Waktu Baca: 3 menit

Mencuatnya isu affair antara Khoirunissa (Nissa) dan Ahmad Ayus (Ayus), dua personel Sabyan Gambus baru-baru ini tetaplah menarik untuk dibahas. Kasus perselingkuhan adalah persoalan abadi manusia, yang saya kira sudah ada sejak awal sejarah umat manusia. Akar perselingkuhan, bagaimanapun juga tetaplah dari rasa tidak puas manusia terhadap apa yang dimiliki. Ketidakpuasan bisa berkaitan dengan motif politik, ekonomi, atau seksualitas. Sekalipun namanya perselingkuhan dipandang masyarakat sebagai sebuah cacat, namun sikap terhadap perselingkuhan selalu terbagi dua : mengungkap atau menutup rapat-rapat.

Don’t Judge book by its cover
Kasus Nissa dan Ayus  barangkali menjadi hal baru, bila dibandingkan dengan kasus perselingkuhan lain yang terjadi di antara para pesohor dan artis. Yang berbeda kali ini yaitu adanya bumbu unsur agama. Grup musik Sabyan Gambus dikenal membawakan musik-musik bernuansa Islami. Nissa sebagai vokalis yang ada di garda terdepan pun juga berdandan syar’i dalam setiap penampilan Sabyan Gambus. Wajarlah bila masyarakat menjadikan Sabyan Gambus sebagai ikon grup musik religi. Otomatis pula masyarakat mengharapkan personel Sabyan Gambus menunjukkan sikap-sikap sebagai seorang religius; tidak hanya sekadar lagu religius. Tetapi barangkali kita lupa dengan pepatah Bahasa Inggris don’t judge book by its cover. Kalau kita ngotot menilai orang berdasarkan penampilan saja, niscaya kita akan kecewa. Ekspektasi kita terlalu tinggi. Kasus Nissa dan Ayus, sekali lagi mengungkap karakter kita, yang masih cepat menilai orang berdasarkan penampilan luar.

Pembajakan Atribut Religiusitas
Kiranya kita sepakat bahwa semua agama mengajarkan kebaikan. Atribut pakaian berbasis agama pun diciptakan dengan harapan untuk membantu pemakainya agar menjadi makin religius. Realitasnya, tidak ada perbedaan signifikan dalam hal sikap dasar, antara orang yang tampil dengan dandanan religius dan orang yang tampil dengan dandanan biasa saja. Nakal tetaplah nakal, selingkuh tetaplah selingkuh, jahat tetaplah jahat, maling tetaplah maling, meskipun sudah orang berpakaian religius. Ini terjadi karena orang berlindung di balik atribut agama. Saya kira ini tidak hanya terjadi pada Nissa, tetapi juga pada banyak orang. Jangankan orang awam, para tokoh agama pun juga banyak yang menutupi kenakalannya dengan alibi atribut agama.

Khilaf
Dalam klarifikasinya kepada media, Nissa mengakui sikap khilafnya. Kalau kita membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kita akan menemukan bahwa arti kata khilaf adalah kekeliruan yang tidak sengaja. Rasanya cukup unik bila khilaf terjadi selama kurun waktu 2 tahun. Akal sehat kita akan sukar menerima alibi bahwa tindakan selingkuh selama 2  tahun dilakukan karena unsur kekeliruan dan tidak disengaja. Tetapi kita tidak perlu marah dengan alibi Nissa dan Ayus, karena toh kadang-kadang kita melakukan motif yang serupa. Tidak setiap tindakan salah kita adalah sesuatu yang tidak menyenangkan. Kadang-kadang kesalahan itu dirasa orang sebagai sesuatu yang menyenangkan, misalnya menipu, selingkuh, korupsi, mencuri, dan segala kejahatan yang bisa kita sebut. Memang itu salah (dan mungkin dosa!), tetapi toh ada rasa senang dan tenteram yang muncul dalam hati, selama tidak terbongkar. Bila kejahatan kita terbongkar, maka dengan mudah kita memakai kata khilaf sebagai alibi. Harapannya, orang di sekitar kita memaklumi bahwa kita manusia biasa yang banyak salah dan dosa, sering keliru, dan seterusnya. Sikap religiusitas dibajak sebagai alat untuk melindungi diri dari tuntutan tanggung jawab.

Kebutuhan afeksi yang tak berujung
Normalnya kita manusia ingin diperhatikan orang lain. Kita ingin diakui, dicintai, dan dihargai. Untuk memenuhi kebutuhan itu kita akan bergerak mencari orang lain yang mampu mencukupi kebutuhan tersebut. Masalahnya, kadar kebutuhan afeksi tiap orang selalu berbeda. Ada yang merasa cukup dengan satu sahabat saja, tetapi ada juga yang tidak merasa cukup dengan dua istri di rumah. Perselingkuhan adalah tanda bahwa orang belum merasa tercukupi kebutuhan afektifnya. Sayangnya, kebutuhan manusia seringkali tidak ada batas maksimalnya. Sekalipun kita sudah memiliki pasangan, namun kehadiran orang lain tetap bisa menarik hati kita.

Solusi perselingkuhan bukanlah menikah dengan selingkuhan. Solusi perselingkuhan adalah pengendalian diri dua pihak yang berselingkuh. Rasa cukup itulah yang harus ditanamkan dalam hati kita, karena akarnya adalah ketidakpuasan diri. Kalau orang sudah merasa puas dengan apa yang ia miliki, ia cenderung akan malas mencari kepuasan tambahan. Belajar mengatakan cukup, itulah yang harus kita pegang erat.

Sekali lagi, kasus perselingkuhan Nissa dan Ayus bukan sekadar membuka aib mereka berdua, tetapi ternyata juga mencerminkan siapa kita. Nissa dan Ayus adalah kita juga.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here