Waktu Baca: 3 menit

Pernahkah teman-teman mendapatkan serangan huruf P bertubi-tubi di gawainya masing-masing? Seperti agresi militer Belanda saja rasanya, kita sedang asyik sedang ngopi, tiba-tiba diberondong oleh huruf P yang membabi buta. Kalau saya sih pernah, bahkan lebih mengerikan dari itu. Suatu saat ketika sedang bangun tidur, saya mendapati ada pesan masuk yang memaki dengan kata ANJING! Sebuah sambutan hangat di pagi hari. Rasanya nganu banget ya gaessss…

Sebagai seorang admin media sosial dengan gaji UMP yang sangat “istimewa”, saya sudah akrab dengan hal tersebut. Bahkan ketika pembelajaran jarak jauh mulai diberlakukan, teror semakin meningkat. Dipikirnya laman yang saya kelola ini adalah bimbingan belajar. Sebenarnya ini seperti dua mata pedang, saat laman yang saya kelola berada pada urutan teratas di pencarian Google maka yang terjadi adalah whatsapp saya menjadi ramai didatangi warganet, khususnya anak-anak hingga remaja. Berikut saya tampilkan beberapa kutipan dari percakapan mereka. Dari yang ngegas sampai yang loss doll mulutnya. Belum lagi ketika mereka ngechat itu tanpa mengenal waktu. Tidak perlu terkejut ya.

“Woiiii…jawab pertanyaan saya dong!”

“P…P…P…jawabin soal saya dong!”

“Kamu itu BOT apa manusia, bisa bantu aku gak sih?”

“Aplikasimu jelek, aku kasih nilai jelek.”

“Goblok, tolol, gak bisa bantu jawab soal!”

Sungguh luar biasa sekali perbendaharaan kata yang mereka miliki. Tetapi percakapan dengan mereka itu sangat menyenangkan sekali. Tinggal saya balas saja demikian, percakapan anda sudah kami rekam dan kami laporkan ke pihak berwajib. Biasanya respon mereka sudah bisa ditebak. Meminta maaf sampai jungkir balik, bilang kalau sedang bikin konten prank, dan yang paling jitu adalah ngeblok whatsapp saya.

Apa yang saya ceritakan di atas bukanlah kebohongan belaka atau setiingan biar dapat viewers banyak. Sebenarnya ini semua berkaitan dengan apa yang baru saja dirilis oleh tim riset Microsoft  tentang tingkat kesopanan online. Berdasarkan laporan yang dirilis oleh Digital Civility Index (DCI) Microsoft, Indonesia menduduki peringkat terbawah di Asia Tenggara dalam urusan kesopanan online. Itu saja baru Asia Tenggara, lha kalau dunia? Lebih baik tidak usah ditanya ya.

Dalam rilis laporan tersebut, Singapura menjadi peringkat pertama untuk urusan kesopanan di dunia maya. Ya kita juga tidak perlu bertanya kenapa bisa demikian, ujungnya cuma bikin sumbatan di otak dan jantungmu. Singapura memang negara maju, beda dengan kita yang hobi jadi negara berkembang. Walau u knowlah kita berkembang ke mana juga entahlah. Singapura lagi-lagi mencontohkan kepada kita. Literasi digital tetaplah bersumber pada literasi tulisan.

Saya jadi teringat dengan obrolan dengan seorang teman. Ia merasa kewalahan dalam menanggapi pertanyaan yang dilontarkan oleh anaknya. Sekolah di Singapura mewajibkan setiap anak didiknya untuk membaca buku. Tentu yang sesuai dengan umurnya. Teman saya juga menceritakan bahwa saat liburan akhir semester perpustakaan di Singapura akan kosong melompong kehabisan buku. Berbeda dengan negara ini, hari biasa atau liburan, buku-buku di perpustakaan asyik mengobrol dengan rayap. Sampai-sampai si buku rela digerogoti oleh rayap.

Teman saya tersebut menjelaskan bahwa setelah anaknya selesai membaca semua buku, ia harus menceritakan atau presentasi tentang isi buku tersebut. Teman-teman di kelas pun akan mendengarkan dan meresponnya. Situasi yang sangat menyenangkan dan langka di negeri ini. Selain itu, di Singapura itu juga semacam ada lembaga yang setiap hari menyebarkan konten positif dengan mengingatkan warga negaranya sudah membaca atau belum. Tak lupa juga menyediakan bacaan gratis. Lembaga tersebut sebenarnya dibuat untuk dua kepentingan, meningkatkan literasi sekaligus menangkal hoax.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Negeri ini masih suka dengan semangat bonus demografi. Konon katanya, bonus demografi ini akan membuat bangsa kita makin sejahtera. Tapi kok kayaknya agak nganu ya? Wagu. Wajar saja jika tingkat kesopanan daring kita itu sangat ambyar. Tingginya tingkat pertumbuhan penduduk tidak disertai dengan upaya literasi yang memadai.

Keluarga-keluarga yang semakin banyak bermunculan disibukkan dengan pemenuhan kebutuhan. Alhasil, dulu ketika malam menjelang dan kita mau bobok, masih ada dongeng sebagai pengantar tidur. Kalau sekarang? Buat apa mendongeng, percayakan perkembangan anak kita kepada kuota dan gawai saja. Kehampaan hubungan antara orang tua dan anak inilah yang menjadi celah masuknya nilai-nilai yang tidak semestinya. Dulu, saat kita mengumpat satu kata saja rasanya sudah sangat berdosa sekali. Dunia seakan runtuh. Orang tua sudah menyiapkan “kejutan” untuk kita.

Di zaman sekarang, anak-anak tersebut menggunakan kebebasan yang ada di dunia maya untuk melakukan hal yang tidak sesuai nilai meskipun hanya mengumpat. Padahal mereka tidak menyadari bahwa jejak dunia digital itu kejam.

Faktor lainnya adalah kemalasan para orang tua untuk sedikit belajar tentang teknologi. Mereka sudah merasa paripurna dengan dunianya. Sehingga mereka memiliki anggapan bahwa anaknya sudah mampu berjalan sendiri di dunia nyata dan maya. Padahal kenyataannya tidak seperti yang dibayangkan mereka.

Uraian di atas hanya sebatas skala mikro dulu lho ya, kita ndak usah ngoyo-ngoyo bahas skala yang lebih besar. Karena kuncinya ya dari kita sendiri, keluarga! Saya jadi membayangkan jika memang benar ada polisi virtual yang nanti akan dijalankan dan mereka patroli dengan serius. Bisa saja kita membuat aduan tentang umpatan dan perbuatan tidak menyenangkan, berapa banyak anak-anak di negeri ini akan mendekam di balik jeruji. Ah makanya itu daripada ngurusin lelang jaringan 5G, lebih baik benahi dulu literasi di negeri ini. Buat apa selama ini kita selalu bangga disebut-sebut sebagai negara yang sopan dan ramah kalau di dunia maya ternyata brutal. Anjay…kan?(*)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here