Menjawab Quarter Life Crisis

Waktu Baca: 4 menitBila kamu pernah mendengar istilah Quarter Life Crisis, jangan pernah membayangkan bahwa krisis itu muncul di usia 25 tahun. Meskipun krisis bisa terjadi pada seperempat perjalanan hidup, tetapi ini bukan hitungan aritmatika. Kamu tak pernah tahu seberapa panjang hidupmu. Bisa jadi 65, 70, 80, 100 tahun, atau bahkan hanya sampai 35 tahun. Oleh karena itu krisis itu bisa terjadi kapan pun. Bisa jadi pada perempat waktu hidupmu, atau bahkan pada pertengahan waktu hidupmu.

Kalau kamu membaca berbagai artikel di internet, kamu akan menemukan bahwa Quarter Life Crisis adalah titik perjalanan hidup di mana kamu dibenturkan dengan persoalan kepastian karir, finansial, percintaan, atau keluarga. Persoalan percintaan bukan yang seperti dialami anak SMP, ditikung, menikung, ghosting, PHP, atau ditinggal karena bosan. Persoalan percintaan yang kamu hadapi saat usia dewasa adalah tentang kesamaan visi hidup, dukungan keluarga, atau komitmen bersama.

Secara umum Quarter Life Crisis terjadi ketika kamu dihadapkan pada pertanyaan tentang tujuan hidup. Pada saat inilah kamu akan sadar bahwa tujuan hidup sama sekali beda dengan cita-cita yang dibicarakan sewaktu kamu sekolah. Pertanyaan akan terjawab kalau kamu sudah merasa sungguh-sungguh tenteram dan siap menjawab bila sewaktu-waktu pertanyaan yang sama muncul kembali.

Apa tujuan hidupmu ?

Beberapa orang ingin menjadi sukses, ingin menjadi kaya, ingin membahagiakan orangtua, ingin jalan-jalan ke luar negeri, ingin jadi pejabat, atau ingin hidup bahagia. Ada jawaban yang klise, ada jawaban yang ultimate, dan ada jawaban yang tampaknya baik namun bisa menimbulkan pertanyaan di kemudian hari. Ketika kamu ditanya soal tujuan hidup, kamu punya pilihan untuk segera menjawabnya, atau mengabaikannya dan tetap melanjutkan hidup.

Kalau kamu memilih untuk segera menjawab, kamu akan mendapat pertanyaan lebih dalam dan detail tentang tujuan hidupmu. Itu semua juga harus dijawab. Cara menjawabnya pun tidak bisa klise atau template. Butuh waktu khusus untuk merenungkan dan menata hidup agar tujuan hidup bisa ditata dengan baik dan tidak menimbulkan kegelisahan lebih banyak.

Kalau kamu memilih untuk mengabaikan dan melanjutkan hidup yang nikmat, maka di tahun-tahun mendatang kamu akan mendapat pertanyaan yang sama persis. Mungkin kamu saat ini mengabaikan karena merasa tidak nyaman mendapat pertanyaan soal tujuan hidup. Mungkin kamu takut untuk memberi jawaban yang mantap. Mungkin kamu menganggap bahwa pembahasan tujuan hidup hanya buang-buang waktu saja. Ketika kamu abaikan, rasa lega akan datang. Tetapi sayangnya, rasa lega itu hanya sementara. Pada tahun-tahun mendatang pun kamu akan dihadapkan pada pertanyaan yang sama, dengan rasa gelisah yang lebih kuat pula. Situasi akan menjadi makin berat ketika kamu baru bisa menjawabnya di usia 40 tahun, ketika kamu sudah memiliki rumah, pasangan, anak, dan pekerjaan yang permanen. Dalam kondisi itu kamu tidak banyak memiliki pilihan bebas untuk menjawab; tidak seperti ketika kamu di usia 20an yang masih lebih bebas memilih.

Tujuan hidup yang ultimate adalah yang dapat menjadi motivasi hidupmu yang relatif stabil. Ketika kamu dihadapkan pada persoalan hidup, kamu tinggal merujuk kembali kepada tujuan hidupmu, dan daya hidupmu akan terisi kembali. Oleh karena itu, buatlah tujuan hidup yang konkret dan detail.

Bagaimana bila ingin menjadi orang sukses atau kaya ?
Menjadi sukses itu bukan tujuan hidup, karena tidak jelas indikator kesuksesan dan langkah operasionalnya. Sukses yang macam apa ?
Jauhkanlah pikiranmu dari asumsi kesuksesan dengan ciri punya ketenaran, jadi pimpinan perusahaan, punya rumah mewah, atau bisa jalan-jalan. Karena ketika kamu mencapai kondisi hidup macam itu (jadi CEO perusahaan, punya rumah mewah, jadi orang tenar, bisa jalan-jalan), kamu akan dihadapkan pada pertanyaan :
“Tujuan hidupmu sudah tercapai. Mau apa lagi ?

Ketika kamu sudah jadi orang kaya, (deposito milyaran, kepemilikan rumah di beberapa lokasi strategis, punya penghasilan pasif 30 juta per bulan), kamu akan dihadapkan kembali pada pertanyaan :
Sekarang keinginan sudah keturutan semua. Mau apa lagi ?”
Di saat yang sama kamu akan menemukan bahwa hatimu masih gelisah, merasa masih ada yang kurang, tetapi tidak jelas apa itu. Kamu akan menyadari bahwa ada yang belum lengkap dalam tujuan hidupmu. Tentu saja, karena manusia tidak pernah memiliki batas maksimal kepuasan.

Bagaimana bila ingin membahagiakan orang tua ?
Keinginan ini sungguh mulia. Kamu ingin menunjukkan bakti dan cinta kepada orang tua yang telah merawat kamu dari bayi hingga dewasa. Kamu ingin melihat orang tua mu bahagia. Pertanyaan lain akan muncul : apakah indikator kebahagiaanmu sama dengan indikator kebahagiaan papa mama mu ? Bayangkan, orang tuamu bahagia bila kamu bisa kuliah di fakultas kedokteran, dan bangga melihatmu dilantik menjadi dokter. Tetapi kamu sendiri merasa takut melihat darah, takut menangani pasien kecelakaan. Kamu tidak bahagia dengan peranmu sebagai dokter, karena itu keinginan orang tua, bukan keinginan dirimu sendiri.
Barangkali orang tuamu ingin kamu bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil, karena adanya kepastian penghasilan bulanan. Tetapi dari hatimu sendiri gelisah karena tiap kerja harus memakai seragam. Kamu harus taat pada atasan, sementara jiwamu adalah jiwa-jiwa yang kreatif dan suka bekerja sendiri. Kalau kamu gagal lolos tes CPNS, kamu akan merasa rendah diri karena tidak bisa memenuhi ekspektasi orang tua. Hidupmu makin terasa berat. Sementara itu, life must go on. Kamu tidak bisa berhenti dan ngambek, karena roda kehidupan tetap akan berputar.

Membahagiakan orang tua itu baik, tetapi tidak berarti langkah hidupmu sebagai orang dewasa disetir oleh orang tua. Persoalan tujuan hidup akan muncul lebih rumit lagi ketika orang tua sudah tiada, dan kamu terjebak dalam situasi pekerjaan dan hidup yang sebetulnya tidak kamu inginkan sejak masa kuliah. Kamu tiba-tiba akan masuk dalam suasana kekosongan hati. Oleh karena itu keinginan untuk membahagiakan orang tua tidak cocok dijadikan sebagai tujuan hidup. Itu adalah bagian dari tugas perjalanan hidup, tetapi bukan tujuan hidup. Ibarat kamu melakukan perjalanan darat dari Jakarta menuju Surabaya, mengendarai mobil dengan aman adalah kewajibanmu dalam perjalanan. Tetapi tujuan utamanya adalah sampai ke Surabaya, bukan pada besaran kecepatan mobil yang stabil.

Lalu, tujuan hidup macam apa yang cocok dan kuat ?
Temukanlah passionmu, temukanlah minat dan bakatmu. Dengarkan bisikan suara hatimu. Hidupi passion mu dengan tekun dan konsisten. Passion mu akan mengarahkanmu pada tujuan hidup yang jelas. Berikan waktumu beberapa hari untuk dirimu sendiri, merenungkan perjalanan hidup, mengolah peristiwa-peristiwa hidup, dan menetapkan tujuan hidup. Dengan begitu kamu bisa melalui Quarter Life Crisis dengan aman.

Kalau merasa belum mampu mengolah sendiri, temuilah psikolog untuk berdiskusi mengenai tujuan hidup.

Benny Pudyastanto
Peneliti lepas untuk isu kesehatan mental di sekolah, merangkap bapak asrama anak-anak SMA

Similar Articles

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertisment

Instagram

Most Popular