Waktu Baca: 2 menit

Selama ini beredar foto viral yang menggambarkan seorang gadis lugu yang menggendong seikat kayu bakar dengan sabit di tangan. Gadis itu sedang berjalan kaki di jalanan hutan pinus. Sudah ribuan orang memakai foto di atas untuk berbagai pendapat. Ada yang memakainya untuk menggambarkan suasana desa, kultur orang jawa, gadis pekerja keras, kesederhanaan, atau menggambarkan Jogja. Ada pula yang menganggap foto itu sebagai settingan, karena melihat kulit si gadis yang halus dan sawo matang, seolah seorang model yang bergaya menggendong kayu bakar.

Kisah di balik foto viral gadis pembawa kayu bakar
Sumber : Dwikoen Sastro Photography

Foto tersebut adalah hasil jepretan dari Dwikoen Sastro, fotografer dari Jogja. Dalam akun Facebook nya hari Kamis malam (25/2) ia menyebutkan demikian :

 Baru dapat khabar gadis ayu pencari kayu yang kufoto sekitar 10tahun lalu kini sudah jadi sarjana. Selamat ya nduk cah ayu…
Moga hidupmu kedepan penuh berkah dan keberuntungan.

 

Saya menelisik lebih jauh tentang cerita di balik foto viral tersebut dengan bertanya langsung kepada sang fotografer.

Cerita berawal dari perjalanan Mas Dwikoen kira-kira tahun 2011 bersama seorang kawan ke arah hutan pinus sekitar perbatasan Kulonprogo – Purworejo. Ketika dalam perjalanan, ia melihat seorang anak perempuan yang menggendong kayu bakar dan memegang sabit. Mas Dwikoen memilih berhenti sejenak dan berbalik arah mengejar anak itu. Rasanya itu objek foto yang menarik. Lalu Mas Dwikoen  beberapa kali mengambil gambar gadis itu dari arah depan. Setelah mengambil gambar, Mas Dwikoen bertanya agak curiga, “jam semene kok ora sekolah to nduk?” (Jam segini – pagi – kok tidak sekolah sih, Nak ?). Dia hanya menjawab “mboten” (tidak).

Lantas mas Dwikoen bersama kawannya melanjutkan survey di kawasan Pegunungan Menoreh. Sepanjang perjalanan itu pikirannya merasa terganggu dengan pengalaman pertemuan gadis tersebut. Seminggu kemudian Mas Dwikoen kembali ke kawasan itu untuk mencari tahu lebih jauh tentang si gadis. Akhirnya ia bertemu kembali, bahkan sampai ke rumah si gadis.

Gadis itu sebut saja Wati, berasal dari keluarga petani miskin. Ketika itu Wati duduk di kelas 1 SMP, dan sudah 1 bulan tidak sekolah karena terkendala biaya. Lantas Mas Dwikoen berinisiatif mencarikan bantuan biaya pendidikan untuk Wati, agar sekolahnya bisa diteruskan setidaknya sampai lulus SMP. Dengan hasil bantingan bersama rekan-rekannya, Mas Dwikoen berhasil mengumpulkan dana 4.8 juta, dan diserahkan kepada keluarga Wati. Sebagian dana digunakan untuk biaya pengobatan bapaknya yang kala itu sedang sakit.

Setelah pemberian donasi tersebut Mas Dwikoen tidak lagi berkomunikasi dengan keluarga Wati untuk waktu yang sangat lama. Namun mas Dwikoen sering mendapat informasi perkembangan tentang Wati dari tetangga Wati yang cukup kenal Mas Dwikoen karena aktivitas fotografinya. Mas Dwikoen cukup sering blusukan untuk memotret di kawasan pegunungan Menoreh.

Mas Dwikoen memilih untuk tidak mengekspose identitas asli Wati, karena menyadari bahwa akan menimbulkan kehebohan dan mengganggu keluarga Wati. Menurut kabar yang didapatkan, Wati baru saja menyelesaikan studi sarjana di Universitas Negeri Yogyakarta.

Pelanggaran Hak Cipta Fotografi
Foto hasil jepretan kamera Mas Dwikoen tersebut saat ini sudah menyebar di internet, tanpa seijin dia. Lebih parah lagi, foto tersebut diberi caption yang ngawur. Ada pula yang sengaja memangkas bagian watermark  nama Mas Dwikoen di pojok kanan bawah. Namun demikian ia tidak mau membuang energi untuk protes ke mereka. Bagaimanapun juga ia adalah pemilik foto tersebut. Ia sangat berharap kepada siapapun pengguna foto tersebut untuk bersikap jujur dengan menyebutkan nama Mas Dwikoen sebagai pemilik foto viral tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here