Waktu Baca: 3 menit
courtesey : Noah Buscher

Polemik kritik meningkat setelah Wakil Presiden Indonesia ke sepuluh, Jusuf Kalla mengajukan pertanyaan retoris dan satir: “Bagaimana caranya mengkritik agar tidak dilaporkan ke polisi?”. Ungkapan Jusuf Kalla ini langsung menuai pro dan kontra di tengah masyarakat serta pejabat publik.

            Kami dari Pakbob.id menolak untuk terjun dalam perdebatan apakah pertanyaan dari JK itu benar atau tidak. Namun di sini kami mencoba berdiskusi, bagaimana cara untuk memberikan kritik yang baik. Sebab, hari hari ini kritik dan nyinyir memang beda beda tipis.

Kritik tidak pernah buruk. Kritik itu seperti vitamin yang pahit, tapi berguna untuk kemajuan ke depannya. Begitulah kira kira yang pernah dikatakan Ernest Prakasa dalam salah satu episode podcastnya. Ia menyebut, dirinya pernah dikritik karena properti di film Ngenest terlihat murahan. Menurutnya, hal itu wajar terjadi karena budget film Ngenest termasuk minim. Maklum, itulah film pertama Ernest sebagai sutradara sehingga produser tak langsung percaya total padanya. Meskipun Ernest memiliki alasan atas kekurangannya, ia tetap menganggap kritikan itu baik dan ia terima agar ke depannya bisa lebih baik.

Ya, sebenarnya kritik tidak selalu obyektif, tapi tetap memiliki sisi kebenarannya. Itulah sikap yang saya tekankan pada diri sendiri. Meski demikian, saya juga paham, ada juga kritik yang sebenarnya merupakan nyinyiran. Sebagai pribadi yang baik, kita harus bisa menyaring perbedaan itu dan jangan sampai malah jadi emosi dan benci karena kritik berbau nyiyir. Nah, itu tadi kan cara kita menerima kritik. Lalu bagaimana cara kita memberi kritik? Kami dari Pakbob.id mencoba merangkum beberapa sudut pandang.

Salah satu tokoh bisnis terkenal, Jayson Demers, mengatakan bahwa kritik yang baik haruslah berfokus pada kesalahan, bukan pada personalnya. Pandangan serupa pernah disampaikan seorang tokoh agama terkenal, Gus Miftah. Mereka percaya yang perlu dikritik adalah tindakan dan sikap seseorang, bukan orangnya. Gus Miftah bahkan menambahkan, ia mencintai dan menyayangi semua orang serta menghormati mereka, tapi soal tindakan, kalau memang salah ia tak akan segan segan menegur. Sayangnya di Indonesia, kritik memang lebih sering diarahkan ke personal sehingga kesannya si personal selalu salah. Padahal, pikiran pikiran seperti ini adalah salah satu bentuk sesat logika Ad Hominem.

Saat mengkritik, kita juga harus berfokus bahwa kritik diberikan agar ada perubahan yang lebih baik. Kritik itu harus membangun atau konstruktif. Kritik yang konstruktif artinya kritik dimana perubahan dimungkinkan terjadi. Jika misalnya kita menegur teman kita dengan sebutan, “eh muka loe itu bikin suram kantor, besok diganti dong!” Nah, itu namanya bukan kritik, itu meledek. Jika kritik yang kita berikan tak membuka peluang adanya perubahan yang lebih baik, mending jangan disampaikan.

Dalam memberikan kritik, kitapun harus memberikannya secara obyektif. Jangan sampai kita memberikan kritik secara subyektif karena yang terjadi malah membuka suatu permusuhan. Yang buruk harus dikritisi, yang baik jangan lupa dipuji. Begitu mungkin kira kira gambaran dari diri saya. Kita juga harus melihat sisi positif dari pekerjaan atau tindakan seseorang. Beberapa waktu lalu saya mendapat kritik keras untuk artikel saya yang berjudul Anak Hebat Hancur Karena Orang Tua Gak Siap. Ada yang menyebut bahasa saya sungguh vulgar dan kasar, tapi ada banyak kalangan anak muda yang mendukung karya saya karena menurut mereka apa yang saya tulis mewakili kegeraman mereka. Jujur, bahasa dalam artikel itu keras karena saya sungguh prihatin melihat banyak talenta hebat terbuang sia sia karena orang tua mereka naïf. Justru artikel itu saya tulis dengan bahasa yang keras agar banyak orang tua mau berubah, berpikir dan mudah mudahan menjadi orang tua yang bisa membimbing talenta muda kita. Toh, Indonesia yang diuntungkan dengan banyaknya talenta hebat yangberkembang maksimal. Saya menerima kritik yang ada, tapi bagi saya perlu juga ada pemahaman bahwa hidup tak sesederhana itu. Yang tuapun masih harus belajar banyak.

Keempat dan terakhir, kritik yang diberikan haruslah sesuai dengan karakter orang yang menjadi obyek kritik. Kritikus film mungkin bebas berkata pedas dan kasar karena emang itu kerjaannya. Lagipula cara ngomong yang pedas bisa menjadi daya tarik mereka. Namun, dalam tim, kritik pedas malah berakhir buruk. Salah satu mantan bos saya pernah diludahi karyawannya sendiri karena cara penyampaian kritiknya yang menyebalkan. Bagaimanapun yang kita kritik adalah manusia, mereka berkomunikasi secara efektif dengan cara berbeda beda. Jika kita bisa mengerti bagaimana cara menyampaikan sesuatu dengan baik dan tepat, niscaya kritik kita akan berguna. Mengkritik toh pada akhirnya bukan supaya terlihat keren, namun pada intinya bagaimana bisa menciptakan sesuatu yang lebih baik.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here