Menikmati hidup sebagai ABG

Waktu Baca: 4 menitKonon kata papa mama, masa SMA adalah masa yang paling indah dalam hidup. Banyak lika liku hidup yang menantang, banyak peristiwa trial and error. Tetapi dengan rentetan peristiwa itulah para remaja alias ABG bisa menikmati hidup. Anak Baru Gede (ABG), itu merujuk pada anak-anak usia SMP sampai awal kuliah.

Sebetulnya apa sih yang umumnya terjadi dalam hidup ABG ?
Seorang ahli psikologi perkembangan bernama Robert Havighurst pada tahun 1943 memperkenalkan teori tentang tugas-tugas perkembangan yang akan dijalani manusia dalam rentang hidup tertentu. Secara khusus pada usia remaja, Havighurst menunjukkan setidaknya ada 10 tugas kehidupan yang harus dijalani, yaitu :

  1. Memiliki relasi yang spesial dengan teman sebaya, baik sejenis maupun lawan jenis.
  2. Memiliki fungsi sosial pria dan wanita
  3. Menerima keadaan fisiknya dan menggunakannya secara efektif untuk hidup
  4. Memiliki sikap dan posisi emosi yang berbeda dari orangtua dan orang dewasa lainnya
  5. Mengelola keuangan dan ekonomi sendiri
  6. Memilih dan mempersiapkan pekerjaan
  7. Pacaran alias mempersiapkan hidup berkeluarga.
  8. Mengambil peran penting sebagai warga negara
  9. Memiliki tingkah laku sosial yang bertanggung jawab
  10. Menyerap etika dan tata nilai dari lingkungan sekitar

 

Kesepuluh tugas tersebut akan kamu jalani di masa remaja. Bentuk tugas bisa jadi berbeda sesuai dengan konteks situasi dimana kamu berada. Tetapi secara umum semua aktivitas hidupmu akan mengarah pada 10 hal itu. Tugas itu harus kamu selesaikan pada usia remaja. Kalau tidak diselesaikan dengan baik, maka akan mengganggu tugas perkembanganmu di tahap dewasa. Kamu pun nggak bisa skip tugas itu, atau setidaknya badanmu secara alamiah akan menuntut dirimu untuk menjawab tugas itu. Meskipun sifatnya alami dan wajib, tetapi baik bila kamu bisa menikmati masa hidupmu sebagai ABG.

Kalo memperhatikan tugas-tugas itu, sebagian diantaranya adalah proses kamu untuk berlatih menghadapi hidup. Dalam masa remaja itu kamu tidak diharapkan sudah benar-benar matang dalam waktu singkat. Misalnya tentang pengelolaan keuangan dan ekonomi, bukan berarti kamu harus sudah bisa cari duit sendiri atau kerja mapan. Kamu juga bisa latihan dengan mengelola uang saku yang diberi oleh papa mama. Baik juga kalo kamu udah mencoba berbisnis kecil-kecilan dengan pendampingan papa mama, misalnya membuka online shop. Tidak harus dapat untung banyak, tetapi yang penting kamu bisa belajar mengelola keuangan. Kalaupun usaha bisa berkembang pesat, maka itu jadi anugerah tersendiri buatmu.

Ketika kamu beranjak dewasa, kamu akan merasakan perasaan yang berbeda ketika bermain bersama lawan jenis. Ada campuran rasa malu, bangga, nyaman, atau gugup. Rasanya dalam diri tumbuh radar kepekaan yang baru, yang tidak kamu temukan ketika masa TK atau SD. Ketika masih kecil, kamu bermain dengan teman-teman sebaya dengan gembira. Tidak ada curhat tentang suasana rumah yang menyebalkan, tidak ada sambat berkepanjangan tentang uang sakumu yang tipis. Tetapi ketika beranjak dewasa, kamu mulai berani bercerita kepada teman terbaikmu tentang keluh kesahmu. Bahkan mungkin ketika kamu bertemu sahabat, waktu lebih banyak digunakan untuk bercerita ketimbang bermain. Itulah proses hidup ketika kamu sedang menjalani tugas perkembangan nomor satu, membangun relasi yang special dengan teman sebaya.

