Waktu Baca: 3 menit

 

Game Mortal Kombat terkenal karena fitur Fatalitynya. Fatality sendiri adalah serangan terakhir ke lawan yang sudah tidak berdaya. Biasanya, Fatality dilakukan dengan cara cara yang sadis dan kreatif.

            Cara cara sadis itu termasuk pemenggalan, pemotongan bagian tubuh dan gerakan gerakan sadis lainnya. Akibat ‘Fatality’ ini, ‘Mortal Kombat’ dikategorikan sebagai game sadis dengan rating tujuh belas tahun keatas. Namun, banyak yang merasa, tanpa Fatality, ‘Mortal Kombat’ bak sayur tanpa garam. Padahal, Fatality itu sungguh sadis dan kejam, mungkin kalau dilihat anak anak bisa menimbulkan trauma. Lalu, kok ya ada penggemarnya? Bagaimana kita bisa menjelaskannya?

Sampai saat ini, belum ada studi ilmiah yang menjelaskan mengapa manusia bisa sangat menyukai Fatality. Namun, kita bisa meminjam hipotesa dari penelitian lain untuk setidaknya membuka tabir kepopuleran Fatality.

Hipotesa itu adalah, bisa jadi  Fatality itu telah memancing naluri kepurbaan kita. Naluri purba mendesain kita sebagai mahluk yang membutuhkan perang. Dalam buku karya pasangan Pease, diceritakan bahwa manusia memiliki insting untuk berperang agar bisa menjaga wilayahnya dan memperlebar daerah kekuasaannya. Namun, berlalunya waktu, insting berperang ini lebih merepotkan daripada berguna. Maka dari itulah dibuat olah raga kompetitif agar manusia bisa menyalurkan insting berperangnya menurut pasangan Pease.

contoh Fatality di Gim Klasik Mortal Kombat

Maka, tak heran jika fans klub sepakbola bisa sangat liar dan kompetitif. Sebenarnya pertandingan sepakbola itu dimaksudkan sebagai pengganti perang. Tapi kadang menonton saja tidak cukup kuat untuk memuaskan adrenalin. Maka dari itulah, sering kali fans sepakbola tidak tahan lagi hingga akhirnya mereka adu bacot di media sosial dan syukur syukur kalau bisa adu pukul di stadion.

Lalu apa hubungannya dengan Fatality? Nah inilah dia, insting berperang yang disalurkan via pertandingan sepakbola aja sudah seru, apalagi yang disalurkan via pertarungan yang ‘mendekati beneran’. Dibanding game lain, gameplay ‘Mortal Kombat’ jauh lebih realistis dan melibatkan darah dan adu jotos intens. Ini memuaskan naluri kepurbaan kita. Kita semangat untuk menjalaninya dan mencari puncak kebahagiaan saat memenangkkan pertandingan.

Ada argumen yang menyatakan bahwa kemenangan di game kan cukup dengan melihat lawan terkapar kan? Betul tidak? Oh tidak, Ferguso. Kemenangan adalah saat saat yang paling penting dimana sisa adrenalin harus dituntaskan.

Di dunia nyata, banyak contoh dimana kemenangan dirayakan dengan brutal. Genghis Khan gemar menghukum mati jendral lawannya. Gladiator mengenal ritual eksekusi pada lawannya saat mereka menang. Di Indonesia, ada beberapa suku pedalaman di Indonesia (berdasar catatan pemerintahan kolonial Belanda) menggunakan tengkorak lawannya sebagai cawan atau bahkan memakan bagian tubuh musuhnya. Kemenangan ingin dirayakan separipurna mungkin.

Di skala lebih kecil, kita melihat bagaimana fans bola Liga Inggris akan mempermalukan saingannya di media sosial dan seterusnya. Wajar, manusia memiliki keinginan untuk merayakan kemenangan dengan luar biasa. Di sinilah Fatality bekerja dengan baik. Fatality memberi hadiah pada si pemenang dengan maksimal. Hal ini memuaskan gamer yang ingin merasakan adrenalinnya dibuang dengan penuh.

Namun kenapa harus dilakukan dengan sadis? Bahkan sampai traumatik bagi beberapa orang?

Di sinilah insting manusia lagi lagi bekerja. Kita mengenal metode eksekusi di masa lalu yang sangat sadis seperti Iron Maiden, Blood Eagle dan Chinese Wooden Horse. Kenapa eksekusi harus dibuat sadis, lama dan kreatif. Dalam buku ‘Politik Hukuman Mati’ yang salah satunya ditulis oleh Todung Mulya Loebis, dikatakan bahwa hukuman yang mengerikan berfungsi juga untuk menakut nakuti lawan agar keder. Ini adalah sifat dasar manusia, manusia perlu melakukan intimidasi agar ia tetap menang dan berkuasa. Menghukum mati dengan kekejaman maksimal dan memastikan bahwa penonton dari eksekusi itu merasakan trauma mendalam adalah salah satu bentuk intimidasi terefektif.

Fatality dalam game ‘Mortal Kombat’ memberikan manipulasi pada manusia atas kesenangan eksekusi dan perasaan bisa menguasai lawan, padahal ini ilusi. Tapi ilusi ini memuaskan manusia. Dalam Fatality, ada hal hal yang tidak bisa dicapai dalam kehidupan nyata, misalnya menarik tengkorak dan tulang belakang musuhmu sampai hancur. Ini memberikan suatu imej kekuasaan dan kemenangan total. Kita merasa benar benar bisa melakukan intimidasi secara maksimal.

Kesimpulan akhirnya, bisa dikatakan Fatality adalah suatu hiburan untuk insting purba kita. Insting yang masih tersisa. Saat dunia nyata lebih membutuhkan pegawai kantoran daripada prajurit perang tangguh, kita masih memiliki keinginan untuk bisa berperang dan berprestasi di dalamnya.

Tapi bagaimana dengan dampak psikologis Fatality? Dalam novel novel Virtual Reality, digambarkan bahwa salah satu ketakutan adalah ketika insting purba manusia bangkit dan menguasai manusia saat game game Virtual Reality makin populer. Beberapa dari insting purba itu adalah melakukan pemerkosaan, kekerasan dan hal hal lain yang tidak sesuai etika masa kini.

Apakah Fatality dan permainan ‘Mortal Kombat’ bisa membangkitkan insting purba itu? Hanya waktu yang bisa menjawabnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here