Waktu Baca: 5 menit

Sering kita dengar tudingan miring terhadap profesi dokter yang mendapat keuntungan dari pembuatan resep. Gambaran kita tentang profesi dokter terbelah menjadi dua kutub. Ada yang hidupnya sederhana karena totalitas pengabdian pada masyarakat, namun ada pula yang hidupnya berkelimpahan (Saya tidak menyebut kaya, karena kekayaan itu relatif). Kepada dokter yang hidupnya berkelimpahan, biasanya dilekatkan rumor soal bisnis resep. Saya mencoba mencari tahu lebih dalam tentang tudingan ini melalui seorang rekan yang bekerja sebagai Medical Representative (Medrep). Sebut saja namanya Putra, yang sudah 8 tahun bekerja sebagai Medrep di wilayah Jawa Tengah untuk beberapa perusahaan farmasi.

Medrep adalah orang yang dipercaya oleh perusahaan farmasi untuk mempromosikan produk farmasi secara professional dan terpercaya. Sasaran medrep adalah dokter atau kepala instalasi farmasi di rumah sakit. Seorang Medrep harus mampu menjelaskan produk obat kepada dokter secara detail. Oleh karena itu Medrep juga bisa disebut sebagai Detailer. Dalam penjelasan kepada dokter, medrep akan menyajikan data-data proses produksi obat, kajian riset produk obat tersebut, efek samping, dan tentu biaya. Obat yang ditawarkan oleh Medrep tentunya adalah obat ethical, atau obat yang harus ditulis dengan resep. Hubungan antara dokter dan perusahaan farmasi melalui tulisan resep itulah yang kemudian sering dianggap sebagai praktek bisnis peresepan obat.

Kode Etik Medrep
Terdapat dua jenis perusahaan farmasi berdasarkan pemodalannya, yaitu Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Singkatnya, ada perusahaan asing, ada perusahaan lokal. Terdapat lembaga non profit non pemerintah (NGO) yang beranggotakan 25 perusahaan farmasi multinasional, yaitu International Pharmaceutical Manufacturers Group (IPMG). Lembaga berbasis riset inilah yang memegang komitmennya untuk menyediakan obat-obatan yang aman, bermutu tinggi dan berkhasiat, serta menyediakan informasi yang cukup mengenai nilai dan potensi risiko atas produk-produk farmasi kepada komunitas penyedia layanan kesehatan.

Bila di Indonesia, kita bisa menemukan perusahaan-perusahaan farmasi multinasional yang menjadi anggota IPMG. Komitmen tersebut juga diikuti dengan adanya kode etik, termasuk kode etik mengenai marketing obat. Apabila ada perusahaan anggota IPMG yang yang melanggar kode etik, misal penyuapan untuk tender pengadaan obat, maka perusahaan tersebut dapat dikenai sanksi oleh IPMG. Mengingat bahwa Medrep adalah ujung tombak perusahaan farmasi, maka Medrep pun memegang teguh kode etik tersebut. Aktivitas marketing yang bisa dilakukan hanya aktivitas ilmiah yang berkaitan dengan penelitian obat yang sedang dipasarkan. Persaingan bisnis bisa dilakukan dengan sehat. Namun demikian kode etik itu hanya berlaku untuk perusahaan anggota IPMG, yang notabene adalah perusahaan multinasional. Sementara perusahaan lokal tidak terikat dengan kode etik tersebut.

Risiko dari tidak adanya ikatan pada kode etik pada perusahaan farmasi PMDN inilah yang membuat persaingan yang berat di antara para Medrep perusahaan farmasi lokal. Tujuan utamanya tentu agar produk mereka paling banyak dipakai. Persaingan yang berat dan bebas inilah yang kemudian melahirkan dampak negatif, bahkan bisa menabrak aspek moralitas para dokter sebagai konsumen Medrep.

Tipe-tipe Dokter ketika berhadapan dengan Medrep
Setidaknya ada 3 tipe dokter ketika berhadapan dengan Medrep. Pertama, dokter yang tipenya saintifik. Kedua, dokter yang tipe bisnis. Ketiga, dokter yang bersemangat kekeluargaan.
Dokter saintifik akan bertanya detail tentang produk obat yang ditawarkan Medrep. Bisa jadi ia akan membaca detail hasil riset tentang produk tersebut. Dengan demikian ia tahu betul manfaat dan efek samping ketika meresepkan obat tersebut bagi pasien. Umumnya dokter saintifik merupakan para dokter spesialis, bahkan sub spesialis, yang menangani kasus penyakit yang keilmuannya masih terus berkembang. Obat yang ditawarkan pun umumnya adalah obat paten, yang proses produksinya melalui kajian penelitian dan pengembangan.

Dokter bertipe bisnis adalah ketika berhadapan dengan Medrep ia langsung terang-terangan bertanya tentang benefit dan profit ketika ia meresepkan obat tersebut. Dokter tipe inilah yang disukai oleh banyak perusahaan farmasi, karena Medrep tidak perlu repot menjelaskan data detail tentang produk obat yang ditawarkan. Yang penting obat tersebut banyak diresepkan. Volume penjualan besar.

