Waktu Baca: 3 menit
courtesey : Fox Searchlight

            Pernah menonton gulat ala “Smack Down” di televisi? Pada masanya, acara gulat ini selalu dinantikan pemirsa setia. Pertarungan brutal dengan drama-drama mengejutkan menjadi sajian utama acara ini. Kita semua tahu bahwa kita dibohongi, tapi kita tetap ingin menyaksikan pertandingan itu sampai akhir. Para pegulat di “Smack Down” bak superhero bagi kita. Mereka bisa dipukuli kepalanya tapi tidak pingsan. Mereka bisa dibanting tulang belakangnya tapi tidak patah. Mereka bisa dipukul kursi dan mereka baik-baik saja. Seru sekali rasanya menonton gulat “Smack Down” ini.

Tak terasa kita lupa bahwa mereka juga manusia. Mereka punya keluarga, masalah, dan kekhawatiran, serta seringkali harus menghadapi ketidakpastian hidup. Hal inilah yang dipotret dalam film “The Wrestler” karya Darren Aronofsky. Darren memanusiakan pegulat ini dengan seabrek masalah hidupnya. Dalam film ini, karakter itu diwakilkan pada Robin Ramzinski atau Randy “The Ram” Robinson.

Randy adalah seorang pegulat juara, namun ia telah melewati masa jayanya. Kini ia bekerja sebagai seorang penjaga supermarket dan berteman dengan seorang stripper bernama Cassidy. Ia sering melihat kilatan masa jayanya lewat permainan video game atau fans yang kebetulan mengenalinya. Ia ingin kembali ke masa  jayanya. Akan tetapi, apakah benar itu keinginannya?

Randy adalah orang palsu. Ia adalah karakter yang dibuat untuk mempopulerkan acara gulat. Ia memiliki persona yang dibuat-buat. Ketika lampu padam dan ia turun dari ring, ia hanya manusia tanpa arah dan kebingungan. Maka dari itu, meski ia memiliki riwayat penyakit jantung, ia masih berpikiran untuk kembali bertanding di ring sebab di dunia asli ia bukan siapa-siapa. Ia lebih senang menjadi palsu karena dalam kepalsuannya, ia menemukan kenyamanan.

Randy tak jauh berbeda dengan kita. Kita juga seringkali nyaman dengan kepalsuan. Kepalsuan itu kita tunjukkan di tempat tempat publik: media sosial (medsos). Di medsos, kita berusaha mengatur diri kita supaya terlihat sempurna dengan liburan eksotis, keluarga harmonis, dan karir profesional yang membanggakan. Padahal, kita tahu persis bahwa tidak ada di antara kita yang hidupnya sesempurna itu.

Tatkala kita lelah berpura-pura sempurna, tak jarang akhirnya kita meledak dan menumpahkan emosi kita di medsos. Kita pun mendadak berbalik arah menjadi orang paling nelangsa di medsos. Mengapa? Sebab kita tak punya saluran untuk menumpahkan segala sampah di hati dan pikiran kita. Hubungan antar manusia kita seringkali kering. Kita tak punya teman dekat, kasihpun bersyarat di keluarga. Kita menuntut anak kita menjadi yang kita inginkan. Kita menuntut orang tua agar mereka mengerti di sela-sela makin hilangnya kemampuan fisik mereka. Lalu dengan pasangan, komunikasi serta pengertian sering berakhir hambar, penuh salah paham dan berakhir mengenaskan.

Hidup kok gini amat, ya? Hehehe… . Pada akhirnya kita sadar bahwa kepalsuan tidak membawa apa-apa. Kepalsuan hanya akan menjadi makanan ego. Kita sibuk memberi makan ego dan lupa mencari kebahagiaan.

Sebelum terlambat, sebaiknya harus Anda sadari bahwa ego dan kebahagiaan itu sesuatu yang berbeda. Ego adalah keinginan karena ke-aku-an kita karena kita tak mau disakiti ataupun dipermalukan. Sementara itu, kebahagiaan adalah penerimaan kita bahwa seburuk-buruknya hal yang menimpa kita, pada akhirnya kita sendiri yang menentukan apakah hal itu menjadi sumber kebahagiaan atau penderitaan.

Jika ego diberi makan, tak ada yang berubah dari diri kita. Kita senang sebentar, tapi kemudian merasa kosong lagi. Bahkan, seringkali menderita. Sementara, jika kebahagiaan yang kita cari, secara hati dan pikiran kita lebih “terang”, lebih adem, dan bisa melihat dunia secara berbeda.

Saya ingin memberi sedikit ilustrasi, Bhante Sri Pannavaro pernah didatangi salah satu umatnya. Umatnya itu bertanya dimanakah sepatunya yang hilang. Ia sedih berhari-hari mencari sepatu kesayangannya itu. Pannavaro lalu berkata bahwa ia sudah menemukan sepatu itu. Mendengar hal itu, berbahagialah si umat. Si umat langsung mengejar-ngejar Pannavaro untuk menunjukkan di mana sepatunya. Pannavaro lalu menunjuk kepala si umat dan mengatakan bahwa sepatu itu ada dalam pikiran si umat. Malulah si umat mendengar hal itu. Dia menderita karena memikirkan sepatu itu. Coba kalau dia gak mikir, senanglah hatinya, kan?

Kebahagiaan adalah soal keikhlasan, soal menerima bahwa tak ada yang abadi di dunia ini. Kebahagiaan juga soal keikhlasan bahwa pasangan, teman, keluarga, dan sebagainya tak sempurna. Kebahagiaan juga adalah sebuah penerimaan bahwa tak semua orang mengerti kita dan bebas berkata apapun. Soal tersinggung atau tidak, itu pilihan kita.

Kembali ke “The Wrestler.” Randy adalah orang yang pernah di puncak, lalu jatuh. Ia menganggap dirinya sial. Padahal, ya begitulah sifat kesuksesan: tidak abadi. Randy terus menerus menyesali dirinya dan mengutuki keadaan karena putrinya susah menerima dirinya. Padahal di saat bersamaan, ia memiliki Cassidy yang selalu ada untuk dirinya. Pada akhirnya dia dimakan ego, ia ingin keinginannya harus tercapai. Di tengah keputusasaannya, ia mengambil langkah drastis: memutuskan untuk bertanding lagi dengan resiko terburuk. Mengapa demikian? Ia menganggap bahwa nilai hidupnya sia-sia. Ia berpikir bahwa orang mencintai dan menyayangi dia hanya karena dia seorang pegulat.

Apakah Randy akhirnya berbahagia? Kita tahu bahwa ending “The Wrestler” tak pernah menjawab hal itu. Kita hanya disuguhi bahan perenungan, bukan jawaban. Sama seperti hidup. Kita sering disadarkan oleh banyak bahan perenungan tanpa jawaban. Mungkin jawaban sebenar-benarnya baru kita temukan saat kita akan mati. Atau malah jangan-jangan, tidak akan pernah kita temukan?

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here