Waktu Baca: 2 menit

Ada sebuah alat yang fungsinya untuk menyatukan ujung dari beberapa lembar kertas agar mudah dibawa. Kelompok lembar kertas tersebut lantas kita sebut sebagai satu berkas. Kiranya hampir semua orang tahu alat itu, tetapi kita menyebutnya dengan berbagai nama. Kadang-kadang karena perbedaan nama lantas membuat dua orang salah paham dan bertengkar. Padahal esensi benda yang dibicarakan sama saja.

Nama resmi alat itu adalah Stapler. Tetapi orang ada yang menyebut Staples, Steples, Straples, Hekter, Jeglekan, Cekrekan, Ceklekan, Ceklikan, Pengokot, Drek, atau Drek-drekan. Barangkali sebutan itu berasal dari suara yang terdengar ketika Stapler digunakan untuk mengikat berkas kertas. Ada yang menterjemahkan suara itu sebagai “Cekrek”, “Ceklek”, “Jeglek”, atau “Drek”. Soal itu terserah yang memberikan nama, tetapi kita tetap sepakat dengan bentuk barang yang kita maksud.

Sejak kecil saya mengenal barang itu sebagai Stapler. Setahu saya, besi yang menjadi ‘peluru’ Stapler disebut sebagai Staples. Satu ketika dalam sebuah aktivitas pekerjaan, kolega saya meminta saya mengambilkan sebuah barang yang disebut Hekter. Saya bingung. Pikir saya, Hekter itu maksudnya Hector, tokoh dalam Pirates of Caribbean. Karena saya kebingungan, kolega saya tidak sabar dan mengambil barang yang ia mau. Saya baru paham kalau yang diinginkannya itu adalah Stapler.

Di kesempatan lain ada juga teman yang meminta saya mengambil barang yang dia sebut sebagai ceklekan, sembari tangan kirinya memegang berkas dokumen dan tangan kanannya memperagakan cara memakai Stapler. Untuk yang begini saya langsung paham maksudnya. Tetapi dalam hati saya merasa geli, “Nyebutnya Ceklekan, bro…!”

Pernah juga saya membeli Stapler di toko alat tulis. Pada dus kemasan jelas tertulis Stapler. Setelah saya bayar dan melihat nota, saya jadi merasa geli. Rupanya toko itu menyebut barang yang saya beli ini sebagai Straples. Ya, ucapan dengan lidah lokal.

Dalam dunia perlengkapan alat tulis kantor, ada dua alat yang dimaksud untuk menyatukan berkas kertas. Ada Stapler, ada Gun Tacker. Gun Tacker biasa dipakai untuk penjilidan kertas yang cukup tebal, misalnya di atas 50 lembar. Kadang-kadang ada yang memakai Gun Tacker untuk peralatan memasang dekorasi ruangan. Perbedaan Stapler dan Gun Tacker terletak pada hasil akhir kerja. Pada Stapler, kaki ‘peluru’ yang dipakai untuk menusuk kertas akan ditekuk supaya kertas terjepit dengan kuat. Sementara pada Gun Tacker,‘peluru’ ditembakkan pada berkas kertas, tanpa kakinya ditekuk. Bila kita bermain-main dengan stapler, ‘peluru’nya tidak akan terlempar jauh. Tetapi ketika kita menggunakan Gun Tacker, perlu berhati-hati karena ‘peluru’ yang ditembakkan bisa terlempar jauh. Salah-salah ‘peluru’ bisa terlempar mengenai badan orang. Tentu, rasanya pedih karena seperti ditusuk jarum. Ukuran ‘peluru’ Gun Tacker lebih besar dari yang digunakan Stapler pada umumnya.

Kembali ke urusan Stapler, belum ada survey yang menjelaskan tentang dasanama Stapler ini. Perbedaan nama ternyata bukan karena faktor kedaerahan, tetapi sangat tergantung bagaimana keluarga atau lingkungan sekolah mengajarkannya. Supaya kita tidak salah paham gara-gara satu barang ini ketika bekerja dengan orang lain, sebaiknya gunakan kode gesture tangan ketika meminta Stapler. Tangan kiri memegang berkas kertas, tangan kanan memperagakan gerak tangan seolah sedang menggunakan stapler. Niscaya orang akan tahu maksud kita.

So, kamu masuk kelompok Stapler, Hekter, Jeglekan, Drek, atau Pengokot?

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here