Waktu Baca: 3 menit

Keasyikan saya ketika menikmati mie instan yang terkenal dari Sabang sampai Merauke itu tiba-tiba berhenti. Dengan sukses mie tersebut tersangkut di tenggorokan saya. Pasalnya, gawai yang berada di sebelah kanan mangkok mie saya bergetar. Perhatian saya pun terpecah dan segera bergegas melihat pesan yang dikirimkan.  Bagi saya telepon pintar sudah seperti istri kedua, karena istri pertama belum punya. Haisssh…

Kira-kira beginilah pesan tersebut.

‘Bro, univeritas saya gak masuk rangking 10 besar ini.”

“Terus gimana?” jawab saya sambil membetulkan mie yang masih tersangkut di tenggorokan.

‘Ambyar ini, gak bener. Kecewa saya. Mosok kampus saya kalah sama kampus sebelah.”

“Sabar bro, kadang beginilah hidup. Banyak gak adilnya,” lanjut saya menenangkannya.

Setelah itu, tak ada lagi pesan yang dikirimkan kepada saya. Mulailah saya merenungi jawaban saya kepadanya tadi. Apakah salah? Ataukah benar? Setelah menjawab pesan teman saya tadi, nafsu makan pun menghilang. Persis seperti hilangya telur ceplok di atas mie goreng saya yang digondol kucing oren.

Ingatan saya pun memutar ke belakang. Mencoba mengingat perjuangan teman saya yang harus meninggalkan kampung halamannya di Lampung demi meraih impian menjadi guru. Saya juga membayangkan ketika dia hijrah ke pulau Jawa tentu dia ingin mendapatkan segudang ilmu untuk dijadikannya bekal di sana. Di dalam benaknya pasti ingin sekali memberikan yang terbaik kepada kedua orang tuanya. Walaupun saya bukan mentalist kayak master Deddy Corbuzier, saya bisa membaca arah pikirannya. Karena itu hal yang lumrah terjadi saja sih.

Esok ketika wisuda ia ingin mengenakan selempang cum laude, diberikan bunga ataupun barang-barang oleh teman-temannya. Melakukan swafoto dengan keluarga. Dilanjutkan dengan berfoto di studio dan biasanya diakhiri dengan makan bersama di sebuah tempat makan. Pemandangan yang selalu diimpikan oleh para mahasiswa semester akhir.

Sebagai mahasiswa tingkat akhir, ia pasti sedang galau akut. Sedang asyik-asyiknya menulis skripsi dan bolak balik revisi. Ia harus mendapati universitasnya tidak masuk rangking 10 besar terbaik di Indonesia. Ironis sekali, semacam ditinggal pas lagi sayang-sayangnya. Opooohh iki…

Tapi itulah yang terjadi di negeri ini. Semuanya diukur berdasarkan peringkat. Sejak sekolah dasar hingga penerimaan pegawai pun juga masih menggunakan kata tersebut. Apabila menduduki rangking bawah pasti akan dicap sebagai gagal ataupun bodoh. Sekarang bayangkan saja, jika kamu tidak kuliah di universitas favorit, jurusan tidak terkenal dan IPKmu mengenaskan. Entah label apa yang akan diberikan kepadamu. Ampun dah. Tragis!

Sahabatku yang super dan istimewa (mirip martabak dong?) banyak hal di dunia ini yang sebenarnya bisa diukur tidak menggunakan sistem perangkingan. Selalulah optimis dan jalani yang sudah menjadi pilihanmu.

Pertanyaan mendasarnya adalah bukankah sekolah itu seharusnya memberikan nuansa yang membebaskan dan mencerahkan, bukan malah persaingan, seperti kata Paulo Freire  Tak perlu risau jikalau universitas atau kampusmu itu tidak masuk rangking manapun. Mau itu nasional ataupun internasional, mau itu perguruan tinggi negeri ataupun swasta. Bagi saya semuanya sama. Bukan zamannya untuk kecil hati. Apalagi buat para mahasiswa baru. Semua itu tergantung kamu, iya kamu! Bukan orang tua ataupun kekasihmu.

Dunia ini sudah berubah! Sekarang semuanya sudah tak terbatas ruang dan waktu. Sebagai generasi digital kalian tentunya harus bisa memanfaatkan kesempatan ini. Semuanya ada di genggamanmu asal punya kuota dan listrik lho ya. Semua memiliki peluang yang sama untuk menuntut ilmu dan belajar. Mengakses jurnal atau jenis ilmu apapun dari belahan dunia manapun.

Pendidikan itu sejatinya adalah sebuah proses yang membuat orang lebih baik. Tidak bisa disederhanakan begitu saja. Di dalam proses itulah kita juga harus melakukan refleksi dan evaluasi terhadap proses yang dijalani. Pendidikan adalah proses perjalanan, seperti kita bermain Pokemon atau nonton Dragon Ball. Nikmati saja.

Penting diingat pula bahwa sekolah itu hanyalah ruang. Pikiran dan imajinasi haruslah tetap maju serta tidak terkekang. Percuma saja kamu kuliah di universitas favorit, jurusan unggulan, diajar sama profesor, beli buku sebanyak mungkin tapi kamu tidak pernah membaca dan mengembangkan kemampuanmu. Layaklah kamu dimakan kekejaman roda zaman.

Era sekarang itu pekerjaan sudah seharusnya tidak linier, siapapun dapat menjadi apapun. Pada dasarnya kalian harus bisa melihat peluang yang ada di depan kalian. Beberapa perusahaan besar tak lagi mementingkan nilai yang terpampang di ijazah ataupun transkripmu. Mereka lebih peduli apa yang bisa kalian lakukan. Apalagi sebagai generasi digital tren ke depan adalah menciptakan pekerjaan bukan lagi menjadi pekerja.

Menjelang akhir dari tulisan ini, saya akan memberikan contoh nyata. Seorang teman saya yang berasal dari pesisir dan tamatan SMA mampu menguasai tujuh bahasa pemrograman. Semuanya diperoleh dari otodidak, hanya mengandalkan membaca buku dan internet. Kabarnya ia sekarang sudah berada di Jepang menjadi programmer. Banyak orang yang selama ini diremehkan justru menjadi sosok yang menginspirasi. Pilihan ada di tanganmu.

Pada dasarnya, mau rangking berapa pun bersikaplah bodo amat. Yang terpenting adalah teman-teman semua fokus dengan apa yang disukai. Perbanyak jaringan sebanyak mungkin. Tugas pokoknya adalah melakukan semuanya sebaik mungkin dan dari hati. Tidak perlu merasa berkecil hati gara-gara rangking, karena masa depan tidak akan pernah ada yang tahu. Termasuk juga hubungan dengan calonmu. Ya to? Omong opoooo iki…(*)

 

*) Artikel ini pernah dimuat di  https://www.kompasiana.com/diazradit/5d5f979e097f362d3b070d25/rangking-universitas-bukanlah-penentu-masa-depanmu

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here