Dokter bertipe kekeluargaan adalah ketika berhadapan dengan Medrep, dengan dasar rasa sosial ia sepakat untuk meresepkan obat yang ditawarkan tersebut untuk pasien-pasiennya. Motivasi utamanya adalah menjaga persaudaraan dengan Medrep. Soal nominal profit dan volume peresepan mungkin tidak terlalu diperhatikan. Bisa jadi dokter ini meresepkan obat untuk membantu Medrep mencapai target penjualan, sehingga membantu perekonomian keluarga Medrep.

Bagi Putra, kawan saya yang berprofesi sebagai Medrep, ia lebih suka bila bertemu dengan dokter saintifik, karena diskusi bisa berjalan asyik. Moralitas juga terjaga, karena dokter sungguh tahu materi obat yang diberikan, efek samping yang akan dihadapi pasien, dan juga kualitas obatnya. Kawan saya ini bekerja untuk perusahaan asing, dengan produk utama obat-obatan untuk penyakit jantung.

Obat Paten dan Generik
Obat paten adalah obat baru yang diproduksi dan dipasarkan oleh perusahaan farmasi yang memiliki hak paten. Proses produksi obat paten juga melalui fase uji klinis beberapa kali, dengan kajian ilmiah yang kuat. Karena proses penelitian ini memakan biaya besar, maka dampaknya obat paten dibanderol dengan harga tinggi. Obat paten hanya boleh diproduksi oleh perusahaan farmasi pemilik paten, tidak boleh diproduksi perusahaan lain. Di Indonesia, hak paten suatu perusahaan farmasi dibatasi 20 tahun. Setelah itu hak paten dapat diperpanjang lagi. Apabila hak paten tidak diperpanjang, maka obat tersebut bisa diproduksi oleh perusahaan lain, menjadi obat generik.

Obat  generik merupakan obat yang telah habis masa patennya dan diproduksi oleh berbagai perusahaan farmasi. Obat generik meskipun tidak diproduksi oleh perusahaan penemunya, tetapi bukan berarti proses produksinya sembarangan. Produksi obat generik telah melalui standar Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB), yaitu pedoman wajib bagi semua industri farmasi agar menghasilkan produk yang berkhasiat, aman, dan bermutu.

Soal khasiat, baik obat paten maupun generik bisa sama-sama berkhasiat. Salah besar bila obat paten dianggap lebih manjur dari obat generik. Dari bahan baku dan proses produksi kedua jenis obat ini sebetulnya sama. Yang membedakan hanyalah harga ecerannya. Harga obat paten relatif lebih tinggi dari obat generic, karena ada biaya riset, biaya paten, dan biaya marketing. Sementara obat generic tidak memerlukan ketiga biaya tersebut.

Terkait peran Medrep, umumnya Medrep bertemu dokter untuk menawarkan obat paten. Sementara untuk obat generik biasanya ditawarkan kepada apotek atau instalasi farmasi pada rumah sakit.

Relasi antara resep dokter dan profit
Perusahaan farmasi memantau daya serap produk obat di pasaran melalui apotek dan instalasi farmasi rumah sakit. Perusahaan juga melakukan survey kepada dokter dan apotek tentang penggunaan obat yang diproduksi perusahaan tersebut. Biasanya Medrep akan mencari informasi melalui bagian IT rumah sakit. Data pembuatan resep dokter dapat diketahui dari situ. Dengan demikian Medrep bisa mengukur intensitas dokter dalam membuat resep obat yang ditawarkannya. Hal wajar dalam penjualan produk farmasi, ada bonus bagi dokter yang meresepkan obat produk perusahaan tersebut. Bagaimanapun juga dokter membantu angka penggunaan obat tersebut di masyarakat. Pola ini juga kiranya sama untuk bidang bisnis lainnya.

Persoalan moral
Kesan mahalnya biaya kesehatan muncul salah satunya dari biaya obat yang mesti ditebus pasien, terutama untuk pemeriksaan yang tidak ditanggung asuransi maupun BPJS. Untuk kasus-kasus penyakit yang keilmuannya terus menerus berkembang, umumnya dokter akan menggunakan obat paten yang proses produksinya berdasar penelitian termutakhir. Kiranya ini juga masuk akal, karena dokter pun ingin pasien dapat sembuh dengan cara terbaik, dan kalau bisa tercepat.

Persoalan moral muncul saat pasien dengan penyakit yang kajian keilmuannya sudah final. Kasus penyakit sebetulnya mungkin dapat diselesaikan obat generik, namun ketika dokter memilih untuk meresepkan obat paten, tanpa memahami daya beli pasien, maka menimbulkan persoalan moral. Terlebih lagi ketika pasien berasal dari keluarga yang tidak mampu secara ekonomi, dan dengan literasi kesehatan yang rendah.  Keluarga pasien tersebut biasanya akan mengikuti apapun kata dokter, karena pasti ingin si pasien lekas sembuh. Persoalan moral mungkin akan berkurang seandainya keluarga pasien sepakat dengan resep obat paten, mampu secara ekonomi, dan memiliki literasi kesehatan yang cukup.

Medrep dan rumor tentang dokter yang berbisnis obat bisa dikatakan benar, bisa juga tidak. Namun demikian kita menjadi tahu bahwa peran Medrep cukup penting bagi dokter untuk menjaga asap dapur rumah tetap mengepul. Persoalan moral tergantung dari dokter sedang menghadapi pasien macam apa dan bagaimana pilihan untuk membuat resep.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here