Ketika Dunia Meninggalkan Aung San Suu Kyii Layaknya Sahabat Palsu

Waktu Baca: 3 menitPergaulan internasional tak ubahnya pergaulan kita kita ini. Jika kita sedang kesusahan, seringkali hanya ada ucapan ‘turut berduka cita’ semata…

            Aung San Suu Kyii mungkin salah satu tokoh dunia paling nelangsa. Di usianya yang ke tujuh puluh lima, ia malah ditahan oleh Junta Militer untuk kesekian kalinya. Padahal ini saat terbaik untuk beristirahat dan menimang cucu. Iyee kan?

Tuduhan yang diberikan kepadanya cukup aneh. Ia dituduh mengimpor alat elektronik secara illegal. By the way, kita tidak sedang berbicara mengenai handphone atau smartphone bernilai milyaran dollar Amerika. Yang kita bicarakan hanya enam buah handie talkie. Ya, seorang pemimpin negara ditahan hanya karena enam buah handie talkie!

            Dunia mengecam. Ya hanya sampai mengecam saja. Setelah rapat yang katanya seru, dewan keamanan PBB tidak menghasilkan keputusan apa apa. Paling banter sanksi ekonomi. Sanksi ekonomi mungkin salah satu sanksi internasional paling bodoh yang pernah ada. Maafkan saya berkata kasar. Tapi sanksi ekonomi itu menyusahkan rakyat negara tersebut, bukan menyusahkan si pemerintah diktator. Mungkin maksudnya Dewan Keamanan PBB adalah sanksi ekonomi akan membuat sengsara rakyat korban si diktator sehingga mereka bikin kerusuhan dan jatuhlah si diktator. Happy Ending! Happy Ending gundulmu…

Kerusuhan di Myanmar terjadi berulang kali. 1988, 2007, 2012 dan sekarang berpotensi terjadi di 2021. Pemerintahan sipil hanya lewat dan mampir saja, tidak ada perubahan signifikan dari kerajaan emas ini. Junta militer selalu memiliki alasan dan senjata untuk kembali lagi. Katanya, mereka mencoba melindungi persatuan Myanmar. Ah, setiap perbuatan selalu ada alasannya. Batman juga mau membunuh Superman karena katanya Superman berbahaya. Nah, menurut pemerintahan militer, katanya seorang wanita lanjut usia yang diterima hampir 83 persen rakyat berbahaya. Katanya…anda boleh percaya atau tidak, toh kita juga bukan warga negara Myanmar.

Jujur, susah betul jadi Suu Kyii. Masyarakat internasional kayak enggak tahu Junta Militer kayak apa aja. Hal yang terjadi pada tanggal 1 Februari 2021 kemarin sebenarnya sudah kelihatan dari awal. Sejak ‘katanya’ ada pemilu di tahun 2011. Konstitusi yang dibentukpun cukup luar biasa…aneh..Tapi dunia gak ada komentar. Malah dunia dengan senang hati ikut memberi tekanan tidak perlu pada Suu Kyii. Mau contoh? Yuk bicara soal Rohingya.

Ketika Suu Kyii memilih diam soal kasus Rohingya, dunia asyk mencaci Suu Kyii. mereka seolah lupa bahwa 25 persen kursi parlemen dipegang oleh militer. Mereka juga lupa bahwa Jendral dan menteri perbatasan, luar negeri tidak di bawah Suu Kyii. Lha, kalau mereka tidak dibawah Suu Kyii, gimana Suu Kyii mau menghentikan mereka? Katakanlah sekarang Suu Kyii mengecam dan membela Rohingya. Lu kira militer gak akan pakai alasan itu untuk menjatuhkan Suu Kyii? Lu kira Suu Kyii gak bisa didakwa karena membela warga negara asing? Terakhir kali Suu Kyii dipenjara, dia cuma nolongin WN asing yang gak sengaja berenang ke arah yang salah di rumahnya yang emang di tepi danau. Sekarang aja Suu Kyii didakwa cuma karena enam handie talkie. Menurut anda? Tapi seperti halnya pergaulan anak muda zaman now, lebih mudah ngatain Suu Kyii daripada menolong dia.

Ketika Suu Kyii dipenjara pertama kalinya. Apa reaksi dunia? Mengecam, lalu? Memberi hadiah nobel. Lalu? Gak jelas. Semua orang juga bisa. Nyatanya 20 tahun kemudian Suu Kyii masih menjadi tahanan rumah. Kita yang #dirumahaja selama setahun udah ngerasa bosen. Ini Suu Kyii jauh dari suami dari anak anak selama puluhan tahun cuma dikasih ucapan ‘wah anda hebat, nih nobel!’. Kalau saya jadi Suu Kyii mungkin pengen teriak, ‘teman palsu kalian semua, dasar Kampang!’

Dari semua kritik ini, saya cuma ingin bilang. Ya inilah realitas pergaulan internasional yang katanya untuk semua. Semua negara, bahkan diri kita sendiri nasibnya ya ada di tangan kita. Globalisasi adalah sebuah hubungan pertemanan yang sangat rapuh. Contoh saja, begitu Korona meledak, kita langsung menganggap negara lain sebagai ancaman. Alih alih bekerja sama kita menutup diri dari semua pihak. Dalam hubungan internasional inilah yang disebut sebagai Realisme. Semua negara adalah ancaman dan kita harus kuat karena diri kita sendiri.

Banyak negara yang katanya promotor demokrasi, pembela kebebasan dunia, toh akhirnya diam saja melihat kondisi Myanmar/Burma. Mungkin mereka melihat lebih banyak ruginya membela Myanmar, toh memang kemerdekaan dan demokrasi tidak pernah gratis. Tidak bisa Tukiman si tukang jahit misalnya bermimpi dirinya akan dirawat oleh negara. Kalau mau makan ya kerja! Kalau mau sehat ya kerja! Kalau bisnismu mengganggu yang kaya, Ya awas! He..he..he..

Beberapa sahabat saya di Myanmar mengubah foto profilnya menjadi warna merah (warna Partai Suu Kyii). Hal ini untuk menunjukkan bahwa mereka siap membela Aung San Suu Kyii. Tapi saya bilang ke mereka—terus terang—jangan sampai kamu mati konyol karena politik. Kamu ditembakin ampe mati toh belum tentu satu rudal saja diterbangkan dari benua Amerika ke Naypyidaw. Mending bersikap realistis karena yang katanya selalu ada untuk kamu toh nyatanya pergi juga.

 

 

 

 

Ardi
Jurnalis, Penulis dan Foodiez. Menulis dua novel di Storial, "Santiran" dan "Di Rawa Peteng". Suka berdiskusi asal tidak emosi

Similar Articles

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertisment

Instagram

Most Popular