Waktu Baca: 4 menit

Jakarta kembali dilanda banjir hebat dan kini mulai rutin terjadi tiap awal tahun sejak 2019. Tapi, bukan hanya Jakarta saja yang langganan banjir, tercatat berbagai ibu kota di negara negara lain juga merupakan kantong banjir.

courtesey: TMC Polda Metro Jaya

            Tercatat Bangkok, ibu kota Thailand, juga sering mengalami banjir. Sejak banjir bandang tahun 2011, Bangkok tidak pernah memiliki tahun dimana mereka bebas dari banjir sama sekali. Kemudian Manila juga mengalami banjir tahunan yang parah. Terakhir kali Manila mengalami banjir yaitu pada November 2020. Bahkan ibu kota negara maju seperti Tokyopun mengalami banjir parah. Meski Tokyo memiliki usaha preventif banjir yang lebih baik, hal itu tidak mengaburkan fakta bahwa Tokyo rawan banjir.

Lalu kenapa banyak ibu kota rawan banjir? Apakah leluhur dan pendiri negara pada gak mikir akan keamanan suatu daerah dari banjir?

Tentu tidak, pemilihan ibu kota di masa lalu dan sekarang pasti dipertimbangkan dengan matang oleh para pendiri negara. Yang tidak kita sadari, ada cara berpikir yang berubah mengenai lokasi ibu kota yang ideal pada masa lalu dan masa kini. Perubahan ini terjadi karena kemajuan teknologi dan pergeseran kebutuhan.

Mari kita ambil contoh ilustrasi mengenai peran sungai di ibukota melalui perspektif di masa lalu dan masa sekarang. Ternyata peran sungai ini tidak sesederhana sebagai faktor untuk memperindah landscape kota.

Di masa perang, saat PBB belum terbentuk dan kondisi dunia dalam sistem anarki, ibu kota yang ideal adalah ibu kota yang memiliki tanah yang subur. Mengapa demikian? karena tanah yang subur berarti mudah ditanami tanaman pangan. Tanaman pangan itu akan digunakan sebagai cadangan saat pemerintahan kesulitan mendapatkan pasokan pangan karena konflik. Tanah yang subur ini tentu memiliki ciri ciri. Salah satu ciri cirinya mendapatkan pasokan air berlimpah sepanjang tahun. Air itu tentu saja harus berasal dari sumber sumber yang konsisten seperti kanal dan sungai. Ya, ibu kota ideal di jaman dahulu berada di dekat sungai dan kanal.

Setiap ibu kota negara seperti Tokyo, Kuala Lumpur dan Bangkok memiliki sungai sungai besar mereka. Sungai sungai besar mereka menjadi simbol kebesaran sekaligus ancaman. Tokyo memiliki sungai Arakawa dan Edogawa. Kuala Lumpur memiliki sungai Gombak dan Klang. Sementara itu, Bangkok memiliki sungai Chao Phraya. Ukuran sungai sungai ini begitu masif dan ideal untuk irigasi di masa lalu. Namun di masa kini, ibu kota yang ideal tak perlu lagi memiliki lahan pangan yang ideal. Sebabnya, pangan bisa diproduksi di daerah lain dan diangkut ke ibu kota, tidak seperti dahulu saat transportasi begitu sulit dan faktor keamanan sangat kompleks.

Justru sebaliknya, ibu kota ideal harus memiliki banyak daerah untuk pemukiman karena pertumbuhan penduduk yang luar biasa. Di sinilah terjadi pergeseran. Mari kita lihat Bangkok. Banyak daerah pemukiman dan komersial di Bangkok dulunya adalah lahan padi. Lahan padi ini selain sebagai sumber pangan juga untuk menyerap air. Namun kini lahan padi yang sudah bertransformasi ini tak bisa lagi menyerap air. Seharusnya, secara ideal Bangkok harus menyerap air sebanyak 5 juta meter kubik air (berdasar penelusuran Bangkok Post). Pada faktanya, penyerapan air banjir pada 2020 belum mencapai bahkan 1 juta meter kubik air.

Banyak kesulitan untuk menciptakan lahan serapan di kota besar. Salah satunya adalah masalah pembebasan lahan. Baik itu di Bangkok, Jakarta, maupun ibu kota lainnya, pembebasan lahan selalu menjadi masalah dan karena itu masalah banjir menjadi persoalan yang terjadi bertahun tahun tanpa penyelesaian.

Selain karena sungai, ada masalah lain yang lebih pelik. Yaitu fakta bahwa banyak ibu kota dibangun dekat dengan laut. Pada masa dahulu, laut adalah kunci. Semua transportasi bergantung pada laut. Karena itulah, pelabuhan menjadi nilai lebih. Tidak percaya? pernahkan anda mencoba melihat arti literal dari passport? Pass artinya melewati, Port artinya pelabuhan. Jadi Passport awalnya adalah surat agar kita bisa mendapat izin berlabuh atau keluar dari pelabuhan untuk bisa menuju ke kota tempat dimana pelabuhan berada. Pelabuhan dulu begitu penting bahkan dokumen bernama Passport itu bak surat sakti yang dibutuhkan dimana mana.

Namun penerbangan merubah segalanya. Tentu laut masih penting untuk mengangkut barang, tapi penerbangan bisa mengangkut manusia dengan jauh lebih cepat dan efisien. Pada tahun 1990an, Presiden B.J. Habibie memprediksi bisnis penerbangan akan merajai banyak hal dan harga tiket akan menjadi sangat terjangkau. Hal itu benar benar terjadi. Penerbangan benar benar menguasai pengangkutan manusia. Penerbangan menjadi moda transportasi aman, efisien dan relatif murah jika mempertimbangkan manfaatnya.

Di saat bersamaan, laut menjadi tidak stabil akibat perubahan iklim. Manila misalnya, menjadi kota yang sering dihantam badai. Beberapa badai yang pernah menghantam Manila adalah Vamcopackedwinds yang mencapai kecepatan hingga 155 km/jam. Laut yang dulunya sahabat, berubah menjadi ancaman.

courtesey : Akbar Nugroho/Antara (Presiden Jokowi meninjau lokasi ibu kota baru)

Model ibu kota ideal sudah berubah seiring waktu, karena itu tidaklah aneh jika lokasi ibu kota yang lamapun bisa saja sebaiknya dipindah demi menyesuaikan kebutuhan jaman seperti yang dilakukan beberapa pemerintah. Hal ini pernah dilakukan oleh Myanmar misalnya yang memindahkan ibukota dari Yangon yang rawan banjir ke Naypyidaw yang berada jauh dari laut dan relatif aman dari serangan udara karena berada di lokasi pegunungan. Presiden Joko Widodopun sudah merencanakan pemindahan ibu kota sebagai target jangka panjangnya di lokasi yang lebih dekat ke area pegunungan dan tidak rawan banjir.

Apakah dengan fakta seperti ini pemindahan ibu kota dari Jakarta harus dipercepat? Apalagi Presiden Jokowi juga lebih sering berkantor di Istana Bogor yang berada di dataran tinggi dan tidak mudah terkena banjir. Hanya waktu yang menjawab karena pemindahan ibu kota memerlukan anggaran raksasa dan perencanaan matang.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here