Mendefinisikan ulang Cinta Monyet

Waktu Baca: 3 menitBelum lama ini saya diminta untuk menjadi juri sebuah lomba podcast anak SMA dengan tema percintaan dan Valentine. Sebelum saya mendengarkan rekaman, saya masih memegang asumsi bahwa kisah percintaan remaja hanyalah remeh temeh, tidak serumit orang dewasa. Tetapi setelah saya dengarkan detail dan berulang, rupanya mereka memiliki perasaan yang sama dengan orang dewasa. Mereka mengalami rasa bahagia ketika bisa bersama dengan gebetan, sedih ketika diputus, sebel ketika kena ghosting, marah ketika pacarnya jadi toxic atau melakukan kekerasan, dan sebel dengan pandangan orangtua. Sesuatu hal yang tidak beda dengan kisah cinta orang dewasa. Pikir saya, perasaan-perasaan otentik mereka juga perlu diakui, perlu dihargai.

Di kutub yang lain, istilah cinta monyet kerap bersliweran dan dikenakan pada anak SMA yang sedang jatuh cinta. Istilah Cinta Monyet sebetulnya sudah jadul. Perkiraan saya, ini muncul di dekade 1980an, ketika kaum muda Indonesia mulai mencicipi kebebasan berekspresi. Cinta Monyet digunakan untuk menyebut para remaja yang sedang jatuh cinta. Kesan yang melekat adalah orang kurang mencintai dengan serius, pura-pura cinta, atau asal cinta. Seolah-olah kadar cinta para remaja lebih rendah ketimbang kadar cinta orang dewasa. Sebutan Cinta Monyet akan menyakitkan bagi para remaja. Kiranya sekarang kita perlu mendefinisikan ulang Cinta Monyet.

Cinta itu sifatnya universal, baik yang menerima maupun memberi cinta. Dari janin sampai tua renta, orang berhak untuk menerima sekaligus memberi cinta. Soal kepada siapa cinta itu diberikan, atau dari siapa cinta itu diterima, tergantung konteks tiap orang. Universalitas cinta ini juga mengandaikan bahwa siapapun berhak mengekspresikan cinta, menyatakan cinta, dan mengakui diri sedang mencintai sesuatu. Demikian pula pada anak SMA, SMP, (bahkan SD) pun berhak mengekspresikan cinta kepada siapapun. Sialnya bagi mereka, dunia orang dewasa lantas menghakimi ekspresi cinta remaja dengan indikator-indikator orang dewasa yang jelas tidak cocok untuk remaja.

Orang bilang remaja sekarang banyak yang jadi bucin (budak cinta) dengan gebetannya. Apapun dilakukan demi menyenangkan hati si gebetan. Kalau perlu tabungan dikuras untuk membelikan barang-barang favorit doi. Saya kira ini juga tidak beda dengan orang dewasa yang sedang bucin dengan selingkuhannya, yang secara irasional berani membelikan apapun untuk menyenangkan hati selingkuhannya, (sementara dengan pasangan resminya tidak akan se bucin ini).

Remaja tetaplah remaja, yang pola pikirnya beda dengan orang dewasa. Mau bagaimana lagi, tuntutan hidup juga beda, perkembangan fisiologis otak juga belum se sempurna orang dewasa, dunia juga beda dengan orang dewasa. Tetapi urusan hati dan perasaan, saya kira semua usia punya kesempatan yang sama untuk merasakannya. Bolehlah remaja dituntun untuk menjadi makin dewasa dalam berpikir, tetapi jangan memaksa remaja untuk berpikir seperti orang dewasa. Nggak mashook.

Secara umum tujuan orang mencintai dan dicintai adalah untuk bisa mendapatkan perhatian dan afeksi; suatu kebutuhan yang cukup purba dari dunia manusia (barangkali hewan juga demikian). Kita manusia memerlukan perhatian, pengakuan, dan penerimaan dari orang lain. Segala macam cara akan dilakukan manusia untuk bisa mendapatkan tiga hal itu : perhatian, pengakuan, dan penerimaan orang lain. Remaja pun juga demikian, butuh perhatian, pengakuan, dan penerimaan dari orang lain. Seringkali perhatian dari orangtua tidak terasa cukup, atau mungkin dirasa tidak cocok bagi remaja. Ketika remaja berpacaran, mereka berusaha menemukan tiga hal itu dari pasangannya, dan tidak lebih dari itu. Umumnya pasangan remaja tidak akan membahas soal pernikahan. Kalaupun ada secuil pembahasan, itu menjadi cita-cita nan jauh di sana, yang belum dilengkapi strategi dan indikator pencapaiannya.

Definisi serius pacaran bagi remaja, beda dengan definisi orang dewasa. Bagi orang dewasa, serius berarti sudah bepikir soal pernikahan. Hubungan perlu dilembagakan lewat adat, agama, atau sipil. Tetapi bagi remaja, keseriusan berpacaran adalah soal komitmen pasangan untuk terus mau belajar menyesuaikan diri, menerima keadaan pasangan, mendengarkan keluh kesah, dan menemani aktivitas. Bahkan kalau bisa, pasangannya tidak berinteraksi terlalu jauh dengan orang lain yang dianggap sebagai saingan. Singkatnya : ada sikap posesif. Seorang cowok, kalau tahu kekasih cantiknya terlalu banyak interaksi dengan cowok lain, umumnya akan merasa gelisah. Meskipun ia tahu bahwa konteks interaksinya adalah urusan tugas sekolah atau kegiatan organisasi. Tentu ini beda dengan sikap orang dewasa yang bisa membiarkan pasangannya berinteraksi dengan siapapun dalam konteks pekerjaan. Tetapi perbedaan sikap ini tidak bisa jadi alasan bagi orang dewasa untuk menilai bahwa remaja tidak serius. Mereka ini serius !

Lalu, apa definisi baru dari Cinta Monyet ? Tidak ada. Cinta Monyet tidak perlu dipakai lagi. Toh semua orang akan serius mencintai orang lain, dengan cara dan tujuannya masing-masing. Orang dewasa dan remaja sama-sama serius mencintai, kok.

 

Benny Pudyastanto
Peneliti lepas untuk isu kesehatan mental di sekolah, merangkap bapak asrama anak-anak SMA

Similar Articles

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertisment

Instagram

Most Popular