hanyalah penyesuaian.

Amerika Serikat butuh waktu bertahun tahun sebelum muncul dengan sistem federalisme yang dewasa. Sementara itu, Tiongkok menggunakan kekuatan kontrol penuh lewat sistem provinsial untuk menjamin negaranya tetap utuh meski ada kritikan di sana sini. Indonesia menerapkan semi federalisme dengan menggunakan sistem otonomi daerah yang sudah digunakan sejak jaman Presiden Habibie. Apakah ada perkembangan? Ya, tentu ada hal positif yang muncul. Akan tetapi, pada akhirnya, kisah kompleksitas negara raksasa masih terasa termasuk ada isu rasisme, separatisme, kesenjangan ekonomi dan diskriminasi. Kompleksitas negara raksasa akan selalu ada karena sifat ego manusia dan warisan kelam sejarah tak mudah dihilangkan.

Kompleksitas ini selalu menyimpan masalah. Tak pernah berhenti. Kadang masalah itu bisa ditahan hingga tak meledak, kadang ia meledak dan memakan korban. Kini Myanmar sedang merasakan pahitnya kompleksitas gigantisnya sebagai sebuah negara.

Ardi
Jurnalis, Penulis dan Foodiez. Menulis dua novel di Storial, "Santiran" dan "Di Rawa Peteng". Suka berdiskusi asal tidak emosi

Similar Articles

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertisment

Instagram

Most Popular