Waktu Baca: 3 menit

Si Raja Roasting terkena batunya. Ridwan Remin mendapat kritik pedas dari Ruben Onsu karena telah meroasting Ruben Onsu dan keluarganya. Namun sebenarnya, kasus ini tak perlu berbuntut panjang.

Memahami dulu apa itu Roasting dan Ridwan Remin

            Bagi saya, Ridwan Remin adalah salah satu komika terbaik di Indonesia. Melihat fisiknya saja sudah membuat kita tertawa. Ia kurus, ceking dengan brewok tidak beraturan, persis seperti anak kos yang jarang mandi..atau malah aktivis kampus yang lupa kalo dia punya kos..ya gitulah..mirip mirip. Lalu suaranya itu cempreng tinggi dengan nada kesinisan yang entah mengapa membuat dia lovable dan mengundang tawa. Jadi, berdiri aja dia sudah lucu. Modal fisik itu ditunjang dengan pengetahuannya yang luas soal dunia sosial tanah air. Terutama aib selebriti by the way. Tak heran jika ia kemudian dikenal sebagai salah satu komika high status yang punya spesialisasi meroasting orang.

saat Ridwan Remin menjawab panggilan KPAI

Korban Ridwan Remin sudah banyak, mulai dari sesama komika hingga selebritis terkenal macam Raffi Ahmad dan Luna Maya. Tapi jujur, sulit membenci dia karena jika anda diroasting seorang Ridwan Remin, itu berarti anda menjadi bagian dari karya yang luar biasa. Saya juga kadang membayangkan diri saya diroasting Ridwan Remin, penasaran saya bagaimana cara di meroasting saya. Roastingnya adalah karya seni yang luar biasa. Menjadi bahan ejekannya adalah suatu kehormatan.

Roasting tak melulu menjelekkan atau menyerang pribadi yang dijadikan bahan candaan. Roasting kadang justru mentertawakan penonton yang percaya pada cerita aib yang sebenarnya hanya kabar burung. Misalnya saja saat Ridwan meroasting Ruben Onsu yang mengatakan bahwa tradisi berciuman di keluarga Onsu sebenarnya cara Ruben agar bisa lebih ‘intim’ dengan Bertrand Peto. Hal ini berkebalikan dengan kabar burung bahwa Bertrand Peto memanfaatkan momen dengan mencium cium Sarwendah Tan.

Penonton tertawa mendengar jokes Ridwan Remin ini. Mereka berpikir Ridwan sedang mentertawakan Ruben Onsu yang diduga gay misalnya. Padahal, Ridwan Remin sedang mengejek penonton yang percaya bahwa bapak dua anak bernama Ruben Onsu itu secara diam diam seorang gay. Itulah sisi menarik dari sebuah roasting.

            Teknik seperti ini sering dipakai Seth Mcfarlane. Ia membuat komedi komedi roasting yang seolah olah sedang mengejek aib seseorang. Padahal, ia sedang mentertawakan penonton yang percaya pada aib seseorang tanpa melakukan klarifikasi. Hal ini banyak ditemukan dalam acara Mcfarlane seperti Family Guy dan American Dad.

Soal Menanggapi Roasting

            Boleh gak menanggapi roasting dengan marah?

            Hmmm..jujur saja, itu bisa menjadi sangat bermasalah ketika emosi dikedepankan dalam menanggapi roasting yang sebenarnya adalah bagian dari komedi. Ernest Prakasa, Raditya Dika dan beberapa komedian lain pernah berujar bahwa Indonesia adalah tempat yang tidak ramah bagi komedian. Komedian adalah entertainer. Dia tidak dituntut harus selalu berkata benar begitu kata Pandji Pragiwaksono. Akan tetapi, ia harus lucu dengan berbagai cara. Menjadi aneh kalau ada masyarakat tersinggung dan apalagi berharap bahwa komedian menjadi sumber kebenaran dan etika.

Suka tidak suka, komedian hidup di alam fiksi. Komedian memang memiliki kebebasan sebagai karakter fiksi. Ridwan Remin sebagai manusia di masyarakat dan Ridwan sebagai komika adalah pribadi berbeda. Ridwan di panggung sebenarnya ia hidup di dunia fiksi dan ia tidak terikat aturan menusia pada umumnya. Ia bebas mencari kelucuan dari berbagai hal. Sayang, fakta inilah yang tidak banyak dipahami rakyat Indonesia. Konyol memang ketika omongan komedian dibawa serius, dicari cari kesalahannya dan bahkan ada yang sampai ekstrim menganggap komika  harus jadi role model.

            Indonesia mungkin belum belajar apa itu artinya kebebasan berbicara. Contoh deh, saya saja biar tidak ada yang tersinggung. Seorang Ardi Pramono sering dikatain juga oleh banyak orang mulai dari bossy hingga kurang sensitif. Bagi saya mereka bebas berkata apapun tentang saya. Reaksi omongan saya pada haters haters sayalah yang menjadi pilihan saya. Kadang saya mengevaluasi diri kalau omongan itu ada benarnya, tapi kadang saya ya bodo amat kalau saya menilai omongan yang ada hanya pepesan kosong dari orang iri.

Itu reaksi saya pada omongan orang beneran (manusia nyata bukan karakter komika di panggung ) yang secara serius, religiously, benci saya atau kesal pada saya. Lha kalau komedian? Kalau saya dikatain komedian ya aneh kalau saya anggap serius. Paling ada kebenaran di sana, tapi berapa persen sih? Ya mending saya ambil hikmahnya saja. Toh tidak ada salahnya kita jadi bahan hiburan, malah menabung kebaikan.

Bagaimana dengan Ruben Onsu?

Kembali ke kasus Ruben Onsu. Saya memahami pikiran Ruben Onsu, tapi mengkritisi komedian karena omongan ngawurnya menurut saya tidak tepat. Komedian adalah komedian, anggap saja orang gila. Kalau semua lawakan dan kengawuran komedian kita tegur, bisa bisa darurat ketawa Indonesia. Semua takut melawak karena takut ada yang tersinggung.

Ke depan ini menjadi pekerjaan rumah bersama karena hukum di Indonesia (UU ITE) masih memungkinkan pelawak dan komedian terkena hukuman karena komedinya. Hal ini sebenarnya tidak sehat untuk industri kreatif. Biarlah pelawak hidup di dunia fiksinya sendiri dengan segala kengawuran yang bisa kita nikmati sebagai sebuah hiburan dan biarlah kita juga hidup di dunia nyata, menanggapi hal yang nyata dan berusaha agar hidup kita jadi jauh lebih positif daripada sekedar menanggapi omongan lalu lalang soal kita. Hak orang ngomongin kita. Hak kita menanggapi omongan orang dengan karakter dan pribadi dewasa kita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here