Mimpi boleh, tetapi jangan lupa bangun

Waktu Baca: 2 menit 

Gagasan ini masih berkaitan dengan artikel sebelumnya tentang Quarter Life of Crisis. Sejak kecil kita dibiasakan membangun angan-angan, cita-cita, dan impian. Ketika kita beranjak remaja, kita mulai diperkenalkan dengan istilah idealisme; sebetulnya idealisme dan impian hanya beda tipis. Ketika kita beranjak dewasa, kita mulai mengenal kata pragmatis dan realistis; sesuatu yang seringkali dibenturkan dengan idealisme.

Kita masing-masing mau jadi pribadi yang realistis atau idealis, itu hanya soal pilihan saja. Semua sama benar. Tetapi, kadar yang terbaik untuk hidup kita adalah cukup realistis dengan tetap memiliki idealisme. Terlalu idealis hanya akan membuat hidup kita cepat jatuh dan terbentur berbagai realita kehidupan. Terlalu realistis hanya akan membuat hidup kita monoton dan terasa no live.

Impian perlu dibangun untuk menjadi daya dorong hidup kita. Dengan impian, kita bisa menjadi apapun dalam hidup kita sendiri. Kita bisa mengarahkan kehidupan kita pada satu situasi yang sangat kita inginkan. Orang yang memiliki impian akan tampak bersemangat dan ceria. Tetapi kalau ada yang mengaku memiliki impian dan hidupnya tidak berkembang, saya kira itu bukanlah impian. Itu hanyalah lamunan saja. Tidak semua orang berani membuat impian.

Sikap realistis juga perlu dimiliki agar kita tahu situasi kita yang kini dan di sini. Dengan bersikap realistis, kita bisa menetapkan strategi yang tepat untuk mewujudkan impian. Sikap realistis juga diperlukan agar cara kerja kita dalam mewujudkan impian itu tidak merusak kepentingan orang lain. Tetapi bila kita terlalu realistis, kita tidak akan bergerak ke manapun. Kita hanya akan berhenti karena pikiran dipenuhi rasa takut dan pengalaman kekecewaan di masa lalu.

Lalu bagaimana kadar idealis dan realistis yang tepat?

Idealisme hendaknya ditempatkan dalam visi atau tujuan kita. Bicara tujuan, bukan berarti hal yang muluk-muluk soal kesuksesan hidup. Tujuan juga bisa berlaku untuk hal yang remeh temeh seperti urusan perut. Setiap hari kita makan, karena kita ingin kenyang. Barangkali ada yang makan karena ingin sehat. Rasa kenyang dan kesehatan itulah idealisme yang harus dipegang kuat. Sementara sikap realistis hendaknya ditempatkan dalam cara mencapai tujuan itu. Dalam hal makan, sikap realistis ditempatkan pada perkara pilihan jenis makanan. Mau cepat kenyang dan murah ? makanlah mie instant dengan nasi. Mau sehat dan murah ? makanlah nasi dengan sayur sop. Celakanya kalau idealisme ditempatkan pad acara mencapai tujuan, itu seperti orang yang hobi makan mie instan, tetapi satu sisi ingin tetap mendapat kesehatan dengan hobinya itu. Tidak mungkin.

Ketika kita sedang dalam proses mencapai impian, pasti kita akan menemui kesulitan dan tantangan, apapun bentuknya dan seberapa pun beratnya. Sikap realistis akan menuntun kita untuk bisa menyelesaikan persoalan dengan cara-cara yang efektif dan efisien. Bila kamu ingin menjadi dokter namun tidak lulus tes seleksi fakultas kedokteran karena kurang nilai matematika, jangan putus asa. Cek kembali tujuan besarmu. Kamu hanya sekadar ingin jadi dokter atau melayani masyarakat di bidang kesehatan ? Bila kamu hanya ingin menjadi dokter, maka impianmu selesai ketika sudah dilantik menjadi dokter dan memakai blazer dokter. Tetapi bila ternyata impianmu adalah soal jiwa filantropi yang menolong orang lain di bidang kesehatan, kamu masih bisa bersikap realistis, mencari jalan lain dengan belajar menjadi fisioterapis, atau kursus-kursus profesi lain yang mungkin untuk kamu ikuti. Tanpa harus menjadi dokter, kamu tetap bisa menolong orang lain.

Demikian seterusnya pola pikir dan pola bertindak itu bisa dipakai untuk situasi-situasi yang lain. Mimpi boleh, tetapi jangan lupa bangun. Supaya kita menyadari kita sedang ada di mana dan hendak ke mana.

 

 

Benny Pudyastanto
Peneliti lepas untuk isu kesehatan mental di sekolah, merangkap bapak asrama anak-anak SMA

Similar Articles

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertisment

Instagram

Most Popular