Tren Autodiagnosis urusan kesehatan mental

Waktu Baca: 2 menitbelakangan ini kesadaran publik soal isu kesehatan mental makin meningkat. Orang tidak lagi malu-malu menemui psikolog untuk memeriksakan diri. Orang sudah mampu membuat indikator kebahagiaan sendiri. Orang sudah bisa mendefinisikan positive vibes dan mood booster, bisa menentukan me time, bisa menunjuk situasi toxic relationship, dan seterusnya. Istilah-istilah kesehatan mental makin populer dalam benak netizen.

15 tahun lalu, urusan kesehatan mental masih menjadi hal yang tabu dan asing. Siapa yang berkunjung ke psikolog, berarti dia punya persoalan sangat besar, atau dalam bahasa awam disebut orang sinting. Kalau tidak terpaksa sekali, tidak akan berurusan dengan psikolog, apalagi psikiater. Tetapi saat ini, kehadiran psikolog menjadi terasa makin familar, layaknya dokter umum.

Meningkatnya literasi orang terhadap isu kesehatan mental, rupanya membawa efek samping soal kebiasaan auto-diagnosis. Ketika orang merasa diri tidak sedang baik-baik saja, ia akan berusaha mencari tahu apa persoalan yang dihadapinya. Di jagad internet kita dengan mudah menemukan literatur tentang masalah psikologis, penyebab, ciri-ciri, dan solusinya. Tentu saja namanya juga jagad intenet, tidak ada kontrol dan verifikasi yang cukup untuk keabsahan informasi. Semua yang tertulis dianggap benar adanya.

Masalah dimulai ketika orang melakukan penilaian sendiri atas gejala psikologis yang ia alami. Inilah yang disebut sebagai autodiagnosis. Bisa saja orang mendaku diri sedang mengalami depresi, mengalami paranoid, bahkan mengalami skizofrenia, setelah mendiagnosis diri sendiri. Pada saat orang membaca literatur tentang suatu gejala psikologis, dalam benak  akan timbul kecenderungan  untuk cocoklogi, mencocok-cocokkan kriteria gangguan psikologi dengan keadaan diri sendiri. Tren autodiagnosis ini makin menjalar di urusan kesehatan mental. Dinamika ini tidak lepas dari kebutuhan alami tiap manusia, yang selalu ingin ada kepastian tentang segala hal. Ketika orang mengalami persoalan, orang ingin menamai persoalan tersebut. Harus ada namanya. Celakanya ketika kondisi diri tidak 100 persen cocok dengan diagnosis yang dibaca, maka proses cocoklogi dimulai. Ketika orang melakukan cocoklogi, gejala yang mestinya tidak ada, lantas diada-adakan hanya untuk meyakinkan diri bahwa dirinya bermasalah. Ini justru akan menambah keparahan persoalan.

Lalu, bagaimana langkah yang tepat untuk menghadapi persoalan psikologis dalam diri ?

Pertama, sadarilah bahwa kamu tidak sendirian. Setiap orang PASTI punya permasalahan psikologis. Kata pasti saya cetak tebal, karena memang setiap orang memiliki permasalahan psikologis. Tetapi apa permasalahannya, bagaimana perilakunya, dan seberapa tingkat keparahannya, itu bisa berbeda-beda. Orang yang merasa diri sehat mental, atau bahkan tampak sepenuhnya sehat mental, tetap akan menimbulkan kesan ‘ada masalah’ menurut pandangan orang lain.

Kedua, kamu perlu mengerti bahwa tidak setiap permasalahan psikologis itu akan menjadi gangguan psikologis. Ada kalanya permasalahan itu hanya berakhir menjadi bunga kehidupan, yang mewarnai perjalanan hidup. Tidak ada kewajiban bahwa setiap permasalahan psikologis harus selesai dan tuntas. Kalau pun banyak permasalahan psikologis dalam diri, pilihlah mana yang dirasa paling mengganggu kehidupan, itulah yang diselesaikan.

Ketiga, kamu memerlukan orang lain untuk membantu menyelesaikan permasalahan psikologismu. Mungkin fungsi orang lain adalah sekadar menjadi cermin reflektif, tetapi bisa jadi fungsi orang lain adalah benar-benar menjadi sarana pemulihan psikologis. Seberapa besar pun kemandirianmu, kamu tetap memerlukan peran orang lain.

Keempat, temuilah para profesional psikologi untuk membantumu memahami persoalan psikologis yang sedang terjadi pada dirimu. Selama kamu dibantu, kurangi sikap denial atau penyangkalan diri. Perjumpaan dengan psikolog atau psikiater, tidak selalu berakhir dengan resep obat. Kalau permasalahan psikologis yang ada dalam dirimu sifatnya ringan, maka yang diperlukan adalah sering-sering melepas beban emosi, meluruskan penalaran. Psikolog atau psikiater akan memberikan teknik latihan untuk kamu kerjakan di rumah.

Kelima, jangan lupa bersyukur dengan keadaanmu, apapun yang terjadi. Sikap syukur akan mengurangi potensi permasalahanmu bergulir menjadi gangguan psikologis.

 

Itulah 5 cara yang bisa kamu pakai untuk menghindar dari jebakan tren autodiagnosis dalam urusan kesehatan mental.

Benny Pudyastanto
Peneliti lepas untuk isu kesehatan mental di sekolah, merangkap bapak asrama anak-anak SMA

Similar Articles

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertisment

Instagram

Most Popular