Berjumpa dengan lawan jenis adalah hal yang cukup sensasional. Ketika kamu masih kecil, kamu bisa dengan nyaman bermain bersama teman siapapun itu, entah laki-laki atau perempuan. Urusan jenis kelamin tidak terlalu penting selama bisa bermain game bersama. Tetapi ketika beranjak dewasa, kamu mulai berpikir dan merasakan ada sesuatu yang lain ketika bermain bareng temen-temen yang berbeda jenis kelamin. Kadang-kadang muncul pikiran, “kok main dan ngobrol bareng sama dia rasanya nyaman ya ?” Pikiran ini tak pernah muncul ketika kamu masih kecil, meskipun bisa jadi kamu sedang bermain dengan orang yang sama, dengan suasana yang sama pula !

Ketika masa SMP,  kamu berkenalan dengan teman baru yang lawan jenis, kadang akan muncul rasa hati bergetar. Hanya bersalaman pun rasanya bahagia; sesuatu yang tidak muncul ketika kamu masih SD, yang kamu mau bersalaman pada siapapun dengan polosnya. Hingga kemudian kamu mencoba untuk menjalin relasi yang istimewa dengan doi, entah namanya pacar, TTM, atau gebetan. Kamu hanya merasa nyaman ketika ngobrol atau berkegiatan bareng doi, tetapi tak pernah terbersit keinginan dalam batinmu untuk menikahinya ! Ya, itulah proses ketika kamu sedang memenuhi tugas perkembangan remaja untuk mempersiapkan hidup berkeluarga. Singkatnya, mulai untuk pacaran.

Namanya persiapan menikah, bukan berarti saat itu juga pasti menikah. Ibarat mau membangun rumah, pacaran saat SMP itu sama seperti kamu sedang window shopping di supermarket bangunan. Persiapan dimulai dengan membangun rasa berani berkenalan dengan lawan jenis, ngobrol lebih jauh, hingga menaruh kepercayaan. Titik belajarnya bukan pada siapa pribadi pacarmu saat itu, tetapi justru pada gerak pikiran dan hatimu. Kalau kamu mengalami fase kecewa, takut gagal, sakit hati, dan cemburu, itulah namanya proses belajar. Tetapi proses belajar yang indah itu jangan sampai dihancurkan dengan gagasan untuk menikah. Pikiran tentang pernikahan yang muncul pada dirimu yang masih remaja, justru akan menjadi penghancur hidupmu. Urusan sekolah, kuliah, cita-cita bekerja, kegembiraan piknik bareng teman, kenyamanan tinggal bersama papa mama, ngobrol gila bareng teman-teman, …seketika bisa runyam karena paksaan untuk menikah.

Masa remaja menjadi kesempatan untuk eksplorasi diri, mengembangkan diri, membentuk identitas diri. Urusan pacaran hanya secuil bagian hidup yang akan dieksplorasi. Ada banyak hal lain yang harus dijelajahi. Sementara urusan pernikahan yang serius, itu adalah tugas perkembangan kaum muda di usia 21 tahun ke atas. So, buat kamu yang hari ini masih enjoy dengan sekolah online, jangan pernah mau diberi tugas yang sama dengan kakakmu yang sudah selesai kuliah. Jangan mau diajak mikir soal pernikahan. Masa sekolah adalah kesempatan besarmu untuk menikmati hidupmu sebagai ABG, yang tidak boleh dikacaukan dengan hal-hal yang belum menjadi tanggung jawabmu.

Kalau hari ini sedang ramai kasus sebuah Wedding Organizer yang mempromosikan pernikahan usia dini, tentu kita sepakat untuk cara menanggapinya : urusan pernikahan bukan tanggung jawab, apalagi kebutuhan seorang ABG.

Let you enjoy your life as a young people !

 

 

Benny Pudyastanto
Peneliti lepas untuk isu kesehatan mental di sekolah, merangkap bapak asrama anak-anak SMA

Similar Articles

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertisment

Instagram

Most Popular