Meratapi nasib lulusan sekolah jalur Corona

Waktu Baca: 4 menitMei 2020 adalah masa kelam bagi anak-anak kelas 12 SMA (yang sekarang mereka sudah kuliah atau bekerja). Tidak ada seremoni kelulusan, tidak ada prom nite, tidak ada wisuda di sekolah, tidak ada adegan dandan ganteng dan cantik ketika menerima surat tanda kelulusan dari sekolah. Mereka berharap barangkali beberapa bulan kemudian mereka bisa kembali ke sekolah untuk bersama-sama merayakan kelulusan yang tertunda bersama teman-teman. Tetapi sampai detik ini, Febuari 2021, keinginan itu makin mustahil. Merayakan lulus yang tertunda bakal jadi barang basi, karena 3 bulan lagi adik kelas mereka juga bakal mengalami hal yang sama. Lulus tanpa seremonial di sekolah.

Lulusan SMA angkatan 2020 merasakan kultur belajar yang baru. Mereka sudah menjadi bagian dari civitas academica sebuah kampus, tetapi bisa jadi sampai 6 bulan sejak pertama kali kuliah, mereka belum pernah menyentuh secara langsung apa itu ruang kuliah, apa itu ruang tata usaha, apa itu ruang unit kegiatan mahasiswa. Mereka belum pernah melihat secara langsung seperti apa profil teman-temannya seangkatan, seperti apa gaya dosen mengajar di kelas, seperti apa kantin dan toilet kampus. Setiap hari mereka berjumpa dengan kelas virtual. Kamar di rumah / kos menjadi ruang kelas sekaligus ruang praktikum, merangkap panggung presentasi.

Secara mentalitas, saat ini mereka masih menyisakan aroma seragam putih abu-abu, meskipun secara akademik mereka sudah mencecap dunia perkuliahan. Kalau ternyata pandemi COVID-19 baru berakhir 3 tahun lagi, maka praktis mereka akan jadi lulusan kampus yang tetap membawa mentalitas SMA.

Situasi lebih menyedihkan justru baru akan dihadapi oleh anak-anak lulusan SMA angkatan 2021, yang 3 bulan lagi akan diwisuda secara virtual. Melihat perkembangan situasi pandemi di Indonesia, rasa-rasanya mustahil sekolah akan dimulai kembali dalam waktu-waktu dekat ini. Ya, mereka akan mengikuti ujian akhir secara daring, dan lulus secara daring pula. Kehidupan sekolah mereka praktis berhenti pada bulan Februari 2020. Setidaknya mereka sudah mengalami realitas sekolah selama satu setengah tahun. Setelah itu mereka masuk dalam alam belajar virtual, yang pengalamannya tidak sekompleks belajar langsung di sekolah.

Sejatinya kehidupan sekolah bukan sekadar tentang materi kurikulum akademik, bukan sekadar proses untuk mengisi buku raport dengan prestasi akademik saja. Jika sekolah hanya melulu urusan akademik, maka kiranya anak tidak perlu repot-repot belajar melalui sekolah formal. Anak bisa mendapat materi akademik dari Bimbingan Belajar atau les privat. Tetapi fungsi sekolah tidak sesempit itu. Sekolah bahkan lebih banyak bicara tentang proses tumbuh kembang sebagai remaja, kontak dengan realitas, kesulitan hidup, konflik dan relasi sosial dengan banyak orang.

Secanggih apapun teknologi pembelajaran virtual sampai saat ini, belum ada yang mampu menghadirkan pengalaman bertumbuh dan berkembang selengkap proses belajar di sekolah. Semua pengalaman emosional di dunia nyata, ketika dikemas melalui kelas virtual, mungkin akan mengalami amplifikasi atau simplifikasi. Teguran dari guru bisa terasa jadi persoalan yang sangat emosional, atau bisa jadi terasa lemah seperti sekadar ujaran biasa.

Ketika dalam kondisi sekolah biasa (seperti tahun 2019) di kelas anak terbentur masalah dengan teman-teman sekelas, anak bisa secara konkret merasakan kejengkelan teman-temannya, anak bisa melihat kemarahan guru secara langsung, anak harus segera menyelesaikan persoalan agar keesokan paginya ia dapat tetap diterima dalam lingkungan sosial di kelas. Begitu ia menghindar atau menunda penyelesaian, maka akan berbuntut panjang pada citra dirinya di kelas. Tetapi ketika dalam kelas virtual, semua wujud konflik akan berubah menjadi sekadar teks atau data visual yang setiap saat bisa dihapus. Bisa jadi anak dikeluarkan dari sebuah group Whatsapp kelas karena perilakunya yang menyebalkan. Tetapi ekspresi kekecewaan lingkungan sosial tidak akan pernah tersampaikan dengan tepat. Kalau sudah dikeluarkan dari group Whatsapp, paling ia akan menunggu waktu untuk diundang kembali. Guru juga tidak akan berani berlama-lama membiarkan anak di luar group, karena itu satu-satunya sarana kendali yang efektif dan efisien. Pembiaran itu hanya akan menambah kerepotan guru untuk menyampaikan tugas sekolah.

Efek sekolah virtual yang terlalu lama tidak hanya berdampak pada dunia mikro tiap anak. Efek makro akan terasa bagi sebuah negara, karena kelak ada angkatan kerja yang tidak siap kerja. Mereka adalah generasi yang lebih dari 30 persen masa belajarnya dihabiskan di depan layar laptop dan ponsel. Bisa jadi mereka tangkas dalam memanfaatkan teknologi, cerdas dalam menuangkan gagasan-gagasan ilmiah, tetapi gagap dalam menghadapi tuntutan pekerjaan. Bisa jadi mereka memiliki penalaran ilmiah yang baik, kesulitan untuk mengolah situasi konflik pekerjaan. Angka turnover di perusahaan bisa meningkat dan membuat pusing para pemangku kebijakan SDM. Kalau mereka (pekerja fresh graduate) dihadapkan pada konflik pekerjaan, maka pilihan untuk resign atau serta merta meninggalkan pekerjaan adalah pilihan realistis dan mudah bagi mereka, sebagaimana pengalaman mental yang mereka peroleh selama belajar online di sekolah. Tidak suka pada lingkungan kelas, ya keluar saja, atau sembunyi saja. Toh tetap akan lulus. Persoalannya, dunia pekerjaan tidak sesederhana itu.

World Economic Forum merilis 10 keterampilan yang diperlukan oleh dunia kerja tahun 2020, yaitu :

  1. Penyelesaian masalah yang kompleks
  2. Berpikir kritis
  3. Kreativitas
  4. Manajemen komunitas
  5. Sinergi dengan orang lain
  6. Kecerdasan emosional
  7. Pengambilan keputusan strategis
  8. Orientasi kepada pelayanan
  9. Negosiasi
  10. Fleksibilitas cara berpikir

Kita tidak akan mengulas semua tuntutan keterampilan tersebut, tetapi cukuplah kita ulas pada keterampilan nomor satu. Kemampuan menyelesaikan masalah kompleks sebagai keterampilan teratas menjadi tanda bahwa keterampilan tersebut benar-benar dibutuhkan dalam dunia pekerjaan. Setidaknya orang dituntut memiliki satu keterampilan tersebut. Keterampilan itu dapat diasah paling efektif melalui interaksi dengan orang lain secara konkret, melalui diskursus, debat, atau bahkan perkelahian. Meskipun kelas virtual dapat menghadirkan soal problem solving melalui slide PPT dan dijawab secara lisan maupun tulisan, tetapi kepekaan emosi tetap akan sulit terasah.

Bila angkatan kerja tidak memiliki kompetensi yang cukup, jelas akan berdampak pada kemajuan perusahaan atau organisasi kerja. Dampak berikutnya adalah pada kualitas SDM suatu negara. Ketika perusahaan tidak mendapatkan SDM yang cukup kompeten, maka beberapa peran tenaga kerja bisa digantikan oleh Artificial Intelligence. Risiko-risiko berikutnya akan makin terasa besar bagi kualitas negara, dan stabilitas negara.

Sejauh ini belum ada solusi konkret untuk mengatasi potensi ancaman persoalan ini. Tugas kita bersama adalah mempersiapkan diri masuk untuk berjumpa dengan angkatan kerja yang inkompeten, antara tahun 2021-2025. Suka atau tidak suka, begitulah situasinya.

Benny Pudyastanto
Peneliti lepas untuk isu kesehatan mental di sekolah, merangkap bapak asrama anak-anak SMA

Similar Articles

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertisment

Instagram

Most Popular