Waktu Baca: 2 menit

“Sejatinya pendidikan di Indonesia itu tidak ada. Yang ada adalah industrialisasi pendidikan. Semua pengajaran di sekolah diarahkan untuk kebutuhan industri.” Demikian ungkapan Ismanto, seorang seniman patung yang berdiam di sisi barat lereng Gunung Merapi. Ungkapan itu saya tangkap dalam kunjungan saya ke rumah beliau di tahun 2016. Tentang siapa itu Ismanto, kamu bisa Googling, dengan kata kunci Ismanto, Patung, Magelang.

Cerita yang lain juga muncul sepanjang saya studi master di UGM sebagai calon psikolog pendidikan. Kala itu teman-teman saya berseloroh bahwa pikiran saya nyrempet bidangnya psikologi industri dan organisasi (PIO). Saya biasanya akan menjawab, “toh pada akhirnya kita akan masuk di dunia industri pendidikan.”

Barangkali para guru dan pendidik akan merasa tidak terima dengan istilah industrialisasi pendidikan. Bagaimanapun juga banyak pengajar yang bekerja tulus  untuk mendidik anak bangsa. Tetapi realitasnya, konten pembelajaran kita di bangku sekolah tidak jauh dari urusan industri, mulai dari level SD sampai sarjana. Segala macam materi belajar terkoneksi dengan kebutuhan kompetensi industri kelak ia masuk dunia kerja, entah aspek pengetahuan atau karakter kerjanya. Ini bukan berarti pertanda buruk, hanya saja ada beberapa efek samping yang perlu diperhatikan. Mari kita menyelami industrialisasi pendidikan.

Pertama, pengukuran kualitas murid berdasarkan peringkat nilai akademik. Kita masih akrab dengan istilah rangking. Meskipun secara administratif rangking telah dihapus dari dunai pendidikan, tetapi kenyataannya salah satu persyaratan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) tetap menggunakan data rangking siswa di SMA. Siswa yang dipilih untuk mendaftar SNMPTN adalah siswa terbaik di sekolahnya. Rangking atau pemeringkatan, adalah hal lumrah dalam dunia manajemen sumber daya manusia di perusahaan, untuk melihat siapa karyawan terbaik. Karyawan yang dinilai berprestasi akan mendapatkan bonus atau promosi jabatan. Tetapi ketika pemeringkatan ini diterapkan di sekolah, maka menjadi hal ganjil. Tidak beda signifikan dalam proses pendidikan bagi murid yang berprestasi dan yang biasa-biasa saja.

Kedua, karakter murid berubah dari mental pembelajar menjadi mental tukang. Ini semakin tampak ketika belajar daring di masa pandemi. Murid yang memiliki mental pembelajar akan tetap mencari sendiri sumber-sumber pengetahuan apapun, karena ia memang ingin tahu, bukan karena perintah guru. Murid yang bermental tukang hanya akan belajar ketika ada tugas dari guru. Definisi belajar pun bergeser dari aktivitas mencari informasi menjadi aktivitas menyelesaikan tugas. Ketika tidak ada tugas dari guru, murid memilih menganggur, menikmati video streaming, atau bermain game. Celakanya, orangtua dan guru yang tidak suka melihat murid menganggur lantas memilih solusi dengan memperbanyak tugas untuk memanfaatkan waktu luang para murid. Bila tugas dari guru dirasa tidak jelas, murid memilih diam dan tidak mengerjakan tugas. Mental tukang semakin dibentuk kuat.

Ketiga, peran guru dan murid masih bernuansa atasan dan bawahan. Atasan memberikan tugas kepada bawahan, untuk dikerjakan dengan batas waktu tertentu. Bila tugas bisa diselesaikan tepat waktu dan benar, maka penilaian akan baik. Sial bagi murid adalah ketika mendapat guru yang menginginkan tugas dikerjakan sesuai dengan pola pikir gurunya. Kalau tidak sama dengan pola pikir gurunya, maka dianggap salah. Kebenaran mutlak masih berada di tangan guru. Meskipun kurikulum pendidikan kita sudah silih berganti dan berupaya mengubah peran guru dari dewa menjadi pendamping belajar, tetapi pada akhrinya mental industrial ini tetap terpelihara di sekolah.

Saya kira tidak banyak hal yang bisa kita lakukan terhadap situasi pendidikan kita, yang realitasnya memang sudah menjadi bagian dari industri dalam kerangka besar. Menciptakan sekolah alternatif juga bukan solusi jitu, karena niscaya pengelolaan sekolah juga akan terjebak dalam industrialisasi. Tetapi setidaknya dengan kesadaran adanya industrialisasi pendidikan, kita bisa mengubah pola pikir tentang pendidikan mulai dari dalam lingkup rumah. Sejak kecil anak perlu dituntun kesadarannya untuk memiliki mental pembelajar, bukan mental tukang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here