Waktu Baca: 3 menit

Sempat muncul pertanyaan apakah tahun ini Misa Imlek di Muntilan akan diadakan mengingat pandemi Korona belum juga mereda. Keputusan akhirnya, Misa Imlek tetap berjalan dengan segala keterbatasannya.

            Misa Imlek di Muntilan sudah menjadi tradisi. Tiap tahunnya, acara ini diadakan di Gereja Santo Antonius Muntilan. Pada awal diadakannya acara ini, acara ini menarik perhatian nasional. Konon pada saat itu, penyanyi jebolan Indonesian Idol yang sedang naik daun, Delon, sempat dikabarkan akan menjadi salah satu pengisi acara. Hal ini urung terjadi karena satu dan lain hal. Namun, tetap saja Misa Imlek di Muntilan menjadi perbincangan hangat dan menjadi salah satu acara yang menarik perhatian masyarakat luar Muntilan, terutamanya umat Nasrani.

Untuk diketahui, misa adalah upacara peribadatan umat Nasrani yang paling penting. Umat Nasrani sendiri memiliki banyak bentuk peribadatan seperti Rosario, Persekutuan Doa, Komsel dan seterusnya. Namun, misa adalah yang paling penting. Tata cara misa sudah disusun sedemikian oleh Vatikan dan harus diikuti secara kronologis. Biasanya misa dianggap sebagai sebuah peribadatan yang konservatif bahkan cenderung ‘kaku’.

Maka dari itulah, ketika Misa Imlek disetujui pihak Katerdal, ada perbincangan hangat yang hadir di tengah masyarakat. Misa yang awalnya terkesan kaku kini diakulturasi dengan budaya Tiongkok. Persembahan ala barat (Eropa) digantikan dengan hasil tani. Lagu lagu Mandarin dilantunkan, dan penghormatan ala Klenteng dengan dupa juga menjadi bagian dari Misa Imlek. Romo (Rohaniwan Katolik) yang bertugas juga menggunakan pakaian serba merah. Gereja juga didekorasi dengan tema tema Imlek dan budaya Tiong Hoa. Ada yang setuju dengan model misa ini, ada yang tidak. Tapi Misa Imlek menjadi bukti bahwa Gereja Katolik dan Umat Nasrani sudah menunjukkan simbol toleransi yang kuat.

Pada tahun lalu, Misa Imlek Muntilan mencapai puncak kepopulerannya. Sempat diliput salah satu TV Nasional hingga di re-run beberapa kali, Misa Imlek juga mendatangkan atraksi Barongsai yang mewah. Ditambah lagi ada pembagian Ang Pao. Lalu dilanjutkan acara makan makan bersama dengan sajian ala Tiong Hoa seperti Lontong Opor serta Bakmi Panjang Umur. Tak disangka itulah kemeriahan terakhir sebelum pandemi Korona memukul dengan keras.

Pada tahun ini, muncul perdebatan mengenai baik buruk diadakannya Misa Imlek. Salah satu yang menjadi kendala adalah aturan protokol kesehatan yang berubah ubah. Akhirnya pada hari Selasa minggu lalu, diputuskan bahwa Misa Imlek harus tetap berjalan dengan segala keterbatasannya, termasuk pelaksanaan dengan menggunakan teknologi Streaming.

“Kita dalam keadaan apapun juga, jangan sampai kehilangan iman. Jangan sampai kehilangan harapan. Jangan sampai kehilangan cinta kasih. Pandemi hendaknya jangan jadi penentu dan akhir dari semuanya. Artinya sebagai orang beriman kita dapat terus melihat bahwa Allah terus berkarya dengan berbagai cara,” kata Romo Paulus Agung Wijayanto S.J. saat menjelaskan mengapa Misa Imlek harus terus berjalan.

Romo Agung, sapaan akrabnya, menilai bahwa protokol sudah dilakukan dengan baik. Ada petugas yang mengecek suhu. Ada banyak wastafel yang digunakan untuk mencuci tangan disediakan dimana mana. Dari pengamatan saya, sekitar 10 wastafel disediakan. Lalu kapasitas gereja juga dibatasi hanya 50% saja. Saat misa diadakan, umat yang berkumpul secara langsung jumlahnya sekitar dua puluh orang saja sehingga misa ini dapat dikatakan betul betul aman. Untuk umat lain, disediakan siaran langsung melalui aplikasi Youtube.

Untuk tahun ini, Misa Imlek masih berbicara soal pentingnya toleransi dan menghargai budaya lain. Namun ada hikmah berbeda yang terselip di dalamnya. Menurut Romo Agung, pesan toleransi makin kuat dan menjadi lebih penting di tengah pandemi karena ada pelajaran penting di dalam musibah yang terjadi. Ketika pandemi , tak peduli suku, agama dan rasnya, manusia sama sama mengalami kesusahan. Daripada bermusuhan, lebih baik jika semangat kolaborasi diutamakan. Hal itulah yang dapat dilihat saat ini. Momen saat Korona menyerang, konflik antar suku, ras dan agama jauh berkurang karena banyak pihak fokus untuk memastikan keselamatan akibat pandemi Korona. Kolaborasi menjadi yang utama dan toleransi menjadi pintunya.

Selain membicarakan toleransi yang menjadi pintu kolaborasi. Misa Imlek juga menjadi momen untuk mengingatkan kembali bahwa pandemi Korona bukanlah hal yang paling buruk. Romo Agung berujar, keserakahan misalnya,  adalah pandemi yang jauh lebih berbahaya. Korupsi sebagai perwujudan keserakahan, menjadi penyakit yang mengerikan bagi bangsa ini karena terbukti bahwa di masa pandemipun korupsi masih terus terjadi. Romo berpesan agar Misa Imlek ini menjadi momen untuk mengingatkan umat bahwa Korona bukan satu satunya hal yang berbahaya.

Pada akhirnya, dengan segala kondisi dan masalah. Misa Imlek Muntilan di tahun ini hadir sebagai penanda bahwa tantangan selalu ada, tapi manusia tak boleh menyerah karena Tuhan selalu mendampingi.

 

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here