Waktu Baca: 3 menit

Hari ini, 21 Februari 2021, adalah Hari Bahasa Ibu. Maka, kami akan membahas hal mendasar mengenai bahasa: aksen.

courtesey : berkat bahasa saya terhubung dengan saudara saya dari Nepal, Ukraina, dan Amerika Serikat. Love them all

            Tahun 2017, saya pergi ke Jakarta untuk melakukan wawancara kerja dengan salah satu pemimpin redaksi televisi terkenal. Saya diminta melakukan dummy live report. Setelah mendengar saya melakukan dummy live report, dengan tenang dia berkata begini, “Wah, cocok kamu mengisi televisi kampung!” Wah, kaget dan tersinggunglah saya. Apa-apaan ini, aksen saya disinggung, padahal public speaking adalah salah satu kemampuan yang saya banggakan. Saya mencoba memahami bahwa aksen medok Jawa yang saya miliki mungkin memang bukan standar TV nasional. Tapi saya jadi berpikir, mengapa aksen medok Jawa dianggap tidak standar? Siapa yang memutuskan bahwa medok Jawa itu tidak standar dan berkesan kampungan?

Dahulu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga pernah mengalami nasib serupa. Ia diejek karena aksennya, apalagi saat pidato dengan menggunakan bahasa Inggris. Banyak yang membanding-bandingkan Jokowi dengan rivalnya saat itu yang lancar berbahasa Inggris. Saya sendiri sempat berpikir, terlepas dari siapa pemimpin yang lebih kompeten, apa hubungannya aksen dengan kemampuan memimpin?

Ternyata memang “penyakit” diskriminasi aksen ini sudah menahun. Waktu saya di Bandung, teman-teman saya ramai-ramai les aksen. Iya, les aksen! Mereka bisa memilih aksen Australia, Inggris dan sebagainya. Mereka malu berbicara dengan aksen asli mereka. Walah, apakah les aksen ini berhasil? Entahlah. Yang pasti si penyelenggara les aksen ini akan cukup makmur dibuatnya. Hehehe… .

Jujur saja, karena telah menjadi korban diskriminasi aksen, ada kejengkelan saya soal kebiasaan menertawakan aksen ini. Ada pikiran buruk pada diri saya mengenai orang yang melakukan diskriminasi aksen. Namun sekarang saya memiliki pandangan lain, bahwa aksen netral di televisi tentu lebih nyaman didengar oleh semua kalangan, baik itu bahasa Inggris maupun bahasa Indonesia. Sebab, beberapa aksen memang sangat khusus sehingga sulit didengar orang di luar masyarakat aksen tersebut. Oleh karena itulah saya belajar untuk menetralkan aksen saya saat siaran podcast maupun saat siaran live di televisi.

Aksen yang netral juga menunjukkan bahwa kita menghormati semua kalangan. Memang tidak ada salahnya bicara dengan aksen, namun saat kita bisa menetralkan aksen kita, maka orang lain akan memahami bahwa kita memiliki effort untuk memahami keadaan mereka. Toh pada akhirnya hakekat berkomunikasi adalah menyampaikan pesan. Kalau kita bicara dengan aksen yang terlalu kental banget seperti susu kental manis, ya tidak ada komunikasi namanya.

Meski akhirnya saat siaran televisi maupun podcast saya memilih berbicara dengan aksen netral, pada keseharian saya berbicara dengan aksen normal. Saya tidak malu dengan aksen saya selama pelafalannya jelas. Menurut saya aksen Jawa medok tidak kampungan. Itu adalah imej yang dibikin oleh para komedian. Presiden-presiden kita toh juga berbicara dengan aksen medok Jawa.

Tapi kemudian timbul pertanyaan: kenapa diskriminasi aksen masih ada? Ya saya jawab: sama saja, bung. Selama bertahun-tahun kita telah ditanami pola pikir dan stereotype tertentu. Misalnya saja, pemikiran bahwa orang jahat pasti beraksen Rusia kental atau orang desa tak berpendidikan yang pasti ngapak. Mungkin tak ada maksud buruk dari si pembuat stereotype selain “keren aja” atau “lucu aja”. Meski demikian, tanpa sadar mereka telah menanam pesan di kepala masyarakat bahwa aksen sama dengan kepribadian orangnya. Ya, sama cara kerjanya dengan diskriminasi ras dan agama. Kalau diskriminasi ras dan agama saja susah dihilangkan, sama halnya dengan diskriminasi aksen akan susah dihilangkan. Apalagi stakeholder yang berpengaruh malah ikut-ikutan, secara langsung maupun tidak langsung, mendukung upaya diskriminasi aksen.

Waduh, lalu sampai kapan? Ya enggak tahu juga. Tapi saya melihat ada presenter ngetop seperti Wahyu Wiwoho dan Rory Azhari yang tak malu berbicara dengan aksen Jawa mereka meski telah dinetralkan agar lebih friendly dengan telinga seluruh rakyat Indonesia. Saya juga melihat presenter Yasir Neneama yang masih membiarkan aksen Kupangnya sebagai warna dari caranya membacakan berita. Toh mereka diterima oleh banyak orang. Jadi, sebenarnya diskriminasi aksen itu sudah mulai tergerus walau memakan waktu lama.

Lha kalau bahasa Inggris gimana? Malu gak sih, kita bicara bahasa Inggris dengan aksen ke-Indonesia-an? Weitz, sebenarnya tak ada masalah berbicara bahasa Inggris dengan aksen ke-Indonesia-an, orang bule dan native speaker juga tak mempermasalahkannya. Mereka justru kagum. Rata-rata orang bule hanya bisa satu bahasa. Ketika mereka mencoba bicara dengan bahasa lain, lawan bicaranya malah mengajak berbicara dengan bahasa Inggris. Salah satu teman native speaker saya berujar, “Aksen itu gak penting, kan yang penting kita bisa berkomunikasi!”

Nah lho, jadi ngapain capek-capek les aksen? Pada akhirnya, hakikat berkomunikasi adalah saling bertukar, menyampaikan, dan memahami pesan. Tak penting kita membicarakan masalah aksen secara berlebihan.

 

2 KOMENTAR

  1. Di Singapore, orang ngomong medok singlish biasa aja.
    Di India, orang ngomong Inggris medok India, biasa aja.
    Di Jepang, orang ngomong Inggris medok Jepang, biasa aja.

    Medok adalah identitas.
    Banggalah dengan medok.
    Berbahasalah Indonesia dengan medok daerahmu masing-masing.
    Indonesia medok Jawa tengah.
    Indonesia medok ngapak.
    Indonesia medok Sunda.
    Indonesia medok Jawa Timur.
    Indonesia medok Bali.
    Indonesia medok Papua.
    Indonesia medok Nusa Tenggara.
    Indonesia medok Kito Galo.
    Indonesia medok Batak.
    Dll.
    Berbanggalah.
    Itulah salah satu bukti kekayaan budaya kita, Indonesia tercinta